Suara Azan Palsu Menggema Di Kampung Hilang Lombok

Suara Azan Palsu Menggema Di Kampung Hilang Lombok post thumbnail image

Kedatanganku ke Kampung Hilang

Perjalanan menuju Lombok awalnya hanya tugas kuliah tentang pemetaan desa tua. Namun dosen memberi satu lokasi tambahan: sebuah area terpencil yang oleh warga disebut Kampung Hilang. Desa itu tidak tercantum di peta digital mana pun, tetapi disebut masih memiliki sisa pondasi masjid kuno. Karena rasa penasaran cukup besar, aku memutuskan untuk berkunjung meski beberapa warga melarang.

Setelah memasuki daerah hutan kecil, jalan setapak mulai jarang ditemukan. Meskipun begitu, hawa udara masih terasa biasa saja. Namun situasi berubah ketika aku melihat batu-batu berlumut yang disusun membentuk undakan tua. Dari arah itu, suasana mendadak menjadi hening. Tidak ada suara burung, tidak ada suara angin, bahkan gemerisik ranting pun seolah hilang.

Saat itulah suara azan menggema dari kejauhan. Arah datangnya tidak jelas. Nada awalnya merdu, tetapi pada bagian akhir seperti terpatah-patah, seakan muazin kehilangan napas. Karena azan biasanya menandakan keberadaan manusia, aku berjalan mengikuti suara itu. Namun anehnya, setiap langkah mendekat, gema suara justru terdengar lebih jauh, seolah menjauh dariku.


Masjid Tanpa Atap

Setelah menembus semak yang cukup tinggi, aku menemukan sebuah lapangan kecil. Di tengahnya berdiri bangunan masjid tua tanpa atap. Dindingnya sebagian runtuh, mimbar kayunya patah, dan lantai batunya ditutup lumut hijau. Meskipun bangunannya hancur, garis bentuk masjid itu masih terlihat jelas.

Suasana di sekitar masjid sangat dingin meski matahari masih terang. Ketika aku mencoba mengambil foto, kamera ponsel tiba-tiba mati. Saat kucoba menghidupkannya, layar hanya berkedip sekali sebelum padam total. Karena situasinya tidak wajar, aku memutuskan untuk memeriksa bagian dalam masjid.

Saat melangkah masuk, aroma tanah basah bercampur bau anyir langsung tercium. Gema langkahku menimbulkan suara berat, seolah lantai di bawahku berlubang dalam. Walaupun tidak ada apa pun di dalam bangunan, hawa di tengah ruangan terasa berbeda, seperti ada seseorang yang berdiri di tempat yang sama.

Ketika aku memandang keluar masjid, suara azan tiba-tiba menggema lagi. Namun kali ini suaranya jauh lebih nyata. Lafadz awalnya terdengar sempurna, tetapi bagian tengahnya berubah menyerupai suara tercekik. Bahkan pada seruan terakhir, suara itu terdengar seperti dipaksa keluar dari tenggorokan yang tersumbat.


Warga yang Menghilang

Setelah keluar dari area masjid, seorang lelaki tua tiba-tiba muncul dari balik pohon besar. Rambutnya putih dan kusut, wajahnya pucat, dan matanya tampak seperti tidak tidur berhari-hari. Walaupun kedatangannya mengejutkanku, tatapannya tidak terlihat bermusuhan.

Ia memperingatkanku agar tidak tinggal di tempat itu sampai sore. Menurutnya, desa itu dahulu dihuni belasan keluarga yang selalu rukun. Namun setelah suatu kejadian, seluruh warga menghilang bersamaan. Warga desa sekitar hanya menemukan masjid dalam keadaan seperti sekarang—hancur dan kosong.

Ketika lelaki itu berjalan pergi, langkahnya tidak menimbulkan suara sama sekali. Meskipun aku ingin bertanya lebih banyak, tubuhku seperti menolak mengejarnya. Ada sesuatu yang membuatku tidak ingin mendekatinya lagi.

Setelah lelaki itu menghilang di balik pepohonan, suara azan kembali terdengar. Suaranya kali ini lebih jelas dan lebih panjang dari sebelumnya. Namun berbeda dengan azan biasa, gema akhirnya memudar dengan nada rendah yang tidak manusiawi. Terlalu panjang untuk suami, terlalu dingin untuk suara manusia.


Menunggu Hingga Senja

Karena penasaran, aku memutuskan tetap berada di lokasi hingga menjelang senja. Meski langit masih cerah, kabut tipis turun secara perlahan dari arah hutan. Kabut itu menutupi sebagian masjid hingga bentuknya tampak seperti bayangan hitam yang bergerak sendiri.

Saat duduk di dekat undakan batu, aku mendengar suara langkah banyak orang. Langkah itu berasal dari arah belakang masjid. Semakin lama suara itu semakin jelas, namun tidak ada satu pun sosok yang benar-benar terlihat. Karena keadaan semakin menekan, aku bangkit dan berusaha mendekati arah datangnya langkah-langkah itu.

Ketika aku memutari sisi masjid, udara tiba-tiba berubah sangat dingin. Dalam jarak beberapa meter, siluet orang-orang mulai terlihat. Bentuk tubuh mereka samar, seolah terbuat dari kabut yang pekat. Tanpa suara, mereka bergerak menuju masjid.

Dalam ketenangan yang menakutkan itu, suara azan kembali terdengar.

Namun kali ini, suara itu menggema dari tengah kerumunan kabut.


Azan yang Terdengar Seperti Tangisan

Azan itu dimulai dengan lafadz yang normal. Tetapi saat bagian “hayya ‘alal falah” seharusnya dikumandangkan, suara itu berubah menyerupai tangisan. Nada melengking di ujung suaranya, membuat bulu kuduk berdiri. Bahkan tanah di bawahku bergetar ringan, seperti menolak datangnya suara itu.

Ketika aku mundur satu langkah, sosok kabut yang tadi samar kini mulai terlihat bentuk wajahnya. Wajah-wajah itu tidak memiliki mata, hanya rongga hitam yang dalam. Mulut mereka terbuka lebar namun tidak bersuara. Mereka hanya bergerak mengikuti arah suara, seolah sedang dipanggil oleh sesuatu yang jauh lebih gelap.

Masjid yang tadi tampak kosong, kini memunculkan cahaya hijau redup dari bagian mihrab. Cahaya itu berdenyut pelan, seperti jantung yang berdetak. Setiap kali cahaya itu berkedip, suara azan berubah nadanya—kadang lirih, kadang berat, kadang seperti seseorang sedang menahan rasa sakit.

Karena tidak tahan, aku berlari menjauh dari masjid. Namun semakin jauh aku melangkah, suara azan itu justru semakin keras, seakan mengikuti ke mana pun aku pergi.


Senja Menjadi Malam Tanpa Peringatan

Langit tiba-tiba berubah gelap tanpa proses senja yang biasanya tampak perlahan. Matahari seperti langsung tenggelam. Padahal beberapa detik sebelumnya langit masih berwarna oranye.

Ketika aku berhenti di dekat pohon besar untuk mengambil napas, suara azan kembali terdengar—kali ini sangat dekat. Suara itu terdengar tepat di belakang telingaku, seperti seseorang sedang mengumandangkannya dari jarak beberapa centimeter. Namun tidak ada siapa pun di belakangku.

Saat aku mencoba menoleh, udara di sekitarku menebal dan berubah seperti air. Dari balik kabut gelap itu, sebuah wajah muncul. Wajah itu tidak memiliki mulut, tetapi suaranya terdengar sangat jelas, seolah azan keluar langsung dari rongga kosong tersebut.

Ketika aku terpaku ketakutan, sosok-sosok tadi tiba-tiba mengelilingiku. Mata mereka yang kosong berfokus ke arah masjid. Namun tubuh mereka bergerak mendekatiku, membuat tanah di bawah kaki terasa bergetar.


Sumber Suara yang Sebenarnya

Karena situasi terasa semakin berbahaya, aku berlari ke arah jalan keluar. Namun langkahku terhenti saat melihat sesuatu bergerak di dalam masjid. Dalam remang cahaya hijau, tampak siluet seseorang berdiri di mimbar. Tubuhnya kurus, punggungnya bungkuk, dan kain putih yang dipakainya kusut serta sobek.

Ketika siluet itu mengangkat kepalanya sedikit, suara azan berubah menjadi lengkingan panjang. Meskipun suaranya seperti muazin, wajah itu sama sekali bukan wajah manusia. Tidak ada hidung, tidak ada mata, dan mulutnya membentuk lubang besar yang terus terbuka.

Seluruh sosok kabut di sekeliling masjid menunduk bersamaan, seperti sedang memenuhi panggilan. Namun panggilan itu bukan panggilan ibadah—melainkan panggilan pengumpulan arwah.

Karena ketakutan mencapai puncak, aku memaksakan diri berlari meski kaki hampir tidak bisa digerakkan. Akan tetapi tanah seperti berubah menjadi lumpur, membuat langkah terasa sangat berat.


Pelarian Yang Hampir Terlambat

Setelah beberapa meter berlari, tubuhku seperti ditarik sesuatu dari belakang. Ketika aku menoleh, beberapa sosok kabut itu berada sangat dekat. Tangan mereka bergerak seperti ingin meraih punggungku. Setiap langkah mereka tidak menghasilkan suara kaki, hanya hembusan angin dingin.

Dalam keputusasaan, aku meraih ranting besar dan memukul tanah sambil berteriak. Teriakan itu menggema keras dan membuat kabut sedikit memudar. Kesempatan kecil itu kugunakan untuk berlari lebih cepat. Meskipun napas hampir habis, aku terus memaksa tubuh agar tidak berhenti.

Saat akhirnya melihat jalan setapak yang tadi kulewati, cahaya matahari muncul kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Suasana terang tiba-tiba kembali normal. Bahkan suara burung mulai terdengar lagi, membuatku ragu apakah kejadian tadi benar-benar terjadi.

Namun ketika aku menoleh terakhir kali, suara azan menggema pelan dari dalam hutan—suara yang sama dengan nada tercekik yang tidak mungkin kulupakan.


Setelah Semua Terjadi

Sejak saat itu, kabar tentang Kampung Hilang tidak pernah lagi kuteruskan kepada siapa pun. Meskipun laporan tugas tetap kukerjakan, lokasinya kuhilangkan dari peta karena tidak ingin siapa pun menuju ke sana. Namun beberapa malam setelah pulang ke rumah, suara azan dengan nada tercekik tiba-tiba terdengar dari luar jendela kamarku.

Suaranya tidak seperti azan masjid di dekat rumahku. Nada akhirnya terlalu panjang, terlalu melengking, dan terlalu mirip suara dari hutan itu.

Hingga sekarang, suara itu masih muncul sesekali. Kadang saat tengah malam, kadang menjelang pagi.
Namun yang paling menakutkan adalah saat aku mendengar suara itu dari belakang rumah…

…seolah sesuatu dari Kampung Hilang sedang mencariku.

Teknologi & Digital : Etika Penggunaan Data di Era Kecerdasan Buatan dan Big Data

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post