Arwah Pedagang Kopi Mengintai Di Terminal Purwokerto

Arwah Pedagang Kopi Mengintai Di Terminal Purwokerto post thumbnail image

Terminal yang Tak Pernah Sepi

Malam di Terminal Purwokerto selalu terasa hidup, meskipun kesibukan manusia telah reda. Suara bus yang menderu masih terdengar, diselingi siulan sopir dan bau asap rokok yang menggantung di udara. Di salah satu sudut terminal, berdiri sebuah warung kopi tua yang tampak sederhana. Dari kejauhan, cahaya lampu minyak tampak bergetar di antara kabut asap kendaraan.

Rudi, seorang sopir bus malam lintas Jawa, baru saja menepi setelah menempuh perjalanan panjang. Ia merasa haus, lalu memutuskan untuk mampir ke warung kecil itu. Saat ia melangkah, hujan rintik mulai turun, membuat suasana semakin sunyi.

Seorang pria tua dengan peci lusuh menyambutnya. “Silakan duduk, Nak. Masih ada kopi panas,” katanya lembut. Rudi mengangguk dan duduk di bangku kayu. Kemudian, aroma kopi pekat segera memenuhi udara. Ia menyeruputnya perlahan, namun rasa pahit yang aneh langsung menyentuh lidahnya — seolah ada rasa besi di dalamnya.

Rudi memandangi tangan penjual itu. Kulitnya sangat pucat, bahkan hampir biru. Namun karena kelelahan, Rudi menepis pikiran aneh itu. Ia hanya ingin menenangkan diri sejenak.


Cerita dari Sopir Lama

Keesokan harinya, ketika pagi menembus kabut terminal, Rudi berkumpul bersama para sopir lainnya di pos jaga. Mereka berbagi cerita sambil menunggu giliran jalan. Saat Rudi menyebut warung kopi yang ia datangi semalam, suasana mendadak berubah hening.

“Warung itu?” tanya Darto, sopir senior yang sudah dua puluh tahun mangkal di terminal itu. “Bukannya warung itu sudah kebakar tiga tahun lalu?”

Rudi tertegun. “Tapi aku barusan minum di sana. Masih ada bapak tua yang jualan.”
Darto menggeleng perlahan. “Nama bapak itu Karmin. Dia dulu pedagang kopi legendaris di terminal ini. Tapi dia mati terbakar di warungnya sendiri. Orang bilang, arwahnya masih suka muncul—mencari orang yang mau mendengar kisah terakhirnya.”

Mendengar itu, Rudi merinding. Ia tak percaya, namun bagian dalam dirinya mulai goyah. Ia masih ingat jelas rasa kopi pahit yang seolah tertinggal di tenggorokannya.


Malam Kedua yang Mengguncang

Malam berikutnya, Rudi terpaksa singgah lagi di terminal yang sama. Sementara angin malam berembus dingin, ia mencoba menahan kantuk. Namun, aroma kopi kembali menyeruak dari arah yang sama. Penasaran, ia menoleh — dan di ujung lorong, warung itu berdiri lagi.

Lampu temaram bergoyang pelan, dan di balik meja tampak sosok yang sama, dengan senyum yang sama. “Datang lagi, Nak?” suara itu terdengar serak, tapi ramah. “Kopi panas masih ada.”

Rudi menelan ludah. Ia ingin pergi, tapi langkahnya justru menuntunnya maju. “Boleh,” jawabnya perlahan. Setelah duduk, ia memperhatikan sekitar. Anehnya, terminal yang biasanya ramai kini sunyi total. Tidak ada bus lewat, tidak ada suara manusia.

Kemudian, Pak Karmin menuangkan kopi dari termos logam tua. “Kopi ini diseduh dengan kenangan,” katanya. Saat uap panas naik, Rudi melihat sesuatu di permukaannya — wajah seorang pria yang berteriak di tengah kobaran api.

Tiba-tiba, lampu padam. Suara api dan tangisan terdengar bersahutan. Rudi menjerit, namun ketika ia membuka mata, warung itu telah menghilang. Di tangannya hanya tersisa cangkir retak yang masih hangat.


Jejak Kebakaran

Keesokan harinya, rasa penasaran mendorong Rudi untuk mencari tahu. Ia menemui penjaga terminal yang sudah tua. “Pak, saya ingin tahu tentang kebakaran di sini dulu,” tanyanya dengan nada ragu.

Penjaga itu menatap jauh ke arah bekas warung. “Tiga tahun lalu, Pak Karmin dibakar hidup-hidup oleh preman terminal. Katanya, mereka marah karena tidak diberi uang setoran. Api menyebar cepat, dan dia terjebak di dalam. Setelah itu, tidak ada yang berani buka warung di sana lagi.”

Rudi terdiam lama. “Lalu, preman itu?”
Penjaga itu menunduk. “Satu per satu mati dengan cara aneh. Ada yang tertabrak bus, ada yang terbakar di rumahnya, dan ada yang ditemukan gosong di dalam mobil. Orang bilang, arwah pedagang kopi itu menuntut balas.”

Kata-kata itu menancap dalam benak Rudi. Ia tahu malam ini, ia harus kembali ke sana — bukan karena berani, tapi karena merasa harus menuntaskan sesuatu.


Api yang Kembali Menyala

Malam berikutnya, terminal tampak lebih sepi dari biasanya. Rudi berjalan menuju ujung lorong di mana warung itu dulu berdiri. Meski tak ada cahaya, ia bisa mencium aroma kopi kuat yang menggoda hidungnya. Perlahan, ia menyalakan senter.

Cahaya itu menyorot papan tua yang gosong di satu sisi. Tiba-tiba, sesuatu bergetar di tanah. Dari celah lantai retak, muncul percikan api kecil yang menjalar cepat. Dalam sekejap, warung itu muncul kembali, seolah bangkit dari abu.

Pak Karmin berdiri di tengahnya, dengan wajah gosong di satu sisi namun senyum lembut di sisi lain. “Terima kasih sudah datang lagi, Nak,” katanya. “Aku butuh seseorang untuk menyaksikan kebenaran.”

Rudi mundur setapak. “Aku tak mengerti.”
“Saksikan.”

Tiba-tiba, dinding warung menyala merah. Bayangan tiga pria muncul di dalam kobaran api, menjerit seolah terbakar ulang. Rudi menyaksikan semuanya, sementara udara bergetar oleh panas yang tak seharusnya ada. Setelah itu, api padam mendadak, meninggalkan hanya debu dan aroma gosong.

Pak Karmin menatap Rudi. “Sekarang kau tahu kenapa aku tak bisa pergi.”


Dendam yang Belum Usai

Setelah kejadian itu, Rudi tak pernah bisa melupakan malam itu. Setiap kali ia melewati Purwokerto, aroma kopi gosong selalu mengikuti. Bahkan di dalam bus, sesekali ia melihat bayangan pria tua duduk di kursi belakang dengan termos di tangan.

Suatu malam, ia menemukan secangkir kopi di dashboard busnya. Uapnya beraroma kuat, dan di bawah gelas tertulis dengan spidol merah: “Untuk sopir yang berani melihat api.”

Rudi menggigil, namun ia tak menyentuh kopi itu. Ia tahu, arwah pedagang kopi masih menunggu di antara kabut terminal, mencari jiwa lain yang mau mendengar kisahnya.


Terminal yang Dihantui

Beberapa bulan kemudian, banyak sopir lain mulai mengalami hal serupa. Beberapa mengaku melihat warung yang tiba-tiba muncul di tengah malam, lengkap dengan aroma kopi dan suara seduhan. Namun begitu didekati, warung itu lenyap.

Ada juga yang bersumpah melihat sosok pria tua berpeci duduk di bangku terminal saat hujan turun, menggenggam termos logam dan tersenyum samar. Kadang, ia menawarkan secangkir kopi pada siapa pun yang menatapnya terlalu lama.

Namun mereka yang menerima tawaran itu selalu jatuh sakit esok harinya — sebagian bahkan hilang tanpa jejak. Sejak itu, para sopir membuat aturan tak tertulis: jangan pernah meminum kopi di terminal setelah tengah malam.


Akhir yang Tak Benar-Benar Usai

Suatu dini hari, seorang sopir muda melaporkan melihat warung yang sama. Ia menggambarkan sosok penjualnya persis seperti cerita Rudi. Ketika petugas datang, hanya ada tanah basah dan bau kopi yang pekat.

Di tengah tanah itu, ditemukan termos logam tua dengan tulisan terbakar di sisinya: “Api tak memadamkan rasa.”

Kini, legenda arwah pedagang kopi menjadi cerita turun-temurun di kalangan sopir Purwokerto. Beberapa percaya ia sudah tenang, namun banyak yang yakin bahwa ia masih mengintai — menunggu seseorang yang mau menemaninya menyeruput kopi di antara kabut, hujan, dan kenangan yang tak pernah padam.

Jadi, jika kau lewat Terminal Purwokerto tengah malam nanti dan mencium aroma kopi kuat tanpa tahu sumbernya, berhentilah sejenak. Tapi jangan pernah menoleh ke belakang, karena bisa jadi arwah pedagang kopi itu sedang berdiri di sana, menatapmu sambil tersenyum dengan wajah gosong dan mata menyala merah.

Food & Traveling : Makanan Berbumbu Kacang yang Jadi Primadona Nusantara

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post