Pendahuluan
Pada malam bulan purnama, patung menangis darah di halaman Keraton Jogja menyita perhatian seorang wisatawan dan penjaga malam. Selain rona merah yang menetes pelan dari sudut matanya, aura mencekam menyelimuti sekeliling, memaksa siapa saja menahan napas sebelum mendekat. Oleh karena itu, kisah ini dimulai dengan bisikan angin, langkah kaki berderap, dan denting gong yang entah mengapa terdengar samar dari balik tembok keraton.
Latar Belakang Keraton dan Patung Tua
Pertama-tama, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bukan sekadar kompleks istana, melainkan pusat budaya yang sarat mitos. Selain bangunan gaya Jawa klasik, terdapat pekarangan belakang yang selama ratusan tahun dijaga ketat. Lebih jauh, di tengah halaman berdiri sebuah patung batu mirip siwa, didirikan pada masa Sultan Hamengkubuwono II. Bahkan, konon patung itu dibuat dari batu cadangan yang diambil dari reruntuhan candi kuno.
Malam Pertama Teror
Selanjutnya, pada suatu malam Jumat Kliwon, rasanya biasa saja hingga penjaga bernama Jaka mendengar suara tetesan. Selain ritme aneh, gemuruh halus seperti rintihan merayap di udara. Kemudian, tatkala ia menyalakan senter, pemandangan di depan matanya mengguncang jiwa: patung menangis darah, darah merah pekat mengalir dari kedua mata batu itu, menetes di pangkuannya dan menodai dedaunan kering di sekitarnya.
Penyidikan Awal
Di sisi lain, tim keamanan keraton segera memeriksa patung untuk memastikan tidak ada kabel saluran air merah atau cairan kimia. Selanjutnya, mereka membersihkan noda dan menunggu—namun pada malam berikutnya, darah kembali muncul lebih deras bahkan menetes ke kaki pengunjung yang penasaran. Dengan demikian, fenomena ini murni supranatural, tanpa jejak campur tangan manusia.
Ketakutan Para Saksi
Lebih lanjut, salah satu saksi, seorang guru seni bernama Rini, menggambarkan suara rintihan remuk yang menemani darah: “Seperti jeritan jiwa terperangkap,” katanya sambil gemetar. Oleh karena itu, banyak orang menolak melewati halaman keraton selepas maghrib. Bahkan wisatawan asing lari terbirit-birit ketika melihat sosok berjubah putih yang tiba-tiba melintas di balik bayangan kolom batu.
Pencarian Asal Muasal Kutukan
Kemudian, penelusuran menuju arsip keraton mengungkap bahwa patung tersebut dibawa dari Candi Prambanan pasca erupsi Merapi pada abad ke-19. Selain itu, ada catatan kuno tentang seorang pendeta yang memuja arwah raja Jawa terdahulu, mengikat kesaktiannya dalam batu—dan patung itu dipercaya sebagai wadah kutukan jika pelindung istana melanggar titah leluhur.
Rimbit Ritual Tolak Bala
Lebih jauh, untuk menghentikan darah yang terus mengalir, tetua keraton menggelar upacara rimbit pada malam ke-5 teror. Selain tabuhan gamelan pelan, mereka membakar kemenyan, melantunkan kidung Jawa, dan menaburkan air suci. Namun, pada puncak ritual, gejolak supranatural memuncak: lampu kelap-kelip, gong terjungkal sendiri, hingga gonggongan anjing menjelma tangisan bayi. Meskipun demikian, darah di patung perlahan surut, meninggalkan retakan halus di pipi kanannya.
Misteri Retakan Batu
Di lain pihak, pengecekan retakan menunjukkan susuk merah memancar dari lubang kecil—seolah aliran darah terperangkap di dalam batu. Selain itu, para ulama dan ahli batu menduga ada material organik terpendam, kemungkinan korban ritual zaman kolonial. Lebih lanjut, mereka menemukan segel kuno di dasar patung yang menyiratkan janji darah jika sumpah pelindung keraton dilanggar.
Kembalinya Teror dalam Bisikan Angin
Selanjutnya, setelah retakan ditutup batu berkah dan upacara selesai, halaman keraton tampak tenang. Namun, beberapa malam kemudian, para penjaga mendengar bisikan dari balik jendela tembok: suara tangisan pelan diiringi tetesan darah kecil dari mulut patung, bukan dari mata. Oleh karena itu, mereka menyimpulkan kutukan belum sepenuhnya sirna—kutukan itu kini beradaptasi, menuntut korban baru untuk dipersembahkan.
Pengorbanan yang Menghentikan Darah
Kemudian, demi menghentikan kutukan, kepala keraton memutuskan melakukan ritual pengorbanan simbolis: seuntai kain sutra merah diletakkan di tangan patung, dilumuri darah ayam jantan hitam, dan diarak berkeliling tembok keraton. Selain itu, kidung doa dipadu nyanyian semedi hingga fajar. Berbeda dari sebelumnya, darah berhenti mengalir, dan retakan di pipi patung tampak tertutup rapat oleh embun pagi yang menyinari.
Jejak Akhir di Halaman Keraton
Akhirnya, beberapa bulan kemudian, patung kembali tenang—tanpa tetesan darah atau bisikan gaib. Meski begitu, retakan kecil masih terlihat jika sinar matahari menyorot dari sudut tertentu. Selain itu, penjaga malam tak lagi melihat sosok putih, tetapi sesekali mendengar gemericik air dan wewangian kemenyan samar. Dengan demikian, kisah patung menangis darah tetap menjadi legenda hidup bagi Keraton Jogja, mengingatkan akan sumpah leluhur dan kekuatan gaib yang tak boleh diabaikan.