Awal Malapetaka
Kilau mata naga pertama kali menyapa indra Raka saat matahari terakhir tenggelam di ufuk barat Labuan Bajo. Kilau mata naga berpendar lembut di tepi pantai berpasir putih, seolah memanggil siapa saja untuk mendekat. Namun di balik sinarnya, pasir menyimpan kesunyian yang menyesakkan. Raka, seorang fotografer petualang, tak pernah menyangka kunjungannya malam itu akan mengubah segalanya.
Bisikan di Angin Laut
Sementara itu, angin laut membawa bisikan tak kasat mata. Setiap kali Raka mengangkat kameranya untuk memotret cahaya memukau itu, terdengar suara lembut berbisik, “Jangan pulang… jangan pulang…” Raka menggigil. Ada sesuatu yang tak wajar di balik gemerlap warna hijau dan biru di balik metalnya.
Jejak di Pasir
Tanpa disadari, langkah Raka tertatih di atas pasir yang menabur kesunyian. Setiap butir pasir seakan melantunkan duka sejarah kuno—kisah naga penjaga gua terpencil. Tangan Raka bergetar saat menelusuri jejak kaki yang seolah terbentuk sendiri; jejak itu membimbingnya ke arah bukit kecil di ujung pantai.
Pintu Gua Terlarang
Di puncak bukit, terdapat pintu gua setinggi dua meter. Pintu itu terukir simbol naga bermahkota bulan sabit; mata naga terukir bergemintang seperti permata. Raka menelan ludah dan memasuki gua. Kilau mata naga di dinding gua kontan memantulkan lampu senter yang digenggamnya, menciptakan suasana kegelapan yang semakin pekat.
Denyut Cahaya Terselubung
Saat Raka makin jauh melangkah, denyut cahaya kilau mata naga berubah irama. Dari semula tenang, kini berdenyut layaknya detak jantung. Berbagai bayangan melintang di sudut pandang Raka—bayangan manusia tanpa wajah, lengan-lengan panjang yang melayang, dan tangis hampa yang merobek keheningan. Setiap langkah terasa menjerat hingga nafasnya tercekat.
Teror Bayangan Hitam
Tiba-tiba, bayangan besar menampakkan diri di dinding gua; tubuhnya membungkuk, kepalanya tegak menatap. Mata hitamnya kosong, melahap setiap sisa keberanian Raka. Ia mundur, tetapi pasir di lantai gua semakin menghimpit kakinya; seolah pasir itu bernafas, mengikuti detak hatinya yang semakin panik.
Kenangan yang Terlupakan
Dalam kepanikan, kenangan masa kecil Raka muncul—dongeng sosok naga pelindung yang menjaga harta karun di hutan terpencil. Bedanya, kilau mata naga di Labuan Bajo tak pernah diceritakan ibunya. Tak ada cerita tentang pasir kesunyian yang menabur jiwa. Raka menyesal tak menggali sejarah setempat lebih dulu.
Pertaruhan dengan Kegelapan
Kegelapan gua terasa menebal. Raka memasang senter ke batu besar dan menyibakkan pasir yang menutupi nisan kayu kuno. Di situ tertulis tanggal ratusan tahun silam—tanggal di mana naga terakhir terbangun dari tidur panjangnya. Raka sadar, ia adalah saksi kebangkitan kembali. Ia harus memilih: melarikan diri atau menghadapi naga itu.
Keberanian yang Rapuh
“Kilau mata naga…” gumam Raka, berusaha menguatkan diri. Dengan satu lambaian tangan, ia menyalakan senter ke arah simbol naga di pintu gua. Cahaya terpantul, kilau mata naga membalas terang, menembus kegelapan. Raka mengumpulkan setitik keberanian, menjerit, “Aku menantangmu!” Seketika suara gemuruh memenuhi gua, pasir di lantai terangkat seperti terguncang badai bawah tanah.
Perjumpaan Terakhir
Dinding gua terbelah, memperlihatkan sesosok makhluk besar bersisik perunggu dengan sepasang mata berwarna zamrud. Naga itu menatap Raka dengan tatapan mematikan. Setiap desahan napasnya menimbulkan getaran. Pasir di bawah kaki Raka pecah menjadi ribuan butiran, menari mengikuti napas naga. Raka menunduk, menahan ketakutan meluap.
Pelarian Menuju Cahaya
Seumpama terkunci, Raka berlari menembus kegelapan. Kilau mata naga mengikuti setiap langkahnya, terus menabur pasir kesunyian yang menuntunnya. Ia terdorong hingga nyaris terjun ke jurang sempit, namun beruntung pijakannya menemukan celah berbatu. Dengan segenap tenaga, Raka melompat keluar dari mulut gua dan terdampar di pasir pantai.
Bayangan yang Tak Lekang
Meski selamat, Raka membawa bekas pasir kesunyian di telapak kaki dan ingatan yang takkan pernah pudar. Kilau mata naga membayangi setiap impiannya—seakan naga itu masih menunggu di balik kedalaman laut. Di kejauhan, suara ombak menepi membawa bisikan, “Kau takkan pernah bebas…”
Berita & Politik : Kurikulum Baru: Transformasi Pendidikan Menuju SDM Unggul