Kepulangan ke Tongkonan Tua: Warisan yang Dingin
Pagi itu, kabut tipis dan udara dingin khas pegunungan menyambut kedatangan keluarga Mangkua di Tana Toraja. Mereka baru saja tiba dari Makassar, kembali ke Tongkonan leluhur mereka, sebuah rumah adat tradisional yang megah dengan atap perahu melengkung yang menjulang ke langit. Meskipun demikian, rumah itu tampak suram dan lembap, seolah-olah telah lama ditinggalkan dan ditinggali hanya oleh keheningan.
Keluarga Mangkua terdiri dari Pak Daniel, kepala keluarga; Bu Martha, istrinya yang gelisah; dan Joni, putra sulung mereka yang skeptis. Tujuan kepulangan mereka sangat sensitif: melaksanakan upacara Rambu Solo’ (upacara kematian) untuk Nenek Rante, yang jenazahnya telah disimpan selama dua tahun di lantai atas Tongkonan. Bagi masyarakat Toraja, jenazah yang disimpan di rumah itu dianggap sebagai ‘orang sakit’ yang masih hidup, tetapi bagi Joni, itu adalah praktik yang membuat bulu kuduk berdiri.
Sejak awal, Bu Martha merasa tidak nyaman. Dia terus-menerus menatap ke arah salah satu kamar di lantai atas. Kamar itu, ditutupi oleh tirai bambu yang tebal dan usang. Di baliknya, bersemayam jenazah Nenek Rante. Meskipun Nenek Rante telah meninggal, ia tetap dihormati sebagai bagian dari keluarga.
Tak lama kemudian, saat Pak Daniel sedang sibuk membereskan barang, Bu Martha dan Joni mendengar sesuatu. Itu adalah suara samar, halus, seperti desahan seorang wanita yang tercekik. Suara itu berasal dari belakang kamar ber-tirai bambu itu. Suara itu adalah tangisan di balik tirai.
Ritual Kelam dan Larangan di Malam Hari
Joni, yang berusaha rasional, menduga itu hanya suara angin yang melewati celah-celah papan kayu tua. Namun demikian, suara itu terdengar terlalu jelas dan spesifik. Malam pertama mereka di rumah itu adalah malam teror. Saat mereka bersiap untuk tidur, suara tangisan itu berubah menjadi ratapan yang lebih jelas dan memilukan. Bahkan, suara itu terkadang disertai dengan suara goresan seolah kuku panjang menggaruk papan.
Pak Daniel, yang mulai gelisah, menjelaskan bahwa Nenek Rante memiliki sejarah yang kelam. Dia adalah seorang Ma’nene (upacara membersihkan jenazah) yang dulunya sangat dihormati. Namun, sebelum meninggal, ia diduga terlibat dalam ritual pemakaman kuno yang terlarang, sebuah perjanjian yang melibatkan pengambilan ‘bagian’ dari jenazah orang lain untuk memperpanjang hidup. Oleh karena itu, kematiannya dianggap tidak damai.
Untuk menenangkan istrinya, Pak Daniel meminta semua orang untuk tidak mendekati kamar jenazah setelah matahari terbenam. Ia juga berpesan agar tidak ada yang mencoba mengintip atau menyentuh tirai bambu itu. Meskipun demikian, rasa penasaran Joni semakin memuncak, dan ketakutan Bu Martha berubah menjadi obsesi untuk mencari tahu sumber tangisan di balik tirai tersebut.
Pembukaan Tirai: Kengerian di Ruang Jenazah
Pada malam kedua, Bu Martha tidak tahan lagi. Setelah memastikan Pak Daniel tertidur, ia diam-diam mengambil lampu minyak dan menaiki tangga. Meskipun kakinya gemetar, ia didorong oleh keinginan putus asa untuk menghentikan suara itu. Joni, yang diam-diam mengikutinya, melihat ibunya berdiri di depan tirai bambu yang lembap.
Pada saat itu, tangisan di balik tirai mencapai puncaknya. Tangisan itu terdengar seperti rengekan bayi yang tersiksa, dicampur dengan suara wanita dewasa yang meratap. Tiba-tiba, Bu Martha menyentuh tirai itu.
Saat tirai itu bergeser sedikit, lampu minyak di tangan Bu Martha mati total. Ruangan itu diselimuti kegelapan total, sehingga hanya ada suara-suara yang mencekik. Lalu, Joni mendengar ibunya berteriak dengan suara yang mengerikan. Joni langsung menyalakan senter ponselnya.
Cahaya senter itu menyorot langsung ke bagian dalam kamar. Di sana, di atas ranjang kayu sederhana, berbaring jenazah Nenek Rante. Tubuhnya terbungkus kain adat Toraja, tetapi yang paling mengejutkan adalah posisinya. Jenazah itu tidak berbaring rapi, melainkan setengah duduk, kepalanya sedikit menoleh ke arah tirai. Di tangannya, terikat sebuah boneka bayi yang terbuat dari jerami.
Manifestasi Arwah yang Terperangkap
Bu Martha kini terbaring di lantai, pingsan. Namun, bukan hanya jenazah Nenek Rante yang membuat Joni ketakutan. Di belakang ranjang, ia melihat bayangan hitam bergerak perlahan. Bayangan itu tidak memiliki bentuk yang jelas, tetapi tampak seperti sosok yang tinggi dan kurus.
Tiba-tiba, tirai bambu itu bergeser sepenuhnya, dan bayangan itu semakin mendekat. Dari dalam kegelapan, ia mendengar tangisan di balik tirai itu berubah. Tangisan itu kini menyerupai suara Nenek Rante sendiri, tetapi diucapkan secara terbalik, sebuah bahasa kuno yang menyiratkan kutukan.
Dengan cepat, Joni mengambil tindakan. Ia menyeret ibunya menjauh dari kamar itu. Sementara itu, ia merasakan hawa dingin yang luar biasa mencekik tenggorokannya. Ketika ia menoleh sebentar, ia melihat jenazah Nenek Rante kini benar-benar tegak. Boneka jerami di tangannya tampak bergerak-gerak.
Saat itulah Pak Daniel datang, terbangun oleh suara teriakan Bu Martha. Ia melihat kengerian yang dihadapi Joni. Tanpa berkata-kata, Pak Daniel menarik anak dan istrinya turun ke lantai dasar.
Penjelasan dan Kutukan yang Harus Dilanjutkan
Keesokan paginya, Pak Daniel menjelaskan semuanya. Ternyata, jenazah yang disimpan di Tongkonan itu bukanlah jenazah Nenek Rante yang asli, melainkan hanya wadah. Jasad Nenek Rante yang sebenarnya telah dipindahkan secara rahasia untuk ritual terlarang Ma’nene yang harus dilakukan setiap dua tahun. Ritual ini bertujuan untuk meminta usia dari roh yang terperangkap.
“Tangisan itu,” kata Pak Daniel dengan suara bergetar, “Bukan Nenek Rante. Melainkan roh dari seorang anak yang pernah ia korbankan untuk ritualnya. Roh itu terperangkap bersama sisa-sisa energi jahat di Tongkonan ini. Oleh karena itu, roh itu menuntut balas dendam.”
Mereka harus menyelesaikan upacara Rambu Solo’ Nenek Rante secepatnya untuk memutus rantai kutukan tersebut. Tetapi, mereka tahu tugas itu tidak akan mudah. Setiap malam menjelang upacara, tangisan di balik tirai itu akan semakin keras, dan bayangan di balik tirai itu akan semakin nyata.
Pada akhirnya, keluarga Mangkua berhasil melaksanakan Rambu Solo’. Namun, mereka tidak pernah kembali ke Tongkonan itu lagi. Mereka meninggalkan Tongkonan tua itu dalam keheningan yang menyesakkan, sebab mereka tahu bahwa roh yang terperangkap dan tirai bambu yang lembap itu akan selalu ada, menunggu keluarga lain yang nekat datang, dan menunggu tangisan di balik tirai untuk kembali menggoda.
Inspirasi & Motivasi : Mengatasi Prokrastinasi dengan Strategi Motivasi Efektif