Awal Teror di Gang Sempit
Malam itu, suasana Kuningan terasa begitu lengang. Gang sempit yang biasanya hanya dilewati oleh warga sekitar kini terlihat lebih suram dari biasanya. Lampu jalan yang temaram hanya menyorot samar dinding-dinding tua. Dari kejauhan, terdengar bisikan pelan, seolah berasal dari seseorang yang sedang mengintai.
Bima, seorang mahasiswa yang baru pulang larut malam, merasa merinding saat melewati gang itu. Ia tidak tahu mengapa, tetapi ada sensasi dingin yang menelusup hingga tulang. Langkahnya semakin cepat, namun dari sudut matanya ia menangkap sesuatu. Sosok dengan wajah keriput, berambut kusut, dan tatapan tajam seperti nenek sihir berdiri memandangnya.
Pertemuan Pertama dengan Wajah Keriput
Bima menghentikan langkah. Cahaya lampu jalan menyorot samar wajah keriput itu, memperlihatkan keriput dalam, kulit pucat, dan mata yang seakan menyala dalam kegelapan.
“Nak… kau pulang malam sekali,” suara parau itu menyentak sunyi.
Bima tidak menjawab, ia hanya berusaha melangkah mundur. Namun, tubuhnya kaku. Gang sempit itu seakan menutup jalannya, dan setiap kali ia menoleh, nenek sihir itu semakin dekat. Nafasnya memburu, dan jantungnya berdegup tak karuan.
Bisikan Kematian dari Nenek Sihir
Keesokan harinya, Bima menceritakan pengalamannya kepada Raka, sahabat dekatnya. Namun, Raka hanya tertawa dan menganggapnya berhalusinasi. “Mungkin kamu kecapekan, Bim,” katanya enteng.
Namun malam berikutnya, Bima kembali melewati gang itu. Dan lagi-lagi, wajah keriput yang sama muncul, kini lebih dekat, dengan senyuman menyeramkan. Kali ini, ia berbisik, “Siapa pun yang melihat wajahku… akan kehilangan sesuatu.”
Bima langsung berlari keluar dari gang. Saat tiba di kos, ia menemukan gelang pemberian almarhum ibunya hilang dari pergelangan tangannya.
Misteri Gang Sempit
Rasa takut itu membuat Bima penasaran. Ia mencari tahu dari warga sekitar. Seorang ibu penjual warung mengatakan bahwa gang sempit itu sudah lama dikenal angker. Konon, dahulu ada seorang nenek yang dituduh sebagai sihir karena menolak pindah dari rumah kecilnya yang berada di ujung gang.
Warga kala itu mengusirnya dengan kejam. Sang nenek akhirnya meninggal di rumahnya sendiri dengan penuh dendam. Sejak saat itu, wajah keriput nenek sihir sering muncul di gang sempit tersebut untuk menebar teror.
Malam yang Semakin Mencekam
Raka yang awalnya tidak percaya akhirnya ikut mencoba melewati gang itu bersama Bima. Malam itu, suasana terasa semakin pekat. Angin berhenti berhembus, dan suara jangkrik hilang seketika.
Di tengah jalan, mereka melihat sosok nenek dengan wajah keriput berdiri mematung. Rambutnya menjuntai hingga menutupi sebagian wajah, namun keriput di pipinya terlihat jelas. Senyum lebar penuh gigi hitam membuat Raka terdiam.
“Nak… kalian ingin bermain denganku?” bisik nenek itu sambil mendekat perlahan.
Raka merasakan tubuhnya berat, seakan ada yang menahan langkahnya. Sedangkan Bima kembali merasakan dingin yang menusuk tulang.
Teror di Kamar Kos
Setelah kejadian itu, Bima dan Raka pulang dengan tubuh gemetar. Namun, teror tidak berhenti di gang saja. Malam berikutnya, Bima mendengar ketukan di pintu kamarnya. Saat dibuka, tidak ada siapa pun, hanya udara dingin yang masuk.
Ketika ia menoleh ke arah cermin, wajah keriput itu muncul di belakangnya, menatap dengan mata merah menyala. Bima menjerit keras hingga tetangganya datang, namun sosok itu sudah lenyap.
Raka juga mulai diganggu. Ia mendengar suara perempuan tua tertawa di telinganya saat hendak tidur. Kadang-kadang, ada tangan keriput yang meraba kakinya dari bawah ranjang.
Upaya Mengusir Sosok Nenek Sihir
Mereka akhirnya meminta bantuan seorang ustaz di daerah tersebut. Ustaz itu mengatakan bahwa dendam nenek sihir sudah mengakar dalam. Sosok dengan wajah keriput itu tidak akan pergi begitu saja, kecuali ada doa khusus dan permohonan maaf dari warga.
Namun, warga sekitar enggan ikut campur. Mereka merasa takut jika mengusik sosok itu akan membawa bencana. Akhirnya, Bima dan Raka hanya bisa melindungi diri dengan doa dan bacaan suci.
Malam Terakhir di Gang Sempit
Meski sudah berusaha menghindar, suatu malam Bima terpaksa melewati gang itu lagi karena jalan utama ditutup. Rasa takut menghantuinya sejak langkah pertama. Udara di gang terasa membeku, dan tiba-tiba terdengar suara nyanyian lirih dari ujung gang.
Sosok nenek itu muncul lagi, kali ini lebih menyeramkan. Wajah keriputnya semakin dekat, seakan menempel di depan wajah Bima. Ia berbisik, “Giliranmu sudah tiba.”
Bima berlari sekuat tenaga, namun semakin ia berlari, semakin panjang gang itu. Tidak ada ujung, tidak ada jalan keluar.
Akhir yang Tragis
Keesokan paginya, warga menemukan Bima pingsan di tengah gang. Tangannya dingin, matanya terbuka lebar seolah masih menatap wajah keriput itu. Yang lebih aneh, ia kehilangan bayangan tubuhnya.
Raka, yang datang menolong, merasa ngeri. Ia menyadari bahwa sosok nenek sihir tidak hanya menakut-nakuti, tetapi benar-benar mengambil sesuatu yang berharga dari setiap korban.
Gang sempit itu kini semakin dihindari warga. Tidak ada yang berani lewat, terutama setelah tengah malam. Namun, kadang-kadang, masih ada yang mendengar suara tawa perempuan tua, dan samar-samar melihat wajah keriput yang mengintai dari kegelapan.
Misteri yang Tak Pernah Usai
Hingga kini, misteri gang sempit Kuningan belum pernah terpecahkan. Wajah keriput nenek sihir itu tetap menjadi momok menakutkan. Bagi sebagian orang, ia hanyalah cerita horor warga. Namun bagi Bima dan Raka, teror itu nyata, meninggalkan luka dan ketakutan yang tak pernah hilang.
Mungkin, wajah keriput itu akan terus mengintai siapa saja yang berani melintasi gang sempit Kuningan setelah tengah malam.
Sejarah & Budaya : Tradisi Ma’Nene Toraja dan Hubungan dengan Leluhur