Senyawa aroma dupa yang merayapi jiwa polos di TN Raja Ampat

Senyawa aroma dupa yang merayapi jiwa polos di TN Raja Ampat post thumbnail image

Aroma Dupa di Gerbang Hutan

Senyawa aroma dupa sudah tercium bahkan sebelum langkah kaki pertama masuk ke kawasan hutan lebat TN Raja Ampat. Bagi penduduk sekitar, bau itu bukan sekadar wangi, melainkan tanda bahwa dunia gaib sedang menyapa. Malam itu, Andra—seorang mahasiswa pecinta alam—bersama tiga temannya, memutuskan untuk menjelajahi jalur hutan menuju bukit yang jarang dijamah manusia.

Namun, begitu aroma dupa semakin pekat, Andra merasa dadanya sesak. Ia menoleh, melihat wajah teman-temannya pucat. Tak ada satupun yang membawa dupa, tak ada api yang menyala, namun udara terasa seperti penuh asap yang merayap menelusup ke dalam paru-paru.

“Kenapa bau dupa di sini sekuat ini?” bisik Tika, satu-satunya perempuan di rombongan. Tidak ada yang menjawab. Mereka hanya saling berpandangan, ragu untuk melangkah lebih jauh.

Bisikan dari Balik Pepohonan

Perjalanan semakin sunyi. Angin malam yang biasanya membawa aroma laut kini seperti menyimpan sesuatu. Setiap langkah disertai suara gemerisik aneh. Aroma dupa seolah menempel di kulit, menyelusup ke celah terdalam jiwa. Andra merasa ada bisikan samar di antara pepohonan—lirih, namun menusuk.

Bisikan itu terdengar seperti doa, atau mungkin mantra. Suaranya bercampur dengan aroma yang semakin tajam. Jiwa polos mereka seakan digiring ke arah yang tidak pernah mereka kenal.

Jiwa Polos yang Tertawan

Di sebuah persimpangan jalur, mereka menemukan sebuah altar kecil dari batu yang dipenuhi abu hitam. Tak ada dupa yang menyala, tetapi senyawa aroma dupa itu semakin menyesakkan. Tiba-tiba, tubuh Joko, salah satu anggota rombongan, kaku. Matanya menatap lurus, bibirnya bergetar seolah ingin mengucapkan sesuatu.

“Dia… memanggilku,” ucapnya dengan suara serak. Semua terdiam. Siapa yang memanggil? Tidak ada manusia lain di sekitar, hanya hutan yang pekat.

Andra mencoba menarik Joko, namun sebuah bayangan hitam melintas cepat di belakang altar. Aroma dupa semakin menusuk, seperti berusaha mengikat mereka agar tak bisa keluar dari tempat itu.

Teror di Bawah Cahaya Bulan

Ketika bulan naik tinggi, suara gonggongan anjing hutan terdengar di kejauhan. Bayangan-bayangan aneh bermunculan di sela pepohonan. Setiap kali mereka mencoba bergerak, bau dupa menyeruak, lebih pekat daripada sebelumnya. Jiwa mereka seperti dipeluk sesuatu yang dingin dan asing.

Tika mulai menangis. Ia merasakan tangan dingin menyentuh bahunya, padahal tidak ada siapapun di sampingnya. Aroma itu bukan lagi sekadar dupa—melainkan racun yang melumpuhkan keberanian.

Jalan Pulang yang Menghilang

Mereka mencoba berbalik arah, namun jalan pulang seolah menghilang. Jalur yang mereka lalui sebelumnya tidak lagi ada. Hanya dinding hutan lebat dengan kabut tipis bercampur aroma dupa. Nafas semakin berat, tubuh seperti kehilangan tenaga.

Andra mulai menyadari sesuatu: senyawa aroma dupa itu bukan berasal dari dunia nyata. Itu adalah medium, pintu penghubung, alat untuk mengikat jiwa polos ke dalam dunia lain.

Bayangan Sang Penjaga

Di antara kabut dan wangi menyengat itu, tampak sosok tinggi berdiri. Wajahnya kabur, seperti dililit asap. Namun matanya merah menyala. Ia tidak berjalan, melainkan melayang. Sosok itu menatap langsung ke arah mereka.

“Jiwa polos… tetaplah di sini…” bisiknya, seolah terdengar langsung di dalam kepala masing-masing. Aroma dupa semakin mencekik.

Andra memaksa diri untuk berteriak, memanggil nama Tuhan, namun suaranya tertahan. Bayangan itu bergerak mendekat, dan semakin dekat, semakin kuat pula aroma yang menusuk sanubari.

Ritual Terlarang

Di tengah keputusasaan, mereka menemukan sebuah lingkaran batu dengan coretan simbol kuno. Abu dupa bertebaran di sana, seakan baru saja digunakan untuk sebuah ritual. Bayangan sang penjaga berdiri di tengah lingkaran itu.

“Tempat ini… tempat memanggil roh,” bisik Andra dengan suara gemetar. Ia sadar, senyawa aroma dupa yang mereka hirup sejak awal adalah sisa dari ritual terlarang yang masih hidup di tanah Raja Ampat. Ritual itu menuntut jiwa polos sebagai persembahan.

Upaya Bertahan

Tika menyalakan senter, mengarahkannya ke sosok bayangan itu. Namun cahaya senter justru bergetar, redup, seakan takut bersinar. Bayangan itu menoleh, lalu menggerakkan tangannya. Seketika aroma dupa meledak menjadi gelombang asap yang menyelimuti mereka.

Andra memeluk Tika, mencoba menutup hidung dan mulut dengan kain. Ia ingat cerita orang tua kampung: jika ingin selamat, jangan pernah membiarkan asap dupa memasuki paru-paru sepenuhnya.

Akhir yang Menggantung

Mereka berlari tanpa arah. Jalan setapak muncul entah dari mana. Aroma dupa masih mengejar, tapi semakin lama semakin memudar. Hingga akhirnya, mereka keluar di tepian hutan, tepat di pinggir pantai yang sunyi.

Namun, ketika menoleh ke belakang, Andra melihat Joko tidak ikut keluar. Hanya ada kabut yang menutup jalan hutan. Aroma dupa masih samar, seolah menertawakan mereka.

Dan malam itu, jiwa polos seorang sahabat tertinggal di balik kabut Raja Ampat—tertawan oleh senyawa aroma dupa yang tak pernah mati.

Teknologi & Digital : Algoritma Media Sosial Kian Pengaruhi Keputusan Publik

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post