Awal yang Tenang di Tebing Keraton
Tebing Keraton di Bandung dikenal sebagai salah satu tempat wisata alam dengan pemandangan menakjubkan. Di pagi hari, lautan kabut menyelimuti pepohonan, menghadirkan keindahan bak negeri di atas awan. Namun, di balik pesona itu, ada kisah yang membuat bulu kuduk merinding. Konon, hawa dingin makhluk halus kerap menyelimuti tempat ini, terutama saat malam menjelang.
Raka, seorang mahasiswa pecinta alam, memutuskan untuk berkemah di Tebing Keraton bersama tiga temannya: Dinda, Rino, dan Maya. Mereka ingin merasakan sensasi bermalam di tebing yang terkenal itu. Meski warga sekitar sempat memperingatkan agar mereka tidak nekat, mereka tetap memaksa.
“Ah, itu cuma cerita orang kampung biar kita takut,” kata Rino sambil tertawa. Tetapi Maya, yang lebih peka, merasa ada sesuatu yang tak wajar sejak mereka tiba. Angin yang berembus terasa menusuk tulang, lebih dingin dari biasanya.
Peringatan dari Penjaga
Saat sore menjelang, seorang pria tua penjaga parkir menghampiri mereka. Ia berbicara dengan suara pelan, namun penuh tekanan.
“Kalau malam nanti kalian dengar suara orang tertawa atau gamelan, jangan ditanggapi. Diam saja. Ingat, jangan pernah memanggil nama satu sama lain di tengah hutan.”
Mereka mengangguk setengah hati. Setelah pria itu pergi, Dinda berbisik, “Kenapa rasanya kata-katanya serius banget, ya?” Maya mengangguk, hatinya semakin tidak tenang.
Malam Pertama yang Mencekam
Ketika malam tiba, api unggun mereka berkobar kecil, mencoba melawan dinginnya udara. Namun, hawa dingin itu bukan sekadar dari angin malam. Seakan ada sesuatu yang ikut bernafas di sekitar mereka, mendekat perlahan.
Sekitar tengah malam, mereka mendengar suara gamelan lirih. Raka mengira ada warga yang sedang menggelar acara, tapi anehnya, suara itu datang dari arah tebing yang curam, bukan dari perkampungan.
Maya merapatkan jaketnya. “Kalian dengar? Itu gamelan…” suaranya bergetar.
Tiba-tiba, terdengar suara perempuan tertawa kecil, lirih namun jelas. Tawa itu menggema di antara pepohonan, membuat darah mereka seakan berhenti mengalir.
Sosok Bayangan di Tebing
Rino, yang paling nekat, berjalan mendekati tepi tebing untuk mencari sumber suara. Saat cahaya senter diarahkan, mereka melihat sosok samar seorang perempuan berkebaya putih dengan selendang panjang, berdiri di ujung tebing. Rambutnya panjang terurai, wajahnya tertutup bayangan.
“Siapa itu?” bisik Raka, tubuhnya kaku.
Namun sosok itu tidak menjawab. Selendangnya berkibar tertiup angin, lalu tiba-tiba tubuhnya melayang turun dari tebing. Mereka semua menjerit panik.
Rino berlari ke tepi untuk melihat ke bawah, tapi tidak ada siapa pun. Hanya kegelapan yang pekat.
Kejadian Aneh di Dalam Tenda
Mereka memutuskan untuk kembali masuk ke dalam tenda, berharap bisa merasa aman. Tetapi hawa dingin semakin menusuk, seakan tenda mereka berada di dalam ruangan es. Nafas mereka terlihat seperti asap.
Tiba-tiba, tenda bergoyang keras, seperti ada yang menarik dari luar. Raka mencoba menahan dengan tubuhnya, tapi tangannya menyentuh sesuatu yang basah dan dingin. Saat ia menyorot dengan senter, terlihat bekas tangan pucat dengan kuku panjang menggores kain tenda.
Maya menjerit, Dinda menangis ketakutan. Rino berusaha berdoa, namun lidahnya kelu.
Hilangnya Salah Satu Teman
Ketika pagi datang, mereka terkejut mendapati Dinda sudah tidak ada di dalam tenda. Selendangnya tertinggal, basah dan berbau amis. Mereka mencari ke segala arah, memanggil namanya, tapi hanya gema suara mereka yang kembali.
Raka teringat pesan penjaga tua: jangan pernah memanggil nama satu sama lain di hutan. Dadanya sesak karena mereka sudah melanggarnya.
Pertemuan dengan Penjaga Tua
Dengan langkah gemetar, mereka turun dari Tebing Keraton untuk meminta bantuan. Di perjalanan, mereka kembali bertemu penjaga tua itu. Wajahnya pucat ketika mendengar Dinda hilang.
“Aku sudah bilang… hawa dingin makhluk halus di Tebing Keraton bukan main-main. Mereka mencari jiwa untuk menemani. Kalau sudah diambil, sulit dikembalikan.”
Raka memohon agar ia membantu. Penjaga tua itu hanya memberikan bunga kantil dan sebatang dupa. Ia menyuruh mereka menaruhnya di tepi tebing tempat sosok perempuan tadi muncul.
Ritual Pencarian
Malam berikutnya, mereka memberanikan diri kembali ke Tebing Keraton dengan dupa dan bunga kantil. Asap dupa mengepul, terbawa angin. Mereka meletakkan bunga di atas batu besar.
Tak lama, gamelan kembali terdengar, kali ini lebih keras. Dari kegelapan, sosok perempuan berkebaya putih muncul lagi, melayang-layang di udara. Di sampingnya, samar terlihat sosok Dinda, wajahnya pucat, matanya kosong, seolah sudah bukan manusia.
Maya menjerit, “Itu Dinda! Lepaskan dia!”
Namun penjaga tua berteriak, “Jangan! Jangan panggil namanya!”
Sayangnya, Maya sudah terlanjur. Sosok berkebaya itu tertawa keras, lalu menarik Dinda semakin jauh ke dalam kegelapan. Setelah itu, semuanya hening.
Misteri yang Tidak Terjawab
Hingga hari ini, Dinda tidak pernah ditemukan. Raka, Rino, dan Maya pulang dengan trauma mendalam. Mereka tidak pernah berani lagi mendekati Tebing Keraton setelah malam itu.
Warga sekitar percaya bahwa Dinda telah menjadi bagian dari arwah penunggu Tebing Keraton. Dan setiap kali kabut turun, orang-orang masih merasakan hawa dingin tak wajar, seolah makhluk halus sedang menyelimuti seluruh kawasan itu.
Banyak yang bersumpah mendengar suara gamelan atau melihat sosok perempuan di tepi tebing. Namun tidak ada yang berani mencari tahu lebih jauh, karena takut mengalami nasib yang sama seperti Dinda.
Food & Traveling : Tempat Ngopi Sambil Menikmati Sunset di Lereng Pegunungan