Awal Kengerian di Batu Bagonjong
Di balik perbukitan kecil di Sumatera Barat, berdiri kompleks pemakaman tua yang dikenal dengan nama kuburan Batu Bagonjong. Batu nisan di sana menjulang runcing menyerupai atap rumah adat Minangkabau. Penduduk jarang berani melewati tempat itu setelah senja, sebab kabarnya, dukun santet kerap menggunakan lokasi itu untuk melakukan ritual gelap.
Malam itu, hujan turun deras. Seorang gadis muda bernama Rika menumpang di rumah neneknya yang berjarak beberapa ratus meter dari kompleks kuburan. Ia tak tahu bahwa malam itu menjadi awal dari mimpi buruk panjang yang menunggu di balik gelapnya hutan bambu.
Pertemuan Tak Sengaja
Sekitar pukul sebelas malam, Rika terbangun karena suara aneh dari arah luar rumah. Seperti ada seseorang sedang membaca mantra. Suaranya berat dan bergetar, bercampur dengan deru angin malam. Ia mengintip dari jendela dan melihat cahaya merah kecil berkelap-kelip di kejauhan.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Ia mengenakan jaket, lalu berjalan keluar diam-diam. Suara mantra itu semakin jelas, berpadu dengan aroma dupa dan bau anyir darah ayam.
Di tengah hujan, ia melihat seorang pria tua mengenakan jubah hitam sedang duduk bersila di depan batu besar berbentuk gonjong. Di sekelilingnya, lilin merah menyala berbaris melingkar. Pria itu bukan orang asing. Ia mengenali wajahnya—Pak Datuk, dukun terkenal di desa sebelah, yang kabarnya mempraktikkan ilmu hitam.
“Ya roh leluhur… aku persembahkan tubuhnya malam ini,” ucap sang dukun dengan suara berat.
Rika menahan napas. Di hadapan Pak Datuk, tergeletak boneka jerami dengan sehelai rambut perempuan yang melilit di lehernya.
Kutukan yang Menyebar
Tiba-tiba, Rika terpeleset di tanah becek dan mengeluarkan suara kecil. Sang dukun santet langsung menoleh tajam. Tatapannya menusuk, dan dari mata tuanya terpancar cahaya merah samar.
“Siapa di sana?” serunya parau.
Rika berlari secepat mungkin menuju rumah. Ia merasa sesuatu mengejarnya. Sesekali terdengar bisikan di belakang, “Kau telah melihat apa yang tak seharusnya.”
Begitu tiba di rumah, tubuhnya menggigil hebat. Ia menutup pintu rapat-rapat, tapi dari celah jendela, ia masih melihat sosok Pak Datuk berdiri diam di antara hujan. Wajahnya basah, namun senyum menyeramkan tersungging di bibirnya.
Gejala Aneh di Tubuh Rika
Keesokan paginya, tubuh Rika terasa lemas. Saat bercermin, ia melihat matanya menghitam dan ada bercak kebiruan di lehernya. Setiap malam, ia bermimpi melihat boneka jerami yang terbakar perlahan, dan dari dalamnya muncul sosok perempuan tanpa wajah yang memanggil namanya.
Neneknya memanggil seorang ustaz kampung untuk memeriksa. Begitu ustaz melihat ke arah kamar Rika, ia langsung merapal doa dengan wajah tegang.
“Ini bukan penyakit biasa,” katanya pelan. “Ada santet yang ditujukan langsung padanya.”
Ritual di Kuburan Batu Bagonjong
Malam berikutnya, Rika tak tahan lagi. Suara bisikan makin keras di telinganya, seolah memanggilnya keluar rumah. Kakinya bergerak sendiri menuju kuburan Batu Bagonjong, seakan ada kekuatan tak terlihat yang menuntun langkahnya.
Langit tampak muram, dan kilat sesekali menyambar di kejauhan. Ketika sampai di tempat itu, Pak Datuk sudah menunggunya. Di depannya, ada mangkuk berisi darah ayam hitam dan bunga tujuh rupa yang mengapung di permukaannya.
“Akhirnya kau datang juga,” ucapnya lirih. “Roh penunggu Batu Bagonjong sudah memilihmu.”
Rika mencoba berteriak, tapi suaranya tak keluar. Tubuhnya kaku. Sang dukun mulai menaburkan abu hitam di sekitar batu, lalu melantunkan mantra dengan nada rendah dan serak.
Tiba-tiba, dari dalam tanah, muncul tangan-tangan hitam berlumur lumpur yang meraih kaki Rika. Ia menjerit keras, tapi tak ada yang mendengar.
Perlawanan dari Alam Gaib
Di saat terakhir, ustaz yang sebelumnya datang ke rumah Rika tiba bersama beberapa warga. Mereka membawa lampu petromaks dan kitab suci. Begitu cahaya lampu menerpa, sosok dukun itu tampak menunduk marah, matanya memerah, dan tubuhnya bergetar.
“Pergi! Kalian tak paham kekuatan ini!” teriaknya.
Namun ustaz terus membaca ayat demi ayat dengan lantang. Lilin-lilin di sekitar padam satu per satu, dan tangan-tangan hitam itu menghilang ke tanah. Pak Datuk berteriak kesakitan, lalu tubuhnya perlahan meleleh seperti lilin terbakar.
Aroma daging gosong menyebar di udara. Batu besar di tengah kuburan itu retak, mengeluarkan asap hitam yang menembus langit malam.
Bangkitnya Roh Penunggu
Semua orang berpikir kutukan telah berakhir, tapi mereka salah. Dari celah batu retak itu, keluar sosok perempuan berambut panjang mengenakan kain putih kusam. Matanya hitam pekat, tanpa bola mata. Ia melayang perlahan di atas tanah.
“Dia belum selesai…” bisik Rika dengan suara serak.
Roh itu menatap Pak Datuk yang kini setengah meleleh, lalu menatap Rika. Dalam sekejap, angin berhembus kencang, membuat semua warga berlari ketakutan. Hanya ustaz yang masih berdiri sambil membaca doa.
Namun roh itu tidak menyerang. Ia hanya menatap Rika lama, lalu menghilang di balik kabut, meninggalkan bau dupa dan darah yang menyengat.
Dendam yang Masih Hidup
Beberapa hari kemudian, Rika sembuh. Luka di lehernya perlahan hilang, tapi setiap malam, ia mendengar langkah kaki di depan rumahnya. Kadang, bau dupa muncul tiba-tiba tanpa alasan.
Warga desa mulai bercerita bahwa arwah perempuan itu adalah korban ilmu hitam yang dikubur hidup-hidup puluhan tahun lalu di bawah Batu Bagonjong. Roh itu menuntut pembalasan terhadap siapa pun yang menyalahgunakan kekuatan gaib di tempat suci itu.
Kuburan tersebut kini ditutup, tapi tak ada yang berani mendekat setelah matahari tenggelam. Orang-orang percaya, dukun santet yang meninggal di sana tidak benar-benar mati. Ilmu hitamnya masih berkeliaran, mencari wadah baru untuk bersemayam.
Misteri di Balik Batu Retak
Beberapa peneliti spiritual datang mencoba mempelajari kejadian itu. Salah satu dari mereka menemukan ukiran tua di sisi batu yang berarti “penjaga antara dunia.”
Setiap kali malam Jumat tiba, retakan batu itu mengeluarkan cahaya redup, seperti bara yang menyala dari dalam. Penduduk yang tinggal di sekitar sering melihat bayangan perempuan berjalan di antara nisan.
Mereka yakin itu adalah arwah yang dulu disihir, kini menjadi penjaga agar tak ada lagi manusia yang mempermainkan kekuatan gelap.
Penutup: Kutukan yang Tak Pernah Padam
Kisah tentang dukun santet menyihir gadis di kuburan Batu Bagonjong Sumbar terus beredar hingga sekarang. Tempat itu menjadi legenda menakutkan di kalangan warga lokal.
Beberapa penduduk mengaku mendengar suara perempuan menangis dari arah bukit setiap kali hujan turun. Yang lain melihat cahaya merah menari di antara batu nisan.
Entah mitos, entah kenyataan, Batu Bagonjong tetap menyimpan rahasia yang tak bisa dijelaskan. Dan jika suatu malam kau mendengar suara mantra berbisik di tengah hujan, jangan menoleh.
Sebab mungkin, dukun santet itu masih memanggilmu—dari balik tanah yang belum tenang.
Food & Traveling : Street Food Halal Terbaik di Sepuluh Kota di Indonesia