Awal Mula Perjalanan Ke Batu Hapu
Saat pertama kali aku menginjakkan kaki di Hulu Sungai Selatan, aku sama sekali tidak berniat mendekati Goa Batu Hapu. Namun, karena banyak warga bercerita tentang suara ratapan yang sering terdengar dari goa itu, rasa penasaranku justru semakin besar. Selain itu, tempat itu hanya berjarak sekitar dua kilometer dari penginapanku, sehingga aku merasa sayang jika tidak melihat langsung.
Sore hari mulai turun, dan langit berwarna jingga pucat ketika aku memutuskan berjalan menuju kawasan perbukitan. Meskipun jalan setapak cukup jelas, udara terasa berbeda—lebih dingin dari biasanya. Bahkan, pepohonan di sekitar jalan tampak seolah melengkung ke arah goa, seperti sedang memperingatkanku untuk tidak melanjutkan langkah.
Walau begitu, aku terus berjalan. Karena ingin membuktikan sendiri apakah benar ada sesuatu di goa itu atau hanya cerita yang dibumbui oleh warga sekitar.
Peringatan dari Warga Tua
Ketika aku hampir mencapai kaki bukit, seorang pria tua memanggil dari kejauhan. Rambutnya sudah memutih, dan tatapannya tajam seolah bisa menembus isi pikiranku. Ia bertanya apakah aku hendak ke Goa Batu Hapu. Setelah aku mengangguk, ia menghela napas panjang sebelum berkata, “Kalau kau mendengar suara ratapan, jangan menoleh ke arah sumbernya.”
Aku terdiam sesaat. Ucapannya terlalu spesifik untuk dianggap candaan. Kemudian ia melanjutkan, “Banyak yang penasaran seperti kamu. Tapi tidak semua kembali seperti sedia kala.”
Karena tidak ingin terlihat takut, aku berpura-pura santai. Meski demikian, kata-katanya terus bergema dalam pikiranku sepanjang perjalanan menuju mulut goa. Bahkan, angin sore yang bertiup dari arah perbukitan mulai terasa seperti bisikan halus yang memanggil namaku.
Mulut Goa yang Menelan Cahaya
Ketika akhirnya aku sampai di depan Goa Batu Hapu, hal pertama yang kulihat adalah bentuk mulut goanya yang gelap dan menyerupai mulut raksasa. Batu-batunya tampak seperti gigi tajam. Selain itu, lorong awal goa begitu hitam pekat hingga cahaya matahari tidak mampu menembusnya.
Meskipun suasana cukup menyeramkan, aku tetap melangkah masuk sambil menyalakan senter. Begitu cahaya menyentuh dinding batu, aku melihat ukiran-ukiran kuno berbentuk wajah manusia yang tampak kesakitan. Bahkan, beberapa ukiran terlihat seperti sedang menjerit dengan tangan terangkat.
Setiap beberapa langkah, suara tetesan air menggema dan membuat bayangan bergerak-gerak di dinding. Namun, semakin aku berjalan ke dalam, semakin jelas bahwa goa itu memiliki aroma lembap bercampur bau tanah tua yang seolah menyimpan banyak rahasia.
Dan kemudian, untuk pertama kalinya, aku mendengar suara ratapan itu.
Ratapan Pertama yang Menggetarkan
Awalnya suara itu pelan, seperti bisikan jauh dari lorong yang belum terjamah. Namun, secara perlahan, ratapan itu menjadi semakin panjang dan memilukan. Bahkan, nada suaranya terdengar seperti seseorang yang menahan kesakitan luar biasa.
Aku mencoba menenangkan diri, tetapi senter di tanganku bergetar. Selain itu, hawa dingin semakin menusuk hingga membuat kulit merinding. Meskipun aku bisa saja keluar dan kembali ke desa, rasa penasaran membuatku memilih untuk melanjutkan langkah.
Setiap kali aku bergerak lebih dalam, ratapan itu terdengar semakin dekat. Bahkan, gema suaranya memantul dari berbagai arah sehingga sulit menentukan sumber pastinya. Namun, aku tetap percaya bahwa suara itu berasal dari bagian paling gelap dari goa.
Lorong Pendek yang Tidak Berujung
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, aku tiba di lorong sempit yang seolah membelah goa menjadi dua sisi berbeda. Lorong itu tampak pendek, tetapi ketika aku melangkah melewatinya, seolah panjangnya bertambah. Bahkan, lantai goa terasa sedikit miring sehingga membuat langkah terasa berat.
Kemudian ratapan itu kembali terdengar—kali ini lebih jelas. Suaranya seperti seorang perempuan yang menangis tersedu-sedu sambil memohon ampun. Karena suara itu tiba-tiba bergema dari belakangku, aku refleks ingin menoleh. Namun, aku langsung mengingat peringatan pria tua tadi: jangan menoleh jika mendengar ratapan.
Aku berhenti. Nafasku tercekat. Ratapan itu kini berubah menjadi suara menarik napas panjang, seperti seseorang yang berdiri tepat di belakangku. Meskipun begitu, aku tetap menatap ke depan dengan leher kaku.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, ratapan itu menjauh.
Penemuan Jejak Tangan di Dinding
Ketika lorong mulai melebar, aku mengalihkan perhatian pada dinding goa yang tampak berbeda. Di sana terdapat jejak tangan berwarna hitam pekat yang tersusun acak. Beberapa jejak seperti menempel dengan paksa, sementara lainnya memanjang ke arah atas seolah pemiliknya berusaha merangkak.
Ketika aku menyinari salah satunya, aku melihat sesuatu yang membuatku mundur selangkah. Jejak tangan itu tampak masih basah, seakan baru ditempelkan beberapa menit lalu. Bahkan, tetesan hitam kecil masih menetes ke lantai.
Saat aku menunduk untuk melihat lebih jelas, ratapan kembali terdengar. Kali ini lebih dekat daripada sebelumnya, seperti berasal dari balik dinding batu yang menempel dengan punggungku.
Cerita Gelap Dari Masa Lalu
Karena semakin khawatir, aku memutuskan berhenti melangkah dan mulai mengingat cerita warga tua di desa. Menurut mereka, ratusan tahun lalu ada seorang perempuan yang dibawa ke goa ini untuk dijadikan tumbal. Ia konon memiliki kecantikan yang membuat para penguasa desa iri.
Karena fitnah, ia dipukul hingga pingsan dan dikurung di dalam goa. Tidak ada yang mau melepaskannya. Ketika ia sadar dan mencoba keluar, pintu goa sudah ditutup dengan batu besar. Ia menghabiskan hari-hari terakhir dengan menangis, meratap, dan memohon belas kasihan—namun tidak ada yang datang.
Meskipun akhirnya batu penutup goa runtuh dengan sendirinya saat gempa, warga menemukan tubuhnya sudah membusuk. Tetapi, yang mengerikan adalah posisi mayatnya: menghadap dinding, seolah sedang menempelkan telinga untuk mendengarkan sesuatu.
Sejak itu, warga percaya bahwa suara ratapan dari perempuan itu masih terjebak di dalam lorong goa.
Ratapan yang Berubah Menjadi Marah
Selagi aku memikirkan cerita itu, tiba-tiba ratapan pelan berubah menjadi suara teriakan marah yang menggema kuat. Bahkan, suhu udara dalam goa mendadak turun drastis. Senter di tanganku padam meski baterainya masih penuh.
Dalam kegelapan, aku hanya bisa mendengar langkah kaki yang menyeret, bergerak pelan namun teratur. Setiap langkah diikuti suara gemerisik kain basah. Seolah ada sesuatu yang menyeret tubuhnya sambil berjalan mendekat.
Karena panik, aku menyalakan senter cadangan. Ketika cahaya muncul, aku terpaku melihat dinding goa yang semula kosong kini dipenuhi simbol-simbol goresan. Bahkan, beberapa simbol tampak seperti wajah manusia yang baru saja ditorehkan dengan kuku panjang.
Sosok di Lorong Bawah
Ketika aku mencoba mencari jalan keluar, aku melihat sebuah lorong lain yang tampak baru. Lorong itu sangat sempit, tetapi suara teriakan berasal dari arah sana. Dengan sedikit ragu, aku melangkah mendekat. Namun, begitu cahaya senter menyentuh bagian dalam lorong, aku langsung membeku.
Di dalamnya, tampak sosok perempuan berdiri membelakangi arahku. Rambutnya panjang menjuntai hingga menyentuh tanah. Tubuhnya tampak pucat kebiruan, dan gaunnya robek di beberapa bagian. Namun, yang paling mengerikan adalah posisinya: ia menempelkan telinga pada dinding goa, sama seperti posisi mayat yang ditemukan ratusan tahun lalu.
Meskipun ia tidak bergerak, suara ratapan terdengar sangat jelas dari tubuhnya.
Larangan Menoleh Diuji
Ketika aku memutuskan mundur pelan-pelan, tiba-tiba perempuan itu berhenti meratap. Goa menjadi sangat hening. Bahkan suara napasku terasa terlalu keras. Setelah itu, terdengar suara patahan kecil dari tulang lehernya, seperti sedang memutar kepala.
Aku tahu ia akan menoleh. Dan aku tahu aku tidak boleh melihat wajahnya.
Karena itu, aku berlari. Namun lorong yang tadinya lurus berubah seperti berputar, seolah goa itu hidup dan ingin menutup semua jalan keluar.
Di belakangku terdengar suara langkah cepat yang tidak menyentuh tanah, seperti sesuatu melayang mengejarku.
Pintu Goa Tidak Lagi Sama
Ketika akhirnya aku melihat cahaya di ujung lorong, aku merasa lega. Namun, ketika aku keluar dari goa, pemandangan yang kulihat berbeda dari saat aku datang. Langit sudah gelap total, padahal sebelumnya masih sore. Bahkan pepohonan tampak lebih besar dan bengkok seperti sudah hidup selama puluhan tahun tanpa disentuh manusia.
Selain itu, jalan setapak tidak lagi ada. Sebaliknya, tanah ditumbuhi ilalang tinggi. Goa di belakangku mulai mengeluarkan kembali suara ratapan itu, namun kini terdengar seperti berasal dari udara tepat di samping telingaku.
Aku mencoba berlari, tetapi setiap kali aku maju beberapa langkah, pepohonan seolah mengulang posisinya. Seperti aku tidak benar-benar keluar.
Kebenaran yang Terlambat Disadari
Kemudian aku mendengar suara pria tua yang tadi memperingatiku, tetapi suaranya seperti datang dari balik kabut. “Kau menoleh dalam hati, Nak… itu sudah cukup.”
Saat itu aku baru menyadari: meski aku tidak memutar kepala, aku sempat membayangkan wajah perempuan itu. Dan itu dianggap sama dengan menoleh.
Ratapan Terakhir Yang Mengikuti
Sejak malam itu, aku tidak pernah ditemukan oleh warga desa. Namun orang-orang mengaku mendengar langkahku, napasku, bahkan jeritanku setiap kali mereka mendekati goa.
Mereka bilang kini ada dua suara:
Ratapan perempuan…
Dan teriakan seorang laki-laki yang terjebak selamanya.
Inspirasi & Motivasi : Cara Mengatasi Rasa Takut Gagal dalam Mengejar Impianmu