Awal Malam Ketika Teror Dimulai
Malam itu angin berembus pelan, tetapi hawa di sekitar rumah keluarga kakek di Sumenep terasa lebih dingin dari biasanya. Aku tiba di desa itu untuk menjaga rumah sementara kakek dirawat di Puskesmas. Ketika aku menyalakan lampu teras, aku melihat kursi goyang tua yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai. Awalnya, tidak ada yang aneh. Namun beberapa menit kemudian, kursi itu bergerak pelan seakan ada seseorang duduk di atasnya.
Gerakannya sangat halus, seperti ditiup angin yang teratur. Padahal angin malam itu hampir tidak terasa. Aku mencoba mengabaikannya karena berpikir mungkin hanya efek cuaca. Akan tetapi, ketika kursi itu berhenti tiba-tiba lalu bergerak lagi dengan tempo berbeda, rasa takut mulai merayap ke dalam dadaku. Selain itu, suara gesekan kaki kursi pada lantai semen terdengar jelas, membuat bulu kudukku berdiri.
Segera setelah itu, aroma bunga sedap malam datang dari arah teras, padahal di sekitar tidak ada bunga apa pun. Aroma itu melayang lembut tetapi menyisakan sensasi dingin di tenggorokan, seperti hadirnya sesuatu yang tidak seharusnya berada di sana.
Gerakan yang Terlalu Teratur untuk Sekadar Angin
Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan menata barang-barang di ruang tamu. Namun suara dari teras terus terdengar, semakin ritmis dan semakin kuat. Ketika aku melirik dari balik jendela, kursi itu bergerak jauh lebih cepat. Pola goyangannya naik turun seperti seseorang tidak sabar menunggu kedatangan seseorang.
Walaupun aku menyadari bahaya, rasa penasaran memaksaku mendekat. Ketika aku menginjak lantai teras, gerakan kursi itu berhenti total. Seolah mengetahui keberadaanku. Tidak ada angin, tidak ada suara lain, hanya keheningan aneh yang membuat telingaku mendesis. Ketika aku menyentuh sandarannya, kayu itu terasa dingin seperti logam di tengah malam.
Begitu aku mundur dua langkah, kursi itu bergoyang cepat tanpa peringatan. Getarannya keras, membuat aku hampir berlari masuk. Namun gerakan itu berhenti lagi secara mendadak, seperti kursi itu melihatku pergi. Teror itu baru permulaan.
Kenangan Lama Tentang Penghuni Terdahulu
Ketika malam semakin dalam, aku menyalakan senter dan berkeliling rumah. Sambil berjalan, aku teringat cerita lama dari nenek tentang seorang perempuan yang dulu sering duduk di kursi goyang tersebut. Ia adalah ibu dari kakek, yang meninggal secara tidak wajar setelah jatuh dari tangga belakang rumah. Walaupun ada banyak versi yang muncul dari warga, satu cerita selalu sama: setiap malam setelah kematiannya, kursi goyang itu bergerak sendiri.
Kakek jarang membicarakan hal itu. Beliau hanya berpesan agar tidak duduk di kursi tersebut saat malam Jumat. Tetapi malam itu bukan malam Jumat, sehingga aku tidak menganggap hal tersebut sebagai larangan berarti. Namun, rasa tidak nyaman terus bertambah setelah mengenang cerita itu.
Sambil berpikir, aku berjalan ke gudang kecil di samping rumah untuk mengambil barang. Ketika aku membuka pintu, angin dingin menerpa wajahku. Bukan angin biasa, melainkan hembusan yang membawa suara lirih seperti seseorang sedang menarik napas panjang.
Suara Misterius dari Arah Beranda Belakang
Setelah menutup pintu gudang, aku mendengar sesuatu yang membuat langkahku terhenti. Suara ketukan lembut terdengar dari beranda belakang rumah. Ketukan itu perlahan berubah menjadi gesekan. Ketika aku menajamkan pendengaran, suara itu semakin jelas, seperti tangan yang mengusap dinding kayu.
Karena penasaran, aku berjalan perlahan ke arah belakang. Namun sebelum aku sampai, suara tersebut berhenti secara mendadak. Keheningannya justru membuat suasana semakin tegang. Ketika aku menyalakan senter, bayangan panjang di lantai bergerak seolah menghindar dari cahaya.
Bayangan itu bukan milikku. Ketika senter diarahkan ke sudut beranda, aku melihat kain panjang menjuntai dari udara, seperti selendang lusuh yang melayang tanpa tubuh. Namun ketika aku berkedip, kain itu menghilang seketika. Hanya kursi bambu di sudut ruangan yang bergoyang pelan.
Rasa takut meningkat, tetapi aku harus memastikan tidak ada pencuri atau binatang liar. Maka aku kembali ke teras depan, berharap kondisi lebih aman.
Kursi Goyang Mulai Bergerak Lebih Ganas
Ketika aku tiba di teras depan, gerakan kursi goyang itu berubah drastis. Goyangannya jauh lebih agresif dari sebelumnya. Kursi itu menghantam lantai dengan keras, menghasilkan suara berulang yang seakan memanggil. Walaupun aku tidak mendekat, kursi itu justru menghadap ke arahku sedikit demi sedikit.
Lampu teras berkedip pelan, dan itu membuat gerakan kursi tampak semakin tidak wajar. Untuk sesaat, aku melihat bentuk samar seperti seseorang sedang duduk di atasnya. Bahunya merosot, rambutnya panjang menutupi sebagian wajah, dan tubuhnya condong ke depan seolah mengamati dengan tajam.
Namun setiap kali aku mencoba fokus, bayangan itu menghilang dan kursi kembali tampak kosong. Meskipun demikian, aroma bunga sedap malam semakin pekat, seolah sosok itu semakin dekat.
Pertemuan Pertama dengan Sosok di Kursi Itu
Aku memutuskan masuk ke dalam rumah dan menutup semua pintu. Namun keberanianku hilang ketika suara ketukan terdengar dari daun jendela. Ketukan itu pelan tetapi terus meningkat dalam pola teratur, seperti ingin menarik perhatianku.
Begitu aku menyingkap tirai sedikit, bayangan seseorang tampak duduk di kursi goyang. Rambutnya panjang menjulur menutupi wajah. Tubuhnya sangat kurus, hampir seperti tinggal tulang terbungkus kulit. Dan meskipun angin malam tidak bergerak, rambutnya berayun pelan seakan seseorang sedang membelainya.
Aku langsung menutup tirai, tetapi suara gerakan kursi semakin cepat. Terdengar sangat dekat, seolah kursi itu merapat ke jendela rumah. Ketika aku menahan napas, langkah kaki halus terdengar di lantai kayu teras.
Rahasia Foto Lama dalam Lemari Kaca
Karena merasa terpojok, aku memutuskan mencari sesuatu yang mungkin membantuku. Dalam lemari kaca ruang tamu, aku menemukan album foto tua milik keluarga. Ketika kubuka halaman demi halaman, aku menemukan foto seorang perempuan memakai kebaya putih. Ia duduk di kursi goyang yang sama.
Nama di bawah foto itu membuatku terdiam: Raden Ayu Kasmirah—nenek buyutku.
Wajahnya tampak teduh dalam foto, tetapi matanya seakan mengarah ke sesuatu di luar bingkai. Aku baru menyadari bahwa tempat duduknya dalam foto tampak sedikit terangkat, seolah seseorang berdiri di belakangnya. Namun sosok itu tidak terlihat, hanya bayangan aneh yang bentuknya tidak lazim.
Ketika aku menyentuh foto itu, angin dingin tiba-tiba menembus seluruh tubuh. Album itu menutup sendiri dengan keras.
Kursi Goyang Bergerak Masuk ke Dalam Rumah
Saat aku menatap pintu depan, sesuatu yang membuat jantungku hampir berhenti terlihat. Kursi goyang, yang sebelumnya berada di teras, kini berada tepat di ambang pintu. Padahal pintu tertutup rapat. Goyangannya halus, namun terasa penuh ancaman.
Aroma sedap malam semakin pekat, sampai-sampai membuat mataku berair. Lampu ruang tamu berkedip deras, mengubah bayangan di dinding menjadi gerakan yang mengerikan. Ketika kursi itu bergeser perlahan ke dalam rumah, suara lirih terdengar dari kursi itu sendiri.
“Aku pulang…”
Suara itu sangat tipis, hampir seperti bisikan terakhir seseorang sebelum pergi.
Sosok Nenek Buyut yang Tidak Tenang
Kursi itu berhenti bergerak. Kemudian, dari balik bayangan, tubuh perempuan tua muncul perlahan. Rambut panjang putihnya jatuh menutupi wajah. Bajunya mirip dengan foto Raden Ayu Kasmirah yang kulihat tadi. Tubuhnya bergemetar kecil, tetapi ia tersenyum sambil menaikkan tangannya pelan.
Ketika ia melangkah maju, lantai mengeluarkan suara retak. Senyum itu perlahan berubah menjadi cekungan kosong yang menyeramkan. Ketika wajahnya terangkat sedikit, aku melihat rongga menganga tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Hanya ruang kosong hitam yang berputar perlahan.
Aku terpaku. Tubuhku tidak mau bergerak walau pikiran memerintah untuk lari.
Ritual untuk Menghentikan Gangguan
Tiba-tiba pintu samping rumah terbuka. Seorang tetua desa masuk dengan membawa dupa dan segenggam bunga melati. Tetua itu adalah sahabat kakek yang sering membantunya menjaga rumah.
Tanpa banyak bicara, ia menaburkan bunga ke depan kursi dan membaca doa. Asap dupa memenuhi ruangan. Perempuan tua tanpa wajah itu mundur perlahan sambil meraih kursi yang mulai bergetar hebat.
Kursi itu melompat sekali, lalu menghantam lantai dengan keras. Tepat setelah itu, kursi berhenti total. Sosok perempuan itu lenyap secepat bayangan ditelan cahaya.
Akhir Teror yang Masih Menyisakan Jejak
Tetua itu berkata bahwa arwah nenek buyutku telah lama menunggu seseorang untuk “menjaga kursi warisannya”. Karena kursi itu tidak pernah dirawat, arwahnya mencoba kembali menempatinya. Gangguan tadi adalah bentuk kehadirannya yang tidak tenang.
Keesokan harinya, kursi itu dibawa ke pendopo desa untuk diruwat. Setelah ritual selesai, rumah menjadi tenang kembali. Namun meskipun suasana membaik, aku masih merasa sesuatu mengawasiku dari kejauhan. Kadang-kadang, aroma sedap malam kembali muncul tanpa alasan jelas.
Dan setiap kali aku melewati teras rumah, aku selalu merasa kursi itu ingin kembali lagi. Seolah ia masih menyimpan seseorang yang belum benar-benar pergi.
Lifestyle : Inspirasi Dekorasi Rumah Minimalis untuk Hunian Nyaman