Jerit dari Gudang Kapal Tua Pelabuhan Makassar

Jerit dari Gudang Kapal Tua Pelabuhan Makassar post thumbnail image

Senja di Ujung Dermaga

Langit Makassar berubah jingga saat matahari perlahan turun ke laut. Pelabuhan Paotere mulai sepi, menyisakan bau asin dan derit tali tambang yang menua bersama waktu. Namun, di antara kapal kayu besar dan jaring-jaring nelayan yang menggantung, berdiri sebuah bangunan tua di tepi barat dermaga—gudang yang dikenal penduduk sebagai tempat yang “tak lagi ingin disentuh.”

Empat pemuda lokal, Farhan, Ical, Dewa, dan Nisa, datang bukan untuk berlayar, melainkan untuk membuat konten dokumenter bertema tempat bersejarah. Farhan, yang paling berani, menatap papan kayu berlumut bertuliskan angka “1917” di atas pintu gudang. “Inilah bekas gudang rempah VOC,” katanya. “Katanya, di sinilah dulu kapal terakhir Belanda karam karena pemberontakan.”

Ical menyalakan kamera, sementara angin membawa aroma besi berkarat dan amis laut. Meskipun langit masih menyisakan cahaya, bayangan bangunan itu tampak menelan senja. Dan di sela deru ombak, samar-samar terdengar jerit dari gudang kapal tua—pendek, tercekik, seperti napas terakhir seseorang yang tertahan di tenggorokan.


Riwayat Kelam Kapal yang Tenggelam

Beberapa pelaut tua di Paotere menyebut gudang itu “tempat kembalinya nyawa yang ditinggalkan laut.” Pada masa kolonial, gedung itu menjadi tempat penyimpanan muatan kapal Belanda Van der Lucht sebelum berangkat menuju Ternate. Namun, pada malam keberangkatan, kapal itu terbakar di tengah laut dan tenggelam bersama seluruh awaknya.

Menurut cerita, seorang gadis lokal bernama Ramlah bekerja di pelabuhan itu sebagai juru cuci. Ia dituduh sebagai penyebab kebakaran karena menyalakan lampu minyak di dekat tong bahan bakar. Ia disiksa lalu dikurung di dalam gudang sebelum kapal berangkat. Ironisnya, kapal yang menuduhnya terbakar lebih dulu, dan Ramlah mati di tempat yang sama—di gudang itu, sendirian, dengan jerit terakhir yang tidak pernah berhenti menggema.

Sejak saat itu, nelayan Makassar jarang mendekat setelah matahari tenggelam. Namun, rasa ingin tahu Farhan dan kawan-kawan lebih kuat dari ketakutan lama.


Pintu yang Enggan Terbuka

Ketika senja benar-benar habis, mereka berdiri di depan pintu besar yang terkunci rantai karat. “Seharusnya kunci ini tak bisa dibuka,” kata Nisa lirih. Tapi Dewa sudah membawa linggis kecil. Dengan sedikit tenaga, gembok tua itu terlepas, dan pintu bergeser pelan dengan suara berderit panjang.

Aroma busuk menyeruak, seperti kayu basah dan bangkai ikan yang membusuk. Senter mereka menembus kegelapan, memperlihatkan ruangan besar penuh peti kayu pecah dan tali tambang kusut. Beberapa papan lantai lapuk, dan di sudutnya tergantung jaring nelayan yang membentuk siluet manusia menggantung.

“Tempat ini seperti kapal yang menua di darat,” ujar Ical sambil merekam sekeliling. Namun, kamera yang baru menyala langsung mati sendiri. Saat ia menepuk-nepuk bodinya, suara langkah berat terdengar dari dalam ruangan—satu, dua, lalu berhenti.

Dewa tertawa gugup. “Mungkin kucing.” Tapi Farhan menyorot ke arah suara. Di sana, di antara peti tua, terlihat bayangan panjang yang berdiri diam tanpa kepala, namun dengan tangan yang masih menggenggam sesuatu yang berkilat di cahaya senter.


Napas yang Tidak Milik Mereka

Udara di dalam gudang semakin berat. Lantai basah, dan setiap langkah meninggalkan jejak hitam seperti minyak. Nisa memegang tangan Farhan. “Kita keluar saja,” pintanya. Tapi Farhan masih ingin merekam, meyakinkan diri bahwa semua hanya permainan cahaya.

Mereka berkeliling. Di dinding belakang gudang terdapat ukiran tanggal dan tanda berbentuk jangkar. “Mungkin bekas penanda kapal,” kata Dewa. Namun, Ical melihat sesuatu di bawah ukiran itu—cap tangan kecil berwarna merah kecokelatan, masih basah seperti baru dibuat.

Kemudian, tanpa angin, tali tambang yang tergantung di langit-langit berayun pelan. Suara berat seperti seseorang menghela napas panjang menggema dari atas. Mereka menoleh bersamaan, dan di balok kayu tertinggi, tergantung sesuatu yang menyerupai tubuh wanita dalam posisi terikat. Gaunnya koyak, rambutnya panjang, menutupi wajahnya.

Suara Ical pecah, “Farhan, ayo pergi!” Namun, sebelum langkah mereka berbalik, suara perempuan itu terdengar—lirih tapi jelas, seolah berbisik tepat di telinga mereka:
“Dia yang membakar kapal itu bukan aku.”


Jerit yang Membelah Laut

Senter Nisa jatuh dan padam. Dalam kegelapan, langkah mereka kacau. Peti-peti tua roboh satu per satu, seperti ada sesuatu yang berjalan di antara mereka. Jerit pertama terdengar lagi, kali ini panjang dan menusuk, membuat semua burung camar di luar gudang terbang serentak.

Mereka berlari menuju pintu, tapi pintu itu kini tertutup rapat, rantai kembali terikat seolah belum pernah dilepaskan. Dewa menariknya sekuat tenaga, namun besi itu seperti membatu. Di tengah panik, Ical menyorot ke arah tengah ruangan—di sana, muncul bayangan perempuan mengenakan baju putih lusuh dengan mata menyala merah samar.

Dari bibir yang robek, keluar kalimat bergetar: “Kau tahu apa yang mereka lakukan padaku?”

Tanpa menunggu jawaban, bayangan itu melangkah maju, menyeret kakinya yang berdarah, meninggalkan jejak menuju Farhan yang berdiri paling dekat dengan dinding. Ketika jarak mereka tinggal satu meter, jeritan panjang itu menggema lagi, kali ini seperti datang dari dasar laut.


Rahasia di Balik Lantai Kayu

Mereka berlima akhirnya menembus pintu setelah beberapa kali mencoba. Di luar, udara malam terasa seperti paru-paru pertama setelah tenggelam. Namun, Farhan tidak ikut keluar. Nisa menoleh dan melihatnya masih berdiri di dalam, menatap lantai yang basah dengan tatapan kosong.

Ketika mereka memanggil, Farhan menjawab pelan, “Ada sesuatu di bawah.” Ia menunjuk lantai yang retak di tengah ruangan. Meskipun ketakutan, Ical dan Dewa kembali masuk. Bersama-sama, mereka mencongkel papan kayu dengan linggis.

Di bawahnya, mereka menemukan tulang belulang manusia terikat tali, dan di antara tulang-tulang itu, ada kalung perak dengan liontin berbentuk jangkar. Farhan mengambilnya tanpa berpikir. Namun, saat ujung jarinya menyentuh liontin itu, seluruh ruangan bergetar keras.

Suara jerit itu kembali, kali ini lebih dekat dan memekakkan telinga. Dinding bergetar, dan air laut merembes dari celah-celah lantai. Di luar, gelombang pasang tiba-tiba naik, menghantam sisi gudang dengan keras.


Ombak Membawa Kembali yang Hilang

Mereka berlari keluar dengan sisa tenaga. Namun, begitu tiba di dermaga, air laut mulai menggenangi kaki mereka. Ombak naik terlalu cepat untuk malam setenang itu. Di kejauhan, kapal tua nelayan bergoyang seperti boneka kertas.

Farhan memegang kalung itu erat, sementara Nisa menatap laut dengan ketakutan. “Buang saja!” jeritnya. Namun, sebelum ia sempat, sesuatu menyeret Farhan ke belakang—bayangan perempuan dari gudang muncul di air, setengah tubuhnya sudah menyatu dengan gelombang.

“Bukan aku pembakar kapal itu,” bisiknya lagi, “tapi aku yang tenggelam bersamanya.”

Farhan berteriak, kalung itu jatuh ke air, dan bayangan itu menghilang bersama buih laut. Ombak mereda perlahan, seolah tidak pernah marah. Hanya sisa kalung yang mengapung di permukaan sebelum tenggelam perlahan ke dasar.


Fajar di Atas Pelabuhan

Pagi datang dengan warna perak. Polisi pelabuhan menemukan empat anak muda lemas di tepi dermaga, dengan gudang tua di belakang mereka kini separuh terendam air. Tidak ada tanda Farhan, kecuali kamera rusak yang ditemukan di tumpukan jaring.

Ketika mereka memutar ulang rekaman dari kamera itu, hanya satu bagian yang masih utuh: adegan Farhan berjalan di dalam gudang sambil berbicara sendiri. Di belakangnya, bayangan perempuan itu berjalan mengikuti setiap langkah, namun tidak pernah menampakkan wajah.

“Dia bukan legenda,” kata Dewa kemudian. “Dia korban yang tak dimakamkan.”


Setelah Semua Berlalu

Beberapa minggu setelah kejadian, pemerintah memutuskan menutup area gudang dengan pagar baru. Namun, setiap kali angin laut bertiup dari arah barat, nelayan mendengar suara jerit pendek di antara ombak—jerit dari gudang kapal tua yang kini sudah tenggelam separuh ke dalam air asin.

Penduduk percaya, roh Ramlah akhirnya bersatu dengan kapal Van der Lucht yang hancur di dasar laut. Namun, ada yang bilang, jika malam sangat sunyi, lampu kapal tua kadang tampak berkedip di kejauhan, seperti tanda seseorang yang masih mencari keadilan di laut yang tak pernah tidur.

Nisa kini jarang ke pelabuhan. Tapi setiap kali hujan turun dan suara peluit kapal menggema, ia teringat wajah Farhan dan jerit itu—jerit yang memisahkan dunia hidup dan mati hanya dengan sehelai ombak.


Epilog: Laut yang Tidak Pernah Lupa

Beberapa nelayan tua bersumpah pernah melihat kapal tanpa awak melintas diam di dekat Paotere menjelang subuh. Kapal itu tidak meninggalkan riak, hanya cahaya lampu kuning redup yang berayun pelan di kabut laut.

Dan ketika mereka menatap lebih dekat, dari dek kapal itu terdengar suara perempuan bernyanyi dalam bahasa Bugis lama—suara yang diakhiri dengan jeritan panjang, teredam ombak namun tetap memecah sunyi.

Kini, pelabuhan Makassar tetap hidup dengan kapal modern, tawa nelayan, dan suara mesin, tetapi di antara gemuruhnya, masih ada satu bisikan yang tak hilang: suara Ramlah, yang terus memanggil dari kedalaman, agar dunia mengingat bagaimana api, laut, dan manusia bisa menyalakan kutukan yang tidak akan pernah padam.

Kesehatan : Perubahan Iklim Ancam Populasi Penyu di Pantai Selatan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post