Awal Malam di Desa Toraja
Semburat asap dupa yang meracik aroma kematian di Desa Toraja mulai terasa ketika malam menutup langit dengan selimut pekat. Di balik rumah-rumah adat tongkonan yang menjulang, kabut tipis menyusup bersama asap dupa yang dibakar dalam ritual leluhur. Bagi warga, dupa itu diyakini sebagai penghubung dengan arwah nenek moyang. Namun, malam itu berbeda—aroma dupa bukan hanya menenangkan, melainkan menghadirkan rasa dingin yang menusuk tulang.
Rani, seorang penulis yang sedang meneliti budaya kematian Toraja, tiba di desa itu dengan rasa penasaran. Namun, langkahnya segera goyah ketika hidungnya menangkap bau dupa yang semakin pekat. Dari setiap sudut jalan tanah, seolah asap dupa menuntunnya ke arah yang tak pernah ia kenal.
Suara dari Balik Asap
Dengan langkah ragu, Rani berjalan menyusuri gang sempit di antara tongkonan. Tiba-tiba, semburat asap dupa yang meracik aroma kematian di Desa Toraja mengelilinginya. Ia mendengar suara lirih yang menyerupai bisikan doa, namun kata-katanya terputus-putus.
“Pul… ang…” begitu samar terdengar.
Jantungnya berdetak tak beraturan. Ia menoleh, berharap menemukan orang yang berbicara, tetapi hanya ada tirai asap. Anehnya, suara itu semakin jelas setiap kali ia menghirup bau dupa. Rani merasa seolah dirinya sedang ditarik masuk ke dunia lain, dunia yang ditempati roh-roh penasaran.
Ritual Tengah Malam
Keesokan malam, Rani diajak oleh kepala desa untuk menyaksikan sebuah ritual adat. Di pelataran luas, puluhan dupa dinyalakan bersamaan. Semakin banyak asap yang mengepul, semakin kuat pula aroma yang menusuk. Semburat asap dupa yang meracik aroma kematian di Desa Toraja membuat Rani terbatuk, namun tak seorang pun warga tampak terganggu.
Di tengah lingkaran dupa, seorang tetua membacakan mantra. Suaranya berat, dalam, dan penuh getaran. Rani memejamkan mata sejenak, namun saat membukanya, ia melihat sesuatu yang tak seharusnya ada—bayangan hitam berwujud manusia, bergerak di antara asap.
Wajahnya pucat, matanya kosong, dan tubuhnya melayang tanpa menyentuh tanah. Rani terperangah, tetapi warga sekitar bertingkah seolah tidak melihat apapun.
Keheningan yang Mengguncang
Setelah ritual selesai, desa menjadi hening. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada angin. Hanya aroma dupa yang semakin menusuk. Malam itu, Rani kembali ke rumah singgahnya. Namun ketika ia menutup mata, suara gonggongan anjing pecah di kejauhan.
Saat ia bangkit dari tempat tidur, semburat asap dupa meracik aroma kematian di Desa Toraja menyelusup masuk lewat jendela. Asap itu membentuk bayangan yang perlahan menyerupai sosok perempuan tua dengan rambut panjang menjuntai.
Sosok itu mendekat, menundukkan wajah, dan berbisik lirih:
“Kau menulis tentang kami, tapi kau tak tahu harga yang harus dibayar…”
Bayangan di Tongkonan
Pagi harinya, Rani mendatangi tongkonan tua yang konon sudah lama ditinggalkan. Bangunannya retak, kayu-kayunya rapuh, namun di dalamnya masih ada dupa yang menyala, meski tak seorang pun menyalakan. Semburat asap dupa yang meracik aroma kematian di Desa Toraja memenuhi ruangan, membuat penglihatan Rani kabur.
Ketika asap menipis sesaat, ia melihat sosok-sosok yang duduk di kursi panjang. Mereka diam, namun wajah mereka pucat kebiruan seperti mayat. Salah satunya mengangkat kepala, menatap Rani, dan tersenyum dengan gigi hitam berlumuran darah.
Rani hampir berteriak, tapi tubuhnya kaku. Ia tersadar bahwa tempat itu bukan sekadar rumah adat, melainkan gerbang antara dunia hidup dan mati.
Jebakan Asap
Malam terakhir Rani di desa itu menjadi mimpi buruk. Asap dupa mengepung seluruh desa, tebal seperti kabut. Semburat asap dupa yang meracik aroma kematian di Desa Toraja kini berputar seperti pusaran, menelan setiap cahaya lampu minyak.
Rani mencoba berlari, namun kakinya seakan terikat. Dari balik pusaran asap, ratusan tangan kurus menjulur, mencoba meraih tubuhnya. Setiap tangan dingin seperti batu nisan.
“Jangan… bawa aku…” Rani menjerit.
Namun suara jeritannya lenyap, tertelan asap. Tubuhnya jatuh ke tanah, dan ia merasa seolah sedang ditarik ke dalam perut bumi.
Kesimpulan Mencekam
Ketika pagi tiba, warga desa menemukan buku catatan Rani tergeletak di depan tongkonan tua. Halaman terakhir penuh dengan tulisan terburu-buru, hanya satu kalimat yang berulang:
“Semburat asap dupa meracik aroma kematian di Desa Toraja.”
Tak ada seorang pun menemukan jasad Rani. Sebagian percaya ia menjadi korban kutukan leluhur. Sebagian lain yakin ia masih berkeliaran, terperangkap di balik asap dupa yang tak pernah padam.
Berita & Politik : Menakar Kualitas Demokrasi Pascareformasi di Indonesia