Kedatangan Pertama ke Alas Purwo
Perjalananku menuju Alas Purwo awalnya merupakan bagian dari riset kampus. Topik yang kuambil berkaitan dengan vegetasi tua yang dianggap keramat oleh masyarakat sekitar. Salah satu titik yang kusasar adalah lokasi pohon randu kuno yang kabarnya sudah berusia ratusan tahun. Meskipun tugas itu tampak sederhana, warga desa memperingatkan agar aku tidak mendekati pohon tersebut pada waktu tertentu.
Namun rasa ingin tahu mengalahkan semuanya. Aku tiba di gerbang Alas Purwo saat sore menjelang malam. Cahaya matahari yang sebelumnya hangat mulai meredup, dan kabut tipis bergerak dari arah pepohonan. Meskipun suasana masih cukup terang, hawa dingin merayap seperti ingin menyelimuti kulit.
Saat melangkah ke dalam hutan, keheningan langsung menyergap. Tidak terdengar suara burung, jangkrik, atau hewan liar lain. Bahkan angin seolah berhenti bergerak. Dalam suasana setenang itu, perasaan was-was mulai tumbuh tanpa alasan jelas. Walaupun begitu, aku tetap berjalan mengikuti jejak setapak yang diarahkan pemandu hutan sebelumnya.
Pada jarak tertentu, aroma tanah basah bercampur wangi bunga randu menyeruak. Aroma itu tidak terlalu kuat, namun cukup membuatku yakin bahwa pohon randu berada tak jauh dari tempatku berdiri.
Penampakan Pohon Randu Tua
Ketika akhirnya ranting-ranting rendah terbuka, sebuah pemandangan besar muncul di depanku. Pohon randu itu berdiri begitu megah, namun menyeramkan. Batangnya besar, cabangnya terpelintir seolah pernah diterjang petir, dan akar-akarnya menjalar luas seperti tangan-tangan raksasa yang mencoba meraih tanah.
Walaupun pohon itu tampak kokoh, hawa yang keluar dari arahnya terasa menekan dada. Bahkan tanah di sekitar akar terasa lebih dingin daripada tanah lain yang baru kulalui. Saat mendekat beberapa langkah, angin kecil tiba-tiba berembus, membawa aroma wangi bercampur bau besi seperti darah. Sensasinya membuat tengkukku meremang.
Meskipun tak ada siapa-siapa, bayangan yang jatuh dari cabang-cabang pohon tampak bergerak perlahan. Mungkin karena angin. Mungkin bukan. Namun pergerakan itu terlalu teratur, seperti mengikuti ritme napas seseorang.
Saat aku mengambil gambar batang pohon dengan kamera, layar ponsel tiba-tiba menampilkan siluet seseorang berdiri di sisi pohon. Akan tetapi ketika aku menoleh, tidak ada siapa pun di sana.
Walaupun ketakutan mulai muncul, aku tetap ingin meneliti bagian akar yang disebut-sebut memiliki jejak sejarah berdarah.
Leganda Kelam Pohon Randu
Sebelum berangkat, beberapa warga desa bercerita tentang tragedi lama. Mereka mengatakan bahwa puluhan tahun lalu, seorang perempuan yang dituduh sebagai penyihir diikat pada pohon randu itu. Meskipun tuduhan itu tidak pernah terbukti, warga desa kala itu memperlakukannya dengan kejam. Perempuan itu disiksa, ditelanjangi, lalu dibiarkan mati pelan-pelan. Menurut cerita, sebelum menghembuskan napas terakhir, perempuan itu meludahkan sumpah pada pohon tersebut.
Konon, perempuan itu berkata bahwa siapa pun yang mendekat dengan hati sombong akan dilihat oleh matanya. Banyak warga desa mengaku melihat bayangan perempuan itu di sekitar pohon. Bahkan beberapa pengunjung yang tidak meminta izin sering mengalami gangguan hingga jatuh sakit atau hilang tanpa jejak.
Setelah mengetahui cerita itu, aku sempat ragu. Namun keinginan menyelesaikan laporan membuatku tetap bertahan.
Baru beberapa menit berlalu ketika angin berhenti berembus sepenuhnya. Keheningan itu membuat suara detak jantungku terdengar jelas. Dalam diam itu, suara langkah kecil tiba-tiba muncul di belakangku. Ketika aku menoleh, hanya dedaunan yang bergoyang perlahan.
Walaupun begitu, firasat buruk semakin menguat.
Suara Aneh dari Balik Akar
Ketika aku menunduk untuk memeriksa bentuk akar, suara berbisik tiba-tiba muncul dari balik batang pohon. Bisikan itu bukan suara angin, bukan suara dedaunan, dan bukan suara hewan. Ritmenya menyerupai bisikan seseorang yang menahan rasa sakit.
Setiap kata terdengar seperti ingin keluar, tetapi tertahan oleh sesuatu yang menekan tenggorokan.
Walaupun aku mencoba bergeser sedikit mundur, bisikan itu mengikuti arah gerakanku. Bahkan jaraknya terasa semakin dekat.
“Men… dek… at…”
Suaranya patah-patah, seperti berasal dari seseorang yang memaksa dirinya untuk berbicara.
Setelah suara itu mereda, ranting-ranting di atas bergerak tanpa angin. Dari sudut mata, aku melihat siluet rambut panjang tergantung dari cabang. Rambut itu melayang-layang meskipun udara di sekitarnya diam.
Saat aku menatap bagian atas pohon, rambut itu menghilang begitu saja. Akan tetapi cengkeraman rasa takut semakin kuat di dada.
Ketika Langit Mendadak Gelap
Permukaan langit yang tadinya cerah berubah dalam hitungan detik. Cahaya matahari menghilang seperti tertelan kabut. Sementara kabut turun perlahan, akar-akar pohon tampak semakin panjang dan seolah bergerak merayap ke segala arah.
Walaupun ingin segera pergi, tubuhku sulit digerakkan. Terasa seperti ada yang memerintahkanku untuk tetap berdiri. Sambil memaksa kakiku mundur beberapa langkah, suara retakan muncul dari batang pohon. Retakan itu terdengar seperti tulang patah. Dalam waktu singkat, sebuah celah terbuka di bagian tengah batang, menampakkan rongga gelap.
Dari dalam celah itu, sesuatu tampak bergerak.
Saat menatap lebih lama, bentuk itu semakin jelas. Rambut panjang keluar pertama kali, diikuti tangan pucat yang merangkak perlahan keluar dari dalam batang pohon randu.
Walaupun aku ingin lari, ketakutan membuat tubuhku membeku.
Kemunculan Sosok Perempuan Itu
Sosok perempuan itu akhirnya keluar sepenuhnya dari celah batang. Tubuhnya kurus, kulitnya pucat keabu-abuan, dan matanya tampak kosong namun penuh dendam. Rambutnya panjang hingga menyentuh tanah, dan kain putih lusuh yang dikenakannya seperti sisa kain kafan yang terbakar di ujungnya.
Walaupun wajahnya tertutup rambut sebagian, bentuk mulutnya terlihat jelas—robek di sisi kiri seperti bekas luka yang pernah dibuat manusia. Setiap langkahnya meninggalkan bekas darah di tanah.
Ketika sosok itu mendongak, suara teriakan menggema keluar dari rongga pohon. Teriakan itu bukan suara manusia. Nadanya bergulung seperti gabungan jeritan dari banyak mulut.
Ketika aku mencoba mundur, tangan perempuan itu terentang ke arahku. Ujung jarinya panjang dan tajam, seperti akar kecil yang keras. Setiap gerakan jarinya menimbulkan suara gesekan kasar.
Walau aku mencoba mengucap doa, suaraku hilang di tengah rasa takut.
Dendam yang Mencari Tumbal
Setelah sosok itu semakin dekat, getaran kecil muncul dari tanah. Akar-akar pohon randu merayap maju ke arahku. Meskipun debu berjatuhan dari cabang-cabang, sosok itu terus bergerak tanpa ragu.
Dalam keadaan terpojok, aku baru menyadari bahwa perempuan itu tidak melihatku dengan matanya. Ia melacakku melalui gerakan tanah. Setiap langkah yang kubuat, akar pohon ikut mengikuti ritme gerakan itu.
Akan tetapi, sebuah pikiran muncul bahwa mungkin ada cara untuk melarikan diri. Jika gerakan akar mengikuti getaran tanah, maka berhenti bergerak mungkin bisa membantuku. Dengan keberanian yang hampir habis, aku berdiri sepenuhnya diam. Nafas pun kutahan sedalam mungkin.
Selama beberapa detik, akar berhenti mendekat.
Namun perempuan itu justru menengok ke arahku. Meskipun matanya kosong, ia tampak mengetahui lokasi tubuhku. Senyum lebar mengembang dari wajah robeknya.
Pelarian Terakhir
Karena tidak ada pilihan lain, aku berlari sekencang mungkin. Tanah di belakangku kembali bergetar. Akar-akar itu mengejarku seperti ular panjang. Rambut perempuan itu terdengar menyeret tanah dengan cepat. Suaranya seperti desisan ribuan ular.
Ketika aku melewati batang pohon kecil, akar randu melilit pohon tersebut hingga patah. Suara retakan itu membuatku semakin panik. Jika aku melambat sedikit saja, tubuhku akan tertangkap.
Dalam kepanikan, semak tebal kulewati tanpa pikir panjang. Ranting-ranting menghantam kulit, namun rasa sakit itu tidak berarti apa-apa dibandingkan ancaman di belakang.
Setelah hampir jatuh, akhirnya aku melihat cahaya tipis di kejauhan. Cahaya itu berasal dari gapura hutan yang tadi kulalui.
Dengan seluruh tenaga yang tersisa, aku berlari menuju cahaya itu. Ketika kakiku keluar dari batas hutan, suara jeritan panjang menggema dari dalam Alas Purwo. Jeritan itu begitu keras hingga telingaku berdenging.
Setelah Semua Terjadi
Begitu keluar dari hutan, matahari tiba-tiba kembali bersinar. Udara hangat menyelimuti tubuhku. Namun ketenangan itu tidak membuatku lega. Ketika aku menengok ke arah hutan, batang pohon randu tampak samar di antara pepohonan lain. Meskipun terlihat jauh, aku merasa sosok perempuan itu masih berdiri di bawah bayangannya.
Sejak malam itu, mimpi buruk selalu datang. Di dalam mimpi, pohon randu itu selalu memanggil namaku dengan suara perempuan yang tercekik. Bahkan terkadang, ketika aku memandang jendela pada malam hari, bayangan rambut panjang tampak turun perlahan di sisi kaca.
Walaupun aku sudah meninggalkan Lombok, dendam itu terasa belum selesai.
Karena pohon itu tidak hanya menyimpan memori buruk…
Pohon itu menyimpan dendam yang mencari nama baru untuk dikorbankan.
Berita & Politik : Hubungan Diplomatik Indonesia dengan Negara-Negara ASEAN