Ritual di Bibir Samudra
Satria melangkah perlahan menuju bibir pantai sambil membawa sesaji yang Jero Mangku siapkan tadi pagi. Angin malam meniup dupa hingga aromanya memenuhi seluruh area tebing kapur yang sangat sunyi. Namun, pria itu tetap memfokuskan pikirannya pada satu tujuan utama yaitu memohon ampunan.
Guncangan besar mendadak muncul dari dalam air laut yang berwarna hitam pekat dan sangat dingin. Sosok wanita berambut lebat perlahan menampakkan diri di antara buih ombak yang terus menderu keras. Satria menahan napasnya karena ia melihat mata makhluk itu memancarkan kebencian yang sangat mendalam.
Tangannya yang gemetar segera memercikkan air suci ke arah gulungan ombak sesuai instruksi sang tetua adat. Mantra kuno meluncur dari mulut Satria meskipun suaranya terdengar sangat parau karena rasa takut. Makhluk wanita berambut misterius itu menatap tajam setiap gerakan yang pria tersebut lakukan di atas pasir.
Pengembalian Bayangan Gelap
Satria meletakkan kartu memori kamera di atas batu karang yang terkena air pasang secara perlahan. Ia mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang bagi sang penghuni laut untuk mengambil miliknya kembali. Tak lama kemudian, tangan pucat milik wanita berambut itu meraih benda kecil tersebut dengan gerakan kaku.
Gelombang laut mendadak tenang setelah kartu memori itu berpindah tangan ke dalam genggaman sang roh. Makhluk tersebut kemudian menatap Satria untuk terakhir kalinya sebelum ia menyelam kembali ke dasar samudra. Pria itu menyadari bahwa teror wanita berambut ini akhirnya mencapai titik akhir yang sangat melelahkan.
Kegelapan pantai Pandawa seolah menelan seluruh sisa keberanian yang Satria miliki sejak senja kemarin tiba. Ia segera meninggalkan area tersebut tanpa berani menoleh sedikit pun ke arah air yang sunyi. Namun, bayangan wanita berambut itu tetap membekas sangat kuat di dalam ingatan terdalam sang fotografer.
Hidup dalam Bayang-bayang Kutukan
Waktu berlalu namun Satria sama sekali tidak pernah berani menyentuh kamera profesional miliknya lagi. Ia memilih untuk bekerja sebagai penulis di sebuah desa pegunungan yang sangat jauh dari laut. Akan tetapi, aroma amis tetap sering muncul secara tiba-tiba di dalam ruang kerjanya yang tertutup.
Setiap kali ia melihat permukaan air yang tenang, wajah wanita berambut itu seolah muncul kembali. Mimpi buruk selalu menghampiri tidurnya dan menceritakan tentang dinginnya dasar samudra Hindia yang gelap. Pria itu kini hidup dalam kesunyian karena ia takut akan kehadiran wanita berambut tersebut.
Masyarakat lokal sering melihat Satria berbicara sendiri di tepi sungai kecil dekat rumah barunya itu. Mereka menganggap pria itu sudah gila karena ia selalu menyebut nama wanita berambut berkali-kali. Faktanya, kutukan tersebut telah merenggut kewarasan sang fotografer hingga ia tidak lagi mengenal dirinya.
Pelajaran bagi Para Pelancong
Kisah Satria menjadi peringatan keras bagi siapapun yang ingin berkunjung ke kawasan pantai selatan Bali. Alam memiliki rahasia yang tidak boleh manusia usik hanya demi sebuah karya seni visual. Penjaga gaib seperti wanita berambut akan selalu mengawasi setiap langkah pelancong yang tidak memiliki sopan santun.
Hargailah setiap aturan adat yang berlaku di tempat sakral agar Anda terhindar dari petaka mematikan. Jangan pernah mencoba untuk menantang kekuatan roh wanita berambut yang menguasai kedalaman laut yang luas. Keselamatan nyawa jauh lebih berharga daripada sekadar foto indah yang bisa menghancurkan seluruh masa depan.
Lifestyle : Rahasia Mengatur Prioritas Hidup agar Tidak Mudah Stres