Jeritan Malam di Sawah Banyuwangi yang Mengoyak Pikiran

Jeritan Malam di Sawah Banyuwangi yang Mengoyak Pikiran post thumbnail image

Latar Senja di Sawah Terpencil

Malam itu, aroma basah tanah menyatu dengan angin dingin yang merayap pelan. Desa Sumberrejo, tepat di tepian jeritan malam di sawah banyuwangi, tampak sunyi ditelan kegelapan. Setiap butir embun terpantul cahaya rembulan, seakan menyimpan rahasia bisu yang menunggu kesempatan untuk terkuak. Sulastri, seorang gadis remaja yang baru kembali dari kota, merasakan kekakuan di seluruh tubuhnya saat melangkah di antara rumpun padi. Ia mendengar desahan halus, seperti suara rintihan jauh—suara yang terus menjerit meronta, mengoyak pikiran siapa saja yang mendekat.

Bisikan di Antara Stalk Padi

Kaki Sulastri berhenti di ujung jalur setapak. Tiba-tiba, terdengar bisikan lirih, “Tolong…” Bisikan itu berkali-kali terulang, bergema di bawah gemerisik dedaunan. Kabut tipis menyelinap, menari di atas permukaan air selokan. Jeritan malam di sawah banyuwangi semakin jelas, seakan berulang: jeritan panjang yang merobek keheningan. Jantung Sulastri berdegup kencang. Ia menoleh, berharap melihat sesosok yang memanggil namanya, namun yang tampak hanyalah bayangan bambu bergoyang, menciptakan siluet menakutkan.

Sosok Misterius Berjubah Hitam

Langkah kaki berat terdengar mendekat dari balik petak padi. Sulastri tergagap, menahan napas. Dari balik gulungan kabut muncul sosok berjubah hitam, wajahnya tersembunyi di bawah tudung. Tongkat panjang di genggamannya menari di udara, menorehkan garis-garis pucat di sinar bulan. Ia melayang, tidak benar-benar menginjak tanah berlumpur. “Mengapa kau datang ke tempat terlarang?” suara serak itu bergaung, disusupi tawa dingin melengking ke telinga Sulastri. Sekali lagi, jeritan malam di sawah banyuwangi menyeruak, kali ini menggetarkan tulang sumsum.

Asal Usul Kutukan

Dahulu, menurut cerita orang tua, di tengah hamparan sawah itu pernah tinggal keluarga petani. Malam demi malam, anak mereka menghilang satu per satu. Konon, roh penasaran itu terperangkap ketika pemilik tanah menyandera nyawa murid dukun sakti demi mengusir hama. Jurus terlarang yang dipakai menumpahkan darah bayi tanpa belas kasih membuat kutukan mengikat tanah. Sejak saat itu, tak ada padi yang pernah subur di tengah petak; yang tumbuh hanyalah padi putih pucat, menjelma menjadi corak kelabu saat musim panen tiba.

Penelusuran Keberanian

Meski takut, Sulastri memutuskan menelusuri sosok itu hingga ke jembatan reot di ujung sawah. Setiap detik, rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Hatinya berdetak kencang saat ia mencium aroma dupa terbakar. Di sebuah pondok reyot, ia menemukan buku kuno berwarna kehitaman, berisi gambar simbol-simbol primitif dan catatan bahasa Jawa Kuno. Di sela-sela catatan, tertulis kalimat peringatan yang sama sekali membuat bulu kuduknya meremang: “Jangan bangunkan penghuni malam. Mereka tak pernah tertidur.”

Sentuhan Gaib

Tangan Sulastri bergetar saat menyentuh halaman terakhir. Lembaran itu menuliskan mantra pengharapan—sebuah doa untuk menenangkan roh yang teraniaya. Tanpa sadar, ia mengucapkannya dengan suara gemetar. Seketika, udara berubah beku. Bayangan di balik pondok menjerit panjang, semakin memekakkan. Tanah retak, menganga seperti jurang. Dari dalamnya, terdengar rintihan manusia beramai-ramai: tangisan pilu bercampur amarah tak terkatakan. Jeritan malam di sawah banyuwangi menggema, menandai amarah yang mulai bangkit dan menuntut pembalasan.

Perlawanan Terakhir

Menggenggam buku kuno erat-erat, Sulastri melangkah maju menantang kegelapan. Ia membolak-balikan halaman, mencari jampi penenang roh. Setiap kata dilafalkan dengan lantang, suaranya memecah keheningan. Bayangan hitam berputar, membentuk pusaran asap pekat. Sosok berjubah mendekat, menyorot pandangan kosong. Namun, ucapan Sulastri terus berlanjut, menembus riuhnya jeritan. Tiba-tiba angin kencang menerpa, menyingkirkan kabut. Cahaya rembulan menerobos, mengoyak gulita, dan menerangi wajah sosok yang ternyata berwujud bocah kecil—matanya kosong, tawanya dingin.

Titik Balik

Anak itu menoleh, menatap Sulastri dengan air mata darah. “Terima kasih…” katanya lirih sebelum menghilang dalam secercah cahaya. Jeritan berubah menjadi isak sendu, lalu lenyap. Sawah yang semula berderik oleh tangisan misterius mendadak hening, hanya suara jangkrik yang tersisa. Sulastri terkulai, terkejut, tapi lega. Gemetar di seluruh tubuhnya menandakan adrenalin menurun. Ia menyadari, kutukan itu bukan hanya soal amarah, melainkan permintaan restu agar roh mau berpulang.

Keheningan Pasca Teror

Malam bergeser ke fajar. Cahaya oranye menyapu langit, memercikkan harapan baru. Setapak berlumpur kini bersih, bekas telapak kaki tak lagi meninggalkan jejak hitam. Pohon bambu tampak menunduk, seolah memberi salam perpisahan. Sulastri menatap hamparan sawah dengan tatapan damai—untuk pertama kalinya, jeritan malam di sawah banyuwangi tak lagi mengusiknya. Sisa bisikan terakhir masih terngiang, namun kini bersifat menenangkan: “Pulihkan aku.”

Warisan dalam Diam

Esoknya, penduduk desa menemukan buku kuno di pondok reyot. Mereka enggan menyentuhnya, tapi daun terakhir terbuka memperlihatkan satu kalimat sederhana: “Beri aku istirahat.” Sejak itu, petak sawah yang dulu terlantar kini subur kembali. Padi menguning menari di hembusan angin, tanpa lagi menjerit menembus malam. Warga pun sadar, bahwa setiap kutukan bisa berakhir saat hati manusia menebar belas kasih.

Sejarah & Budaya : Revitalisasi Bahasa Daerah: Program dan Tantangan Terkini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post