Dukun Santet Menyihir Gadis di Kuburan Batu Bagonjong Sumbar

Dukun Santet Menyihir Gadis di Kuburan Batu Bagonjong Sumbar post thumbnail image

Awal Kengerian di Kuburan Batu Bagonjong

Kisah tentang dukun santet selalu menjadi bisikan menyeramkan di kalangan masyarakat pedesaan Sumatera Barat. Di balik hamparan perbukitan dan hutan yang tenang, terdapat sebuah kuburan tua berbentuk batu bagonjong yang dipercaya sebagai pintu bagi roh-roh kelam. Tempat itu jarang didatangi orang, kecuali mereka yang berani menantang maut atau memiliki tujuan tersembunyi.

Pada suatu malam, kabar angin beredar bahwa seorang dukun santet melakukan ritual gelap di sana. Tidak ada yang tahu siapa korbannya, namun gosip menyebut seorang gadis muda yang tengah menolak lamaran seorang pria desa. Kecurigaan pun semakin kuat, apalagi sejak tubuh sang gadis mendadak sakit dan terlihat layu seperti dihisap energi kehidupannya.

Jejak Ritual Misterius

Ritual itu konon dilakukan di tengah malam buta. Beberapa warga desa yang nekat mendekati area kuburan batu Bagonjong mengaku mendengar bisikan yang bercampur dengan suara gamelan kecil, meski tidak ada alat musik yang terlihat. Aroma dupa menyengat memenuhi udara, bercampur dengan bau tanah basah yang menyiksa indera penciuman.

Bayangan hitam terlihat melintas cepat, seolah mengitari area makam. Saat bulan purnama menggantung di atas, terlihat sesosok dukun mengenakan jubah hitam panjang, melantunkan mantra dengan bahasa kuno. Pada tangannya, ada boneka jerami yang ditusuk jarum panjang.

Gadis yang Menjadi Sasaran

Gadis itu bernama Melati, seorang remaja berusia tujuh belas tahun. Ia dikenal manis dan ramah, sering membantu ibunya berjualan di pasar. Namun, kehidupannya berubah drastis setelah menolak pinangan seorang pria yang disebut keras hati dan penuh dendam.

Sejak saat itu, Melati sering jatuh sakit tanpa sebab. Tubuhnya membiru, matanya sayu, dan kulitnya perlahan kering. Tidak ada tabib yang mampu menyembuhkannya. Malam-malamnya dihantui mimpi buruk tentang kuburan batu, jeritan aneh, dan sosok berjubah hitam yang menyeringai kepadanya.

Teror di Tengah Malam

Kisah semakin mencekam ketika keluarga Melati mendengar suara ketukan keras di dinding rumah mereka setiap malam tepat pukul dua belas. Ketukan itu semakin lama berubah menjadi suara goresan, seperti kuku yang mencakar papan kayu. Kadang, bayangan sosok berjubah terlihat melintas di depan jendela kamar Melati.

Suatu malam, sang ibu terbangun karena mendengar suara putrinya menangis. Saat membuka pintu kamar, ia melihat Melati terangkat dari ranjang, melayang dengan mata terbuka lebar. Tubuhnya digerakkan seperti boneka tanpa jiwa. Saat ibunya mencoba mendekat, tiba-tiba bayangan hitam itu muncul dan berbisik, “Dia milikku.”

Pengejaran Dukun Santet

Warga desa yang mulai resah akhirnya memutuskan untuk memanggil seorang ulama tua. Mereka mengadakan doa bersama dan mencoba melacak keberadaan sang dukun. Malam itu, mereka beramai-ramai menuju kuburan batu Bagonjong.

Perjalanan terasa panjang, diiringi suara serangga malam dan hembusan angin dingin yang menusuk tulang. Ketika sampai di lokasi, mereka mendapati jejak lilin yang meleleh, bunga-bunga layu, serta boneka jerami lain yang dipenuhi jarum. Tiba-tiba, terdengar tawa nyaring dari arah dalam hutan.

Dukun santet itu muncul, matanya merah menyala, wajahnya dipenuhi garis hitam menyerupai tato ritual. Ia menuding warga dengan tangan kurusnya, lalu berteriak mantra. Angin berputar kencang, dedaunan beterbangan, dan tanah kuburan bergetar seolah bangkit bersama arwah di dalamnya.

Pertarungan Gaib

Ulama tua itu maju, membawa ayat suci sebagai benteng. Dua kekuatan bertabrakan, memunculkan cahaya dan kegelapan sekaligus. Suara jeritan terdengar dari dalam tanah, seolah arwah-arwah terjebak berusaha keluar.

Melati yang dibawa ke lokasi itu tampak semakin lemah, tubuhnya hampir tidak bernyawa. Sang ulama mencoba menarik roh yang terikat, sementara dukun santet mengerahkan seluruh energi hitamnya.

Pertarungan berlangsung hingga fajar menyingsing. Cahaya matahari pertama akhirnya menusuk tubuh sang dukun. Jeritannya menggema, tubuhnya terbakar perlahan dan lenyap dalam kepulan asap hitam.

Akhir yang Menyisakan Misteri

Melati tersadar, meski tubuhnya masih lemah. Warga desa bersorak lega, namun sebagian merasa ketakutan. Sebab, meskipun sang dukun telah lenyap, kuburan batu Bagonjong masih memancarkan hawa gelap. Banyak yang percaya arwahnya masih bergentayangan, menunggu saat yang tepat untuk kembali.

Sejak hari itu, warga jarang mendekati kuburan tersebut. Melati mencoba melanjutkan hidupnya, namun kadang ia masih bermimpi tentang sosok berjubah hitam. Terkadang, saat bulan purnama, ia mendengar bisikan di telinganya, seakan mengingatkan bahwa perjanjian itu belum sepenuhnya berakhir.

Lifestyle : Minimalis Digital: Mengurangi Notifikasi untuk Fokus

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post