Senja yang Membuka Gerbang Cerita
Senja di Bone selalu memiliki warna yang berbeda, cenderung lebih tua, lebih muram, dan cahayanya seperti tenggelam lebih cepat dari tempat lain. Pada awalnya, aku mengira hanya perasaan berlebihan, tetapi lama-kelamaan aku menyadari bahwa ada sesuatu di udara yang terasa lebih padat. Oleh karena itu, ketika kabar tentang gangguan di kuburan tua Desa Pakkasalo tersebar, sebagian orang memilih menutup pintu sebelum magrib. Meski demikian, rasa ingin tahuku justru semakin besar, dan akhirnya, aku memutuskan untuk datang sendiri.
Sejak langkah pertamaku menuju pemakaman itu, tanahnya terasa aneh—lebih lembap, meskipun musim kemarau sudah berjalan enam minggu. Selain itu, bau humus dan genangan air seperti tidak pernah menguap dari tanahnya. Ketika kaki pertamaku menginjak area gerbang bambu yang mulai rapuh, suara gesekan pasir lembap langsung menyambut. Saat itulah aku pertama kali merasa, ini bukan sekadar kuburan biasa. Ini tempat yang hidup dengan caranya sendiri. Dan tanpa kusadari, dari sinilah legenda tangan penuh lumpur mulai menempel di pikiranku.
Kuburan yang Tidak Pernah Kering
Orang-orang desa sering berkata bahwa kuburan itu “tidak pernah minum matahari.” Maksudnya, sekalipun panas menyengat berhari-hari, permukaan tanah di sana selalu tampak seperti habis diguyur hujan. Bahkan, ketika aku menunduk untuk menyentuhnya, jariku langsung berlumur lumpur dingin, seperti menyentuh dasar sungai di subuh hari. Anehnya lagi, tanah itu punya jejak cekungan yang seperti bekas cengkraman jari, seolah ada sesuatu yang sering “menggenggam” bumi dari bawah.
Meski aku mencoba berpikir logis, fenomena ini terlalu terstruktur untuk disebut kebetulan. Lalu, ketika angin sore berputar tidak sesuai arah musim, bulu kudukku mulai bangkit. Sementara itu, burung-burung yang tadinya hinggap di dahan asam langsung beterbangan tanpa suara, bukan berkicau, bukan memperingatkan, hanya pergi… seperti paham sesuatu yang tidak semestinya mereka saksikan.
Cerita dari Bibir yang Berat Mengucap
Sebelumnya, kepala dusun bernama Pak Rauf pernah berpesan, “Kalau kau dengar tanah seperti mendesah, jangan berhenti.” Awalnya aku kira itu sekadar metafora. Namun, rupanya bukan kiasan. Karena ketika aku berdiri di tengah deret nisan yang miring seperti gigi tua, telingaku menangkap suara rendah—mirip embusan napas, tapi lebih berat, lebih basah, dan berasal dari bawah kakiku.
Untuk memastikan aku tidak salah dengar, aku menempelkan telapak pada tanah. Tidak lama kemudian, getaran kecil menyusul. Sebab itu, aku mulai menyadari, kuburan ini bukan diam. Ia bernafas.
Pergeseran Tanah dan Awal Mula Penampakan
Langit perlahan berubah oranye gelap, setelah itu ungu pekat, dan akhirnya hitam. Pada detik yang sama saat kelelawar pertama muncul, aku melihat gundukan tanah kecil di antara dua makam menggeliat. Mulanya, kukira hanya hewan tanah. Akan tetapi, gundukan itu membesar, seolah ada telapak tangan yang mendorong tanah dari bawah. Lalu, lima lekukan jari terbentuk, dan sesaat berikutnya, sebuah tangan naik, perlahan, berlapis lumpur pekat yang menetes seperti cat oli.
Saat itulah aku tahu, ini bukan mitos. Ini tangan penuh lumpur.
Aku mundur satu langkah. Tetapi, tanah di belakangku justru ikut melunak, seolah menyiapkan ruang berikutnya. Karena itu, aku paham aku tidak bisa sembarangan lari. Jika panik, aku bisa saja terperosok ke bagian tanah yang “belum padat”.
Tangan itu tidak berhenti. Ia meraih sesuatu—udara, kenangan, atau mungkin calon korban berikutnya.
Bisikan yang Tidak Menggunakan Suara
Selanjutnya yang terjadi bukan jeritan, bukan raungan, melainkan sensasi bisikan langsung di belakang pikiran, tanpa medium suara.
“Jangan pergi.”
Kata-kata itu tidak terdengar, tapi terasa. Seperti kesedihan yang menempel tiba-tiba, tanpa sumber. Aku merasakan dorongan aneh untuk menunduk, untuk meraih tangan itu, untuk “membantu keluar.” Seolah ada bagian dari diriku yang merasa iba. Namun, untungnya, bagian logis dalam diriku masih menyala.
Karena jika aku menyentuhnya, besar kemungkinan tangan itu yang menarikku masuk, bukan sebaliknya.
Jejak yang Menyeret, Bukan Melangkah
Ketika aku memaksakan diri bergerak ke kanan, tanah kembali bergeser. Tetapi kali ini, bukan gundukan—melainkan garis seret panjang, seperti ada tubuh yang ditarik pelan dari bawah menuju permukaan.
Aku menahan napas.
Garis itu berhenti tepat di ujung sepatu kiriku.
Kemudian, dengan kedutan lambat, lima jari lagi muncul. Tetapi tidak menegak. Jari-jari itu justru menekuk dan mencengkeram tanah, seolah mempersiapkan tenaga untuk menarik sesuatu ke bawah.
Pada saat itu, aku nyaris kehilangan kendali. Namun, aku ingat satu hal yang pernah dikatakan nenekku semasa kecil:
“Yang menarikmu ke bawah, tidak pernah melihatmu sebagai manusia.”
Kalimat itu menjadi rem darurat yang menyelamatkan pikiranku agar tidak hanyut.
Suara Orang yang Tidak Pernah Bicara Lagi
Meskipun aku tidak ingin menciptakan narasi tambahan, suara di kepalaku berubah menjadi perempuan, lirih, rapuh, seperti menangis, tetapi tanpa nada air mata. Sementara itu, tanah kembali berdenyut, pelan, ritmis, seperti jantung yang terlalu lama terkubur.
Lalu, aku mendengar nama.
Nama yang bukan milikku, tetapi diucapkan seolah aku yang harus menjemputnya.
Makam dengan Cerita yang Setengah Ditelan
Karena rasa ingin tahu yang kembali menang, aku membaca ukiran di batu nisan terdekat. Nama yang tertulis hampir hilang dimakan lumut. Namun, kombinasi hurufnya mirip dengan nama yang “terucap” di kepalaku.
Tanggal wafatnya: 1987.
Usia: 19 tahun.
Penyebab: tak tercatat.
Tidak ada keterangan lain. Bahkan keluarga pun tidak menorehkan pesan. Seolah orang ini tidak pergi… hanya dipindahkan.
Lumpur sebagai Tanda Kepemilikan
Tanah kembali retak, lalu tangan pertama menggeliat lagi, lebih tinggi, kini sampai pergelangan. Lumpur yang melapisinya mulai menetes dan membentuk huruf di permukaan tanah.
Bukan kalimat. Bukan nama.
Tapi satu kata:
“Tinggal.”
Pada detik itu, aku merasakan peringatan, bukan ancaman.
Karena itu, aku tidak menganggap momen ini sebagai ajakan, melainkan permohonan.
Ritual yang Hampir Hilang Ditelan Modernitas
Ternyata, masyarakat Bone dahulu pernah melakukan ritual “mappasitangga”—ritual menguatkan batas antara yang masih berjalan di bumi dan yang seharusnya tetap di perut tanah. Ritual itu menggunakan garam kasar, sabut kelapa, dan air batang pisang yang dituangkan melingkar.
Akan tetapi, karena dianggap kuno dan tidak lagi relevan, ritualnya ditinggalkan. Seiring itu pula, kuburan tua kehilangan “penjaga batasnya.”
Dan ketika batas hilang, beberapa hal tidak lagi tahu di mana tempatnya.
Titik Balik yang Menentukan
Aku tidak bisa menyelamatkan roh, tidak bisa bicara pada dunia yang bukan bagianku. Namun, aku bisa mengembalikan batas.
Maka, dengan tangan gemetar, aku membuat lingkaran garam seadanya dari sisa bekal kameraku (garam mie instan), bukan karena ideal, tetapi karena itu satu-satunya “penanda batas” yang saat itu kumiliki.
Lalu, aku menancapkan ranting sebagai “tonggak”, sambil berkata pelan:
“Ini batasmu. Ini batas kami.”
Bukan doa. Bukan mantra.
Hanya keputusan kosmis paling sederhana: kamu di sana, aku di sini.
Ketika Kuburan Memilih Diam Lagi
Perlahan, tanah berhenti mendesah. Retakan mengatup. Jari-jari itu menggeliat surut, lalu menghilang kembali ke perut bumi. Tidak ada suara dramatis, tidak ada teriakan, tidak ada gemuruh.
Hanya senyap yang kembali menyusun dirinya.
Namun, sebelum semuanya benar-benar tenang, aku merasakan satu “impuls” terakhir dalam pikiranku, bukan suara:
“Terima kasih. Jangan kembali sendirian.”
Epilog: Kuburan yang Masih Basah
Kini, setiap orang yang melewati kuburan tua Bone akan melihat lingkaran kecil yang tersisa—tidak utuh, mulai tersapu hujan, tetapi masih cukup jelas bagi mereka yang paham bahwa itu bukan dekorasi.
Tanah di sana masih lembap sampai sekarang.
Tapi setidaknya, ia tidak lagi “memanggil.”
Dan aku?
Aku tidak pernah kembali sendirian.
Karena beberapa tempat, meskipun sunyi, tidak pernah benar-benar kosong.
Terutama di kuburan yang mengingat siapa saja yang pernah menyentuh tangan penuh lumpur.
Lifestyle : Cara Mengatur Keuangan Pribadi agar Tetap Stabil dan Aman