Tubuh Tak Bernyawa di Perpustakaan Kota Pamekasan

Tubuh Tak Bernyawa di Perpustakaan Kota Pamekasan post thumbnail image

Malam Sunyi di Antara Rak Buku

Perpustakaan Kota Pamekasan dikenal sebagai tempat yang penuh sejarah—bangunannya berdiri sejak masa kolonial Belanda, dengan arsitektur klasik dan jendela besar yang menghadap ke alun-alun. Di siang hari, tempat ini ramai dikunjungi pelajar dan peneliti. Namun begitu matahari tenggelam, suasananya berubah total. Lampu-lampu meredup, dan keheningan panjang menguasai setiap lorong.

Warga sekitar sering berbicara tentang tubuh tak bernyawa yang pernah ditemukan di ruang arsip lama pada tahun 1998. Sejak saat itu, banyak yang mengaku mendengar langkah kaki tanpa wujud, bisikan lirih di antara rak buku, bahkan suara seseorang yang sedang menyalin tulisan di malam buta.

Bagi sebagian orang, itu hanya cerita lama yang dibumbui ketakutan. Tapi bagi Nadira, seorang pustakawan baru yang ditempatkan di sana, cerita itu akan menjadi kenyataan yang membekas seumur hidupnya.


Awal Pekerjaan: Ruang Arsip yang Terkunci

Nadira baru seminggu bekerja di perpustakaan itu. Ia seorang gadis berusia dua puluh lima tahun, idealis, dan pecinta buku sejarah.
Kepala perpustakaan, Pak Hamdan, pria tua berkacamata, memperingatkannya agar tidak masuk ke ruang arsip di lantai bawah.

“Ruang itu sudah tidak digunakan, Nadir. Banyak naskah rusak dan berdebu. Lagipula… dulu pernah ada kejadian.”

Namun rasa penasaran selalu menjadi racun paling manis.
Pada hari Jumat sore, saat semua karyawan sudah pulang, Nadira masih sibuk menata koleksi lama di lantai dua. Angin malam masuk dari jendela besar, membawa aroma kertas tua dan sesuatu yang lain—aroma lembap seperti tanah basah.

Ia menuruni tangga menuju ruang bawah tanah. Pintu arsip terkunci gembok, tapi anehnya, gembok itu sudah berkarat dan tergantung longgar, seolah sengaja tidak dikunci rapat.

Begitu pintu terbuka, udara dingin menyeruak keluar, menampar wajahnya seperti kabut dari liang kubur.


Penemuan Pertama: Buku dengan Noda Darah

Lampu di ruang arsip redup. Rak-rak tua berdiri berjejer rapat seperti dinding labirin. Nadira menyalakan senter ponselnya dan mulai memeriksa rak demi rak.
Di salah satu sudut, ia menemukan buku catatan kecil bersampul merah, tergeletak di atas meja kayu.

Sampulnya sudah sobek, tapi halaman pertamanya masih bisa dibaca. Tulisan tangan itu rapi namun tergores cepat, seperti ditulis dalam kepanikan:

“Hari ke-23. Aku masih mendengar langkah-langkah itu. Aku yakin bukan tikus. Mereka datang setiap tengah malam, berhenti di belakangku.”

Halaman berikutnya penuh coretan tidak beraturan dan satu kalimat yang menonjol:

“Tubuhku akan tertinggal di sini. Tapi suaraku… akan terus berputar di antara rak.”

Tiba-tiba lampu di ruangan itu bergetar. Dari arah belakang, terdengar suara benda jatuh keras. Nadira menoleh, tapi tak ada siapa-siapa. Saat ia menyorotkan senter ke lantai, tampak noda merah tua mengering di bawah meja, membentuk pola aneh seperti sidik jari.

Ia buru-buru keluar dari ruangan itu, tapi sebelum menutup pintu, terdengar suara napas berat di telinganya—sangat dekat, namun tak terlihat siapa pun.


Misteri Lama: Penjaga yang Tak Pernah Pulang

Malam itu, Nadira tidak bisa tidur. Bayangan ruang arsip terus menghantui pikirannya.
Keesokan paginya, ia memberanikan diri bertanya kepada salah satu pegawai senior, Bu Ningsih, yang telah bekerja sejak masa awal perpustakaan dibuka kembali.

Bu Ningsih menatapnya dengan wajah serius.

“Kau membuka ruang itu, ya?”
Nadira mengangguk pelan.
“Yang mati di sana dulu namanya Pak Seno. Dia penjaga malam yang rajin. Suatu malam, dia tidak pulang. Ditemukan tiga hari kemudian… tubuhnya membusuk di bawah meja arsip, tangannya mencengkeram buku merah yang kau temukan.”

Menurut cerita, Pak Seno meninggal karena serangan jantung. Namun beberapa petugas kebersihan bersumpah melihat bayangannya masih mondar-mandir di antara rak setiap malam.
Bahkan, pernah ada mahasiswa yang mengaku melihat tubuh tak bernyawa berdiri tegak, memeluk buku, matanya kosong menatap ke arah pintu.

Nadira terdiam. Buku merah itu kini tersimpan di meja kerjanya. Entah mengapa, setiap kali ia mencoba membuangnya, buku itu selalu kembali ke tempat semula.


Malam Kedua: Suara dari Rak Buku

Malam berikutnya, Nadira kembali lembur sendirian. Kali ini ia mencoba bekerja di ruang utama, jauh dari ruang arsip.
Namun sekitar pukul sembilan, suara aneh mulai terdengar dari arah rak buku tua: bunyi langkah kaki dan suara kertas disobek.

Ia menghampiri sumber suara itu. Semua rak terlihat biasa—sampai ia menemukan buku jatuh terbuka di lantai dengan halaman bergambar sketsa manusia tanpa wajah.
Begitu ia menunduk untuk memungutnya, dari celah antara rak terdengar bisikan:

“Aku belum selesai mencatat…”

Senter ponselnya berkedip. Ketika ia menyorotkan cahaya, tampak sosok bayangan lelaki berseragam penjaga berdiri di ujung lorong, punggungnya membungkuk, dan satu tangannya memegang buku merah.

Sosok itu berjalan perlahan, meninggalkan jejak basah di lantai. Nadira berlari ke arah pintu keluar, namun gagangnya dingin seperti es. Dari kaca jendela, ia melihat pantulan tubuhnya sendiri, tapi bayangan di cermin tidak bergerak bersamaan—bayangan itu menatapnya dan tersenyum.


Kebenaran yang Terkubur: Catatan Terakhir

Keesokan harinya, Nadira menghubungi salah satu dosen sejarah lokal, Pak Damar, untuk meminta informasi tentang perpustakaan itu. Setelah menelusuri arsip lama, mereka menemukan sesuatu yang tidak pernah dipublikasikan:
pada masa kolonial, gedung itu bukanlah perpustakaan, melainkan kantor dokumentasi Belanda tempat penyimpanan data dan tahanan politik lokal.

Di ruang bawah tanah—yang kini menjadi ruang arsip—banyak orang ditahan dan disiksa. Salah satunya, seorang penulis muda yang tewas di meja kayu yang sama tempat tubuh Pak Seno ditemukan bertahun-tahun kemudian.

“Mungkin roh penulis itu tak pernah tenang,” ujar Pak Damar.
“Mungkin ia memilih menempel pada orang terakhir yang membaca catatannya.”

Mendengar itu, Nadira merasa pusing. Ia pulang dengan tubuh lemas, tapi malamnya, saat membuka tas, buku merah itu kembali ada di dalamnya—basah, dan di halaman terakhir tertulis tinta segar:

“Kini kau yang harus menyelesaikan catatan ini, Nadira…”


Puncak Teror: Tubuh yang Menyapa

Malam berikutnya, hujan turun deras. Listrik padam di seluruh area sekitar perpustakaan. Nadira, gelisah, memutuskan kembali ke ruang arsip untuk mengakhiri semuanya.
Ia membawa korek api dan lilin, berniat membakar buku merah itu di meja tempat ia menemukannya.

Begitu lilin menyala, bayangan di dinding bergerak sendiri, membentuk sosok lelaki berseragam penjaga.

“Kau tak seharusnya datang kembali,” bisik suara berat dari balik rak.
“Tubuhku mungkin tak bernyawa… tapi suaraku masih di sini.”

Nadira menyalakan api di ujung buku, tapi api itu segera padam seolah tersapu angin dari dalam tanah.
Dari bawah meja, muncul tangan pucat penuh darah mencengkeram kakinya. Ia menjerit, terjatuh, dan melihat tubuh penjaga itu merangkak keluar dari bawah meja, matanya hitam, bibirnya membiru, dan dari mulutnya keluar desis panjang seperti desahan terakhir.

Ruang arsip bergetar. Semua rak buku roboh satu per satu, namun tubuh itu tetap merangkak mendekat.
Ia meraih leher Nadira dan berbisik,

“Kau yang membuka… kau yang menulis ulang…”

Lalu semuanya gelap.


Penutup: Perpustakaan yang Tak Pernah Benar-Benar Sepi

Dua minggu kemudian, petugas menemukan perpustakaan dalam keadaan porak-poranda. Semua rak buku tumbang, namun tak ada tanda-tanda perampokan.
Di meja kayu ruang arsip, ditemukan buku merah terbuka dengan tulisan tangan baru:

“Hari ke-1. Aku masih mendengar langkah-langkah itu. Aku yakin bukan tikus…”

Dan di kursi depan meja itu, duduk sosok Nadira—diam, tubuhnya kaku, dengan tangan mencengkeram pena, menatap kosong ke arah rak buku.

Polisi menyebutnya mati mendadak akibat serangan jantung.
Namun sejak hari itu, setiap malam pukul dua belas, petugas keamanan mengaku mendengar suara ketikan mesin tik dari ruang arsip, meski tidak ada siapa pun di sana.

Dan di meja yang sama, buku merah itu selalu terbuka di halaman terakhir—halaman yang kini kosong, seolah menunggu seseorang untuk melanjutkan ceritanya.

Food & Traveling : Makanan Berbumbu Kacang yang Jadi Primadona Nusantara

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post