Tangan Dingin Menggenggam Di Jembatan Ampera

Tangan Dingin Menggenggam Di Jembatan Ampera post thumbnail image

Awal Malam di Kota Palembang

Sejak kecil, aku sering mendengar bahwa Jembatan Ampera menyimpan banyak kisah misteri. Meskipun begitu, aku selalu menganggapnya sebagai cerita berlebihan yang dibuat warga kota agar generasi muda tidak keluyuran larut malam. Namun, semua berubah ketika aku merasakan sendiri sentuhan dingin yang selama ini hanya dianggap mitos. Selain itu, kejadian yang kualami ternyata jauh lebih menyeramkan dari apa pun yang pernah kudengar.

Pada malam itu, aku pulang dari tempat kerja lebih larut dari biasanya. Karena acaranya berlangsung lebih lama dari perkiraan, aku terpaksa berjalan kaki melintasi jembatan untuk mengejar bus terakhir. Sementara itu, malam terasa lebih sunyi dari biasanya meskipun angin kota masih berembus cukup kuat. Namun, karena aku tidak ingin semakin larut di jalan, aku melangkah cepat sambil menatap cahaya kota yang memantul di permukaan Sungai Musi.

Walaupun lampu-lampu di sepanjang jembatan terlihat terang, suasananya tetap saja mengandung kesunyian yang sulit dijelaskan. Selain itu, suara air yang bergelombang di bawah jembatan terdengar seperti bisikan yang saling bersahutan. Meskipun suasana terasa ganjil, aku mencoba menenangkan diri dengan berpikir bahwa semua hanyalah kelelahan setelah bekerja.


Tanda-Tanda Awal Kehadiran yang Tak Terlihat

Ketika aku hampir mencapai bagian tengah jembatan, tiba-tiba angin berhenti sama sekali. Karena perubahan itu muncul begitu cepat, aku langsung merasakan bulu kudukku berdiri. Selain itu, udara yang semula hangat mendadak berubah menjadi sangat menusuk. Meskipun aku mengenakan jaket tebal, rasa dinginnya terasa sampai ke tulang.

Sementara itu, langkah kakiku mulai terasa berat tanpa alasan. Seakan-akan sesuatu menahanku dari belakang. Meskipun aku menoleh untuk memastikan tidak ada orang yang mengikutiku, jalan di belakangku tampak kosong. Cahaya lampu jalan memantul di aspal yang basah karena embun, namun tidak ada satu pun bayangan manusia yang terlihat.

Setelah beberapa menit berjalan, aku mulai mencium aroma wangi bunga kenanga. Meskipun aromanya lembut, namun sangat tidak wajar muncul sempurna di tengah jembatan pada malam yang setenang itu. Selain itu, angin yang sebelumnya berhenti masih belum kembali, sehingga aroma itu terasa seperti datang langsung dari tubuh seseorang di dekatku.

Karena rasa takut mulai muncul, aku mempercepat langkah. Namun, semakin aku berjalan, semakin kuat aroma itu terasa. Meskipun aku mencoba mengabaikannya, suasananya semakin menyesakkan dada.


Kemunculan Tangan yang Menggenggam

Ketika aku melewati sebuah titik yang sebagian besar orang sebut sebagai “titik gelap” di Jembatan Ampera, kejadian yang tidak pernah bisa kulupakan itu pun terjadi. Tiba-tiba, sesuatu meraih tanganku dari sisi kiri. Sentuhan dingin itu sangat nyata, seakan tangan seseorang memegangku dengan kuat namun tanpa tekanan. Meskipun genggamannya halus, rasa dinginnya menusuk seperti es yang menempel langsung ke kulit.

Aku terhenti seketika karena rasa takut menyergap tubuhku. Selain itu, aku merasa bahwa tangan itu bukan berasal dari manusia. Jari-jari yang menyentuhku terasa terlalu panjang dan terlalu kurus untuk milik seseorang yang hidup. Meskipun aku ingin segera menarik tanganku, genggaman itu justru semakin erat.

Dengan gemetar, aku menoleh perlahan ke arah kiri. Namun, tak ada siapa pun di sana. Jalanan kosong. Angin tidak berembus. Lampu jalan tetap menyala namun cahaya di titik itu tampak meredup seperti kehabisan nyala. Walaupun logikaku menolak, aku tahu genggaman itu bukan hal yang bisa kuabaikan.

Ketika genggamannya berubah semakin dingin, rasanya seperti darahku berhenti mengalir. Selain itu, jari-jari itu merayap hingga pergelangan tanganku. Meski aku ingin berteriak, suaraku tidak keluar sama sekali.


Sosok di Tepi Jembatan

Sementara genggaman itu masih mencengkeram, sesuatu mulai muncul di ujung pandanganku. Dari balik kabut tipis di atas sungai, sebuah sosok perempuan perlahan muncul. Rambutnya terurai panjang dan basah, dan gaun putihnya berkibar tertiup angin yang entah mengapa hanya berembus di sekitar tubuhnya. Meskipun wajahnya tertutup rambut, aku bisa merasakan tatapannya langsung menembus dadaku.

Ketika sosok itu semakin jelas, genggaman di tanganku semakin erat seolah tangan itu ingin menyeretku ke arahnya. Selain itu, air mata tiba-tiba mengalir tanpa bisa kutahan. Meskipun aku tidak tahu siapa perempuan itu, ada rasa duka yang sangat kuat yang entah bagaimana ikut merasuki diriku.

Sosok itu kemudian bergerak maju. Gerakannya sangat lambat, namun langkahnya terasa lebih menyeramkan daripada apa pun yang pernah kulihat. Selain itu, setiap kali gaunnya bergerak, terdengar suara seperti kain basah yang diseret di lantai besi jembatan.

Semakin dekat ia datang, udara semakin dingin. Selain itu, aroma kenanga tadi berubah menjadi aroma tanah basah bercampur air sungai yang stagnan. Meskipun aku ingin memalingkan wajah, pandanganku terkunci padanya seakan ada magnet gaib yang memaksaku melihat.


Kisah Tragis yang Terungkap

Ketika sosok itu hanya berjarak beberapa meter, suara lirih tiba-tiba muncul di kepalaku. Suaranya seperti suara perempuan muda yang menahan tangis, namun kata-katanya jelas. Ia berkata bahwa dirinya pernah ditinggalkan dan dibuang oleh seseorang yang sangat ia percayai. Meskipun ia berusaha menyelamatkan diri, kakinya terperosok ke pinggiran jembatan sehingga ia jatuh ke sungai.

Air sungai yang gelap menelan tubuhnya, sedangkan orang yang ia percayai justru pergi tanpa pernah mencarinya lagi. Karena tubuhnya terseret arus deras di bawah jembatan, ia tidak bisa ditemukan untuk waktu yang lama. Ketika akhirnya jasadnya muncul, wajahnya rusak karena terlalu lama berada di air.

Sementara suara itu terus bergema, genggaman dingin di tanganku mulai bergerak naik. Jari-jari itu perlahan merayap ke lenganku hingga membuatku mengerang karena rasa sakit yang muncul mendadak. Selain itu, sosok itu terus mendekat, dan rambut basahnya mulai menjuntai menyentuh permukaan jembatan.

Aku sadar bahwa ia tidak ingin sekadar menakutiku. Ia ingin menarikku. Mungkin ia merasa aku bisa menggantikan dirinya, atau mungkin ia ingin aku ikut merasakan nasib yang sama dengannya.


Puncak Teror di Tengah Jembatan

Ketika ia hanya berjarak satu langkah dariku, tiba-tiba tatapan matanya muncul di sela-sela rambut yang bergerak. Mata itu hitam, kosong, dan penuh sakit. Selain itu, air sungai masih terus menetes dari ujung rambutnya dan jatuh ke kakiku seperti jarum es yang menusuk.

Dalam hitungan detik, genggamannya tiba-tiba menarikku dengan keras. Tubuhku hampir terlempar ke sisi jembatan, namun aku berhasil menahan diri dengan memegang pagar besi. Meskipun begitu, jari-jari dinginnya menekan kulitku sampai terasa seperti terbakar dingin.

Sosok itu mengangkat tangan kanannya dan menunjuk langsung ke wajahku. Ketika ia melakukannya, angin yang semula mati berubah menjadi badai kecil yang berpusar di sekitarku. Selain itu, suara air di bawah jembatan terdengar seperti jeritan dari banyak orang sekaligus.

Aku menutup mata dan berteriak sekencang mungkin, berharap seseorang mendengarku. Namun, suara teriakku seperti tenggelam di antara suara angin dan gemuruh sungai.

Ketika aku membuka mata, sosok perempuan itu sudah menempel di wajahku. Rambut basahnya menutupi pipiku, dan matanya menatap langsung ke mataku dari jarak hanya beberapa sentimeter.


Penyelamatan yang Tidak Terduga

Ketika aku merasa tubuhku akan kehilangan kesadaran, suara keras meneriakkan namaku dari kejauhan. Sesuatu menarik tubuhku ke belakang dengan sangat kuat, membuatku terjatuh ke aspal jembatan. Ketika aku menoleh, aku melihat seorang bapak tua—petugas kebersihan jembatan—berlari ke arahku sambil membawa lampu sorot.

Cahaya lampu sorot itu menembus kabut dan langsung mengenai sosok perempuan tersebut. Dalam sekejap, tubuhnya bergetar, lalu memudar seperti asap yang tertiup angin. Selain itu, genggaman dingin di tanganku langsung lenyap, meninggalkan rasa nyeri seperti luka bekas gigitan.

Bapak tua itu menarik lenganku dan membawaku menjauh tanpa berkata sepatah kata pun. Ketika kami mencapai ujung jembatan, ia baru membuka suara. Dengan napas terengah, ia berkata bahwa aku sangat beruntung karena tidak semua orang yang digenggam oleh sosok itu berhasil selamat.

Ia bercerita bahwa kejadian itu telah sering terjadi sejak puluhan tahun lalu. Banyak yang melihat sosok perempuan itu melayang di tepi jembatan, terutama pada malam-malam tertentu ketika suasana kota sangat lengang.


Akhir yang Masih Mengikuti

Setelah kejadian itu, aku berjanji untuk tidak pernah lagi melintasi Jembatan Ampera pada malam hari. Namun, meskipun aku berusaha melupakan semuanya, bekas genggaman dingin itu masih tampak samar di kulitku. Selain itu, aroma kenanga kadang muncul di ruangan kosong tanpa alasan.

Sesekali, ketika aku berjalan di dekat Sungai Musi, aku merasa tangan yang sangat dingin menyentuh bahuku. Meskipun aku tahu itu hanya bayangan ketakutanku, sensasinya terasa begitu nyata.

Dan sekarang, setiap kali aku melewati jembatan dari kejauhan, aku selalu melihat sesuatu berdiri di sisi rel jembatan. Rambutnya panjang. Bajunya basah. Wajahnya menunduk. Namun, meskipun aku mencoba berpaling, aku tahu ia masih menungguku.

Karena itulah… aku tahu sentuhan dingin itu belum benar-benar pergi.

Flora & Fauna : Satwa Endemik Pulau Sumatera dan Upaya Pelestariannya Kini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post