Langkah Pertama Menuju Bromo
Udara dingin menusuk tulang ketika sekelompok pendaki memulai perjalanan menuju Gunung Bromo. Malam itu, kabut tebal menutupi jalur setapak, membuat senter mereka tampak tak berdaya menembus kegelapan. Di antara mereka, ada seorang pemuda bernama Damar yang tampak gelisah sejak awal.
Seorang temannya bertanya, namun Damar hanya menggeleng, seolah ingin mengusir bayangan yang menempel di benaknya. Ia merasa seolah langkah kakinya mengikuti pola asing, tak lagi murni dari dirinya sendiri. Dalam bisikan kabut, ia mendengar kata samar: “noktah akhir…”
Bisikan dari Lautan Pasir
Sesampainya di lautan pasir, suasana semakin ganjil. Angin membawa aroma belerang bercampur sesuatu yang anyir. Jejak kaki mereka hilang setiap kali menoleh ke belakang, seolah pasir itu menelan bukti perjalanan mereka.
Damar mulai tertinggal di belakang. Ia merasakan detak jantungnya berpacu, tetapi bukan karena lelah. Di sela desir angin, terdengar langkah lain, padahal ia tahu teman-temannya berjalan jauh di depan. Saat menoleh, ia hanya melihat kegelapan menumpuk, lalu samar terlihat titik hitam—noktah akhir—yang terus membesar dan bergerak mendekat.
Kesendirian yang Memeluk
Saat malam semakin larut, kabut turun begitu pekat hingga pandangan hanya sejengkal. Tiba-tiba, Damar kehilangan rombongannya. Ia berteriak, namun gaung suaranya terdengar seolah ditelan kawah. Hening mendominasi, hanya suara desis halus yang terdengar, seperti bisikan tak berwajah.
Ia mencoba menyalakan ponselnya, namun layar hanya memantulkan wajahnya sendiri. Wajah itu tampak berbeda: pucat, dengan mata kosong menatap lurus ke arahnya. Lalu layar retak, dan muncul tulisan samar: “Inilah noktah akhir untukmu.”
Misteri di Puncak Sunyi
Damar tetap melangkah, seolah kakinya dikendalikan kekuatan tak terlihat. Jalan setapak yang ia tempuh berubah bentuk, tak lagi sesuai dengan jalur normal. Pohon-pohon tampak lebih rapat, rantingnya menjulur seperti tangan.
Di kejauhan, ia melihat sosok wanita berpakaian putih berdiri memunggunginya. Rambutnya terurai panjang, menutupi punggung. Saat Damar mendekat, wanita itu perlahan menoleh. Wajahnya tak memiliki mulut, hanya sepasang mata hitam yang berputar.
Ketika wanita itu mendekat, angin berhenti bertiup. Waktu seakan membeku, dan dari tanah terdengar suara geraman, seperti kawah yang lapar menanti tumbal.
Noktah Terakhir di Kawah Bromo
Akhirnya, Damar sampai di bibir kawah. Bau belerang menusuk hidung, membuat kepalanya berputar. Di hadapannya, muncul bayangan samar puluhan orang. Wajah-wajah mereka kosong, seperti arwah pendaki yang tak pernah pulang.
Mereka mengulurkan tangan, menunjuk ke arah kawah yang gelap. Di dalamnya, berputar bayangan hitam berbentuk lingkaran tak sempurna—noktah akhir yang menyedot cahaya di sekitarnya. Damar merasa tubuhnya ditarik, kakinya tak bisa menolak.
Ia menjerit, namun suaranya hanya terdengar di kepalanya sendiri. Saat tubuhnya terjatuh ke dalam kawah, ia menyadari bahwa sepi adalah jawaban terakhir yang dikehendaki gunung.
Jejak yang Tertinggal
Keesokan harinya, rombongan pendaki yang sempat bersama Damar hanya menemukan jejak lingkaran aneh di pasir, seolah seseorang berjalan berputar tanpa henti. Di tengah lingkaran itu, terdapat bekas terbakar hitam pekat, menyerupai tanda titik raksasa.
Warga sekitar menyebutnya noktah akhir, penanda bahwa seseorang telah dipilih gunung untuk menyatu dengan sunyi. Mereka percaya, siapa pun yang hilang di Bromo bukan semata tersesat, melainkan sudah dipeluk oleh kesendirian abadi.
Dan sejak saat itu, setiap kali kabut turun di malam gelap, ada suara samar di lautan pasir: langkah kaki asing yang terus berjalan, mencari akhir cerita yang tak pernah kembali.
Sejarah & Budaya : Musik Tradisional Kolintang dan Perannya di Era Modern