Pendahuluan
Malam itu, gelak tawa kosong bergema di antara suara debur ombak Pantai Parangtritis. Arga, seorang peneliti budaya mistis Jawa, memutuskan menelisik legenda setempat dengan kamera dan catatan di tangan. Selain sebagai sarana dokumentasi, petualangannya di pantai ini hendak mengungkap asal-usul suara yang konon mengundang korban. Meskipun lampu senter menerangi jalannya, suasana mencekam menyelimuti—karena gelap gulita dan angin dingin menelusup ke tulang. Akhirnya, pembaca akan diajak menyusuri setiap lekuk pasir dan tebing, merasakan kengerian yang tak terperi.
Malam yang Sunyi
Awalnya, suasana sungguh tenang. Ombak bergulung perlahan, sementara bintang-bintang berkelip malu di langit selatan. Namun demikian, di balik keheningan, Arga menyadari suara tawa samar, terputus-putus, seperti gema di lembah terpencil. Transisi dari anti-klimaks alam ke aura mistis terasa sangat drastis, menandai awal kekacauan batinnya. Terlebih lagi, setiap kali ia memanggil, suara itu menghilang seketika—hanya meninggalkan jejak dingin di udara.
Desir Ombak Berdarah
Kemudian, tanpa diduga, ombak tampak berkilat pegunungan merah darah di bawah sinar rembulan pucat. Area pasir basah seolah tertutup cairan pekat, membawa nuansa menakutkan. Padahal, Arga yakin tidak ada kapal karam, apalagi tumpahan minyak. Sementara itu, langkahnya terhenti saat mendengar gelak tawa kosong semakin dekat, seolah sengaja mengikuti jejaknya. Betapa ngeri ketika suara itu berubah—dari tawa ringan menjadi cengiran menyeramkan, menembus kesunyian hingga membuat jantungnya seakan tercekik.
Bayangan di Tengah Kabut
Lebih jauh lagi, kabut tipis mulai menyelimuti Pantai Parangtritis, mengaburkan batas antara air dan daratan. Dari sanalah, sesosok bayangan tinggi menampakkan diri, berdiri tegap di atas batu karang. Tubuhnya hitam pekat, tanpa wujud jelas, hanya siluet samar dengan tangan panjang merentang. Dengan segera, Arga menyalakan lampu senter, tetapi cahayanya tertelan kabut—hanya menyisakan keheningan yang menyesakkan. Tanpa aba-aba, gelak tawa kosong kembali bergema, kini dari arah bayangan itu—memanggil seolah menantang keberanian Arga.
Suara yang Terlupa
Sementara itu, detak jantungnya semakin menggila. Kenangan masa kecil terselip di benaknya: cerita neneknya tentang makhluk pantai yang mencuri jiwa para pengelana. Ia teringat janji tak tertulis untuk tidak memanggil, namun rasa penasaran membiusnya. Dengan perlahan, Arga membunyikan totok kayu di pinggang, berharap memberi sinyal bahaya. Anehnya, setiap totokan menghasilkan gaung tawa lain, berlapis-lapis, hingga membuat kepala pusing. Meskipun berusaha menenangkan diri, ketakutan menguasai seluruh saraf tubuhnya.
Jejak di Pasir Basah
Selanjutnya, ia melirik ke bawah. Jejak kaki setengah tenggelam muncul di pasir basah, seolah baru dilalui makhluk tak kasat mata. Jejak yang melebar dan menyempit secara acak, menimbulkan rasa bingung sekaligus ngeri. Apalagi, titik awalnya persis dekat tempat ia berdiri tadi. Karena itu, Arga merasa seolah dikejar sesuatu yang mampu meniru gerakannya. Terlebih lagi, suara tawa kini muncul dari belakang pohon waringin tua—tempat para warga percaya roh penunggu pantai bersemayam.
Teror Gelak Tawa Kosong
Kemudian, korban pertama muncul. Seekor burung jalak putih tergeletak di kerikil, paruhnya terkoyak tanpa sebab. Darahnya menodai pasir, dan di dekatnya terpatri bekas tapak kaki kecil—ukuran anak-anak. Dengan sedih dan ngeri, Arga menyadari bahwa gelak tawa kosong bukan sekadar gema, melainkan pertanda kematian. Tanpa diduga, ia mendengar tawa itu menukik cepat, seakan hendak menelan raganya.
Pengejaran Tanpa Akhir
Selanjutnya, Arga berlari menembus kabut, meninggalkan jejak kaki di pasir yang tiba-tiba memudar. Di belakangnya, tawa terus menggaung, menambah lingkaran panik. Transisi antara harapan selamat dan putus asa begitu cepat, membuat setiap langkahnya terasa berat. Sementara itu, angin menggulung pasir ke wajahnya, menutup pandangan. Tanpa terasa, ia tersandung akar pohon, dan tubuhnya terjerembab ke tepian sungai kecil.
Pencarian yang Menyesakkan
Meskipun terjatuh, Arga bangkit dengan susah payah. Ia tahu, jika terus berdiam, gelak tawa kosong akan segera merenggut nyawanya. Oleh karena itu, ia menyalakan lampu senter terakhir dan berteriak memanggil nama neneknya, berharap mendapatkan kekuatan magis. Anehnya, tawa itu mengeras menjadi teriakan panjang, seolah murka. Seketika, kabut menyelubungi kepala Arga, dan ia merasakan tangan es menggenggam pundaknya.
Kilas Balik Nenek dan Kutukan Pantai
Kemudian, kilas balik menghantam pikirannya: neneknya pernah menceritakan pantai ini dikutuk oleh Ratu Kidul karena kesombongan Raja Mataram. Setiap jiwa yang tak menghormati pantai akan dipanggil golongan gaib dengan tawa kosong. Ia baru sadar bahwa totok kayu yang dibawanya adalah simbol pelindung; namun, tanpa ritual pembuka, totok tersebut justru menarik perhatian roh jahat.
Pertarungan Terakhir
Selanjutnya, Arga menarik totok kayu, membentangnya ke udara sambil menggumamkan mantra Melayu Tua. Tawa itu berderak-derak, berulang, lalu tiba-tiba terhenti—digantikan keheningan mencekam. Dalam sekejap, kabut terpecah, dan lampu senter memantul pada sesosok bayangan yang retak, menyingkap wajah pucat dengan mata merah menyala. Dengan segenap tenaga, Arga meneriakkan mantra terakhir, dan totok kayu memancarkan cahaya putih.
Penutup yang Menghantui
Akhirnya, suara itu lenyap, diikuti angin lembut yang menghapus jejak kaki dan darah burung jalak. Namun demikian, Arga tahu kutukan belum sirna sepenuhnya; gelak tawa kosong akan selalu mengintai siapa pun yang datang tanpa penghormatan. Ia pun menutup catatannya dengan tangan gemetar, lalu berjanji takkan kembali—karena kengerian pantai Parangtritis terlalu dalam untuk diungkap sepenuhnya.
Berita & Politik : Reformasi Birokrasi: Langkah Pemberantasan Korupsi Lembaga