Senandung yang Terputus Saat Senja
Langit menjingga membakar cakrawala ketika suara adzan senja menggema dari menara masjid tua di Desa Lebakrami. Suara itu terdengar lirih, seolah keluar dari masa lalu yang enggan dilupakan. Namun yang membuat bulu kuduk warga berdiri bukanlah lantunan adzannya, melainkan suara rebana berhenti seketika begitu adzan selesai.
Bukan karena pemainnya selesai menabuh. Tapi karena suara itu—yang selalu terdengar dari ruangan kosong di belakang masjid—menghilang begitu saja. Seolah menyadari bahwa waktunya telah usai.
Jejak Pertama: Datangnya Seorang Tamu Tak Diundang
Danu, mahasiswa jurnalistik dari Medan, datang ke Desa Lebakrami untuk membuat dokumentasi budaya Islam tua di Sumatera. Ia mendengar desas-desus tentang suara rebana berhenti setiap adzan senja dan menganggapnya sebagai urban legend menarik untuk dikupas.
Warga setempat menolak diwawancarai. Bahkan kepala desa menyarankan Danu untuk fokus ke sejarah masjid, bukan “hal-hal tak penting.” Tapi malam itu, Danu memutuskan merekam sendiri bunyi misterius tersebut.
Ia duduk di halaman masjid tua dengan kamera dan perekam suara. Menjelang senja, benar saja, suara rebana yang ritmenya lambat tapi dalam mulai terdengar dari ruangan belakang masjid. Padahal, ia telah memeriksa ruangan itu sebelumnya dan kosong total.
Suara rebana itu menghentak seperti detak jantung. Semakin lama, semakin cepat. Hingga adzan berkumandang, lalu… diam. Sunyi. Seolah waktu sendiri ikut membeku.
Ruangan Terkunci dan Jejak Masa Lalu
Keesokan harinya, Danu kembali menelusuri ruangan di belakang masjid. Di balik rak-rak tua dan sajadah usang, ia menemukan sebuah pintu kecil tertutup rapat dengan gembok berkarat. Di atasnya tertulis huruf Arab gundul yang samar: Al-Mawt al-Mu’annad — “Kematian yang Diseru.”
Danu mencatat semuanya dalam jurnalnya. Ia lalu bertemu Pak Muhtar, imam masjid yang sudah sepuh dan nyaris bisu. Lewat tulisan di kertas, Pak Muhtar menjelaskan bahwa ruangan itu dahulu adalah tempat latihan rebana bagi santri yang telah wafat.
“Yang hidup tak boleh masuk,” tulisnya.
Danu hanya tersenyum. Ia sudah terlalu dalam untuk mundur. Malam itu, ia kembali dan mendengar suara rebana, lebih jelas dari sebelumnya. Tapi ada hal baru: suara bisikan yang mengikuti setiap dentuman rebana, dalam bahasa yang tidak ia mengerti.
Senja Ketiga: Irama yang Memanggil
Malam ketiga menjadi titik perubahan. Danu terbangun mendadak saat mendengar suara rebana dari arah kamar kosnya di rumah warga. Tidak mungkin, karena ia berada ratusan meter dari masjid. Ia keluar rumah dan mengikuti suara itu.
Ia menemukan dirinya kembali di depan pintu terkunci di belakang masjid. Tapi kali ini, pintu itu terbuka sedikit.
Meski ragu, rasa penasaran menguasai Danu. Ia mendorong pintu perlahan. Ruangan itu gelap, hanya cahaya remang dari luar yang masuk. Di dalam, terlihat barisan rebana tergantung rapi, tapi semuanya berlumur debu.
Tiba-tiba, satu rebana bergerak sendiri, lalu menabuh dirinya pelan-pelan. Suaranya menggema, seolah ruangan berubah menjadi aula akustik yang tak berbatas. Bayangan-bayangan hitam mulai muncul, berdiri mengelilingi Danu—seperti santri bersarung putih yang wajahnya kabur.
Mereka berdzikir dalam suara rendah, namun tidak menggunakan bahasa yang Danu kenali.
Wahyu dari Kuburan Lama
Ketakutan mulai menggantikan rasa penasaran. Danu meninggalkan masjid dan mencari informasi ke makam tua di belakang desa. Di sana, ia bertemu Nenek Rumi, satu-satunya yang mau bicara tentang masa lalu masjid.
“Rebana itu milik santri yang mati dalam zikir,” katanya dengan suara serak. “Dulu, saat adzan senja dikumandangkan, mereka tak mau berhenti. Mereka tabuh terus, sampai tubuh mereka jatuh ke tanah, jiwanya terkunci dalam irama.”
Menurutnya, suara rebana berhenti bukan karena ditabuh manusia, tapi karena mereka yang di sana “menyadari batas waktu.” Jika rebana itu tak berhenti sendiri, berarti portal antara dunia hidup dan mati akan terbuka lebih lama.
Dan jika ada yang mencoba masuk… mereka akan ikut tertahan di dalamnya.
Tertinggal di Antara Dua Dunia
Malam keempat, Danu tak muncul di rumah warga. Mereka mengira ia pergi pagi-pagi ke kota. Tapi kamera dan ranselnya ditemukan tergeletak di depan masjid.
Di dalam rekaman kamera, terlihat Danu memasuki ruangan rebana. Saat adzan senja berkumandang, rebana berhenti seperti biasa. Tapi Danu tidak keluar. Suaranya terdengar memanggil dari balik pintu—lirih, panik.
Namun saat warga datang, ruangan itu kembali terkunci dan kosong. Semua rebana menggantung tak bergerak. Hanya satu hal yang berubah: sebuah rebana kini bergetar sendiri setiap senja, menabuh irama yang lebih cepat, lebih keras… seolah memanggil bantuan.
Akhir Terbuka: Suara yang Masih Terdengar
Kini, suara rebana berhenti setiap senja masih terdengar di Desa Lebakrami. Tapi beberapa warga mengatakan, kadang suara itu tidak berhenti, bahkan saat adzan telah selesai. Mereka yang mendengarnya sampai habis, mengaku melihat sosok berdiri di balik jendela masjid—muda, mengenakan hoodie, dengan kamera tergantung di lehernya.
Dan setiap malam Jumat terakhir di bulan, suara itu bertahan lebih lama, tabuhannya lebih gelap, iramanya seperti jantung yang tak mau mati. Konon, itulah saat Danu mencoba kembali.
Penutup: Pantulan Irama di Antara Kehidupan dan Kematian
Kisah ini bukan sekadar legenda desa. Suara rebana berhenti telah menjadi peringatan tak kasat mata bahwa ada batas antara dunia yang hidup dan yang diam—dan bahwa musik, doa, dan waktu memiliki simpul yang tidak boleh dilepaskan.
Bila suatu hari kamu mendengar rebana berhenti usai adzan senja dari masjid yang sunyi—jangan mendekat. Jangan mencari siapa yang menabuh. Karena bisa jadi, mereka hanya ingin kamu ikut berdzikir… selamanya.
Lifestyle : Minimalisme Modern: Sederhana Tanpa Kehilangan Arah Hidup