Senja, Kabut, dan Langkah Pertama
Sore menuruni lereng Bukit Samosir dengan warna tembaga yang melukai horizon. Namun, Rafi tetap mengayunkan tongkat trekking, sementara tiga kawannya—Sinta, Edo, dan Lika—menyusul dengan napas beruap. Selain itu, Danau Toba di bawah sana berkilau seperti mata raksasa yang mengawasi setiap gerak. Selanjutnya jalan setapak menanjak pelan, melewati rumpun paku dan pinus yang menggelitik langit.
Meskipun cuaca tampak ramah, kabut turun lebih cepat dari perkiraan. Kemudian angin menelusup dari celah-celah batu, membawa aroma tanah basah yang menguatkan rumor. Pada saat yang sama, Lika menggenggam tali ransel, lalu bertanya setengah berbisik, “Kau pernah dengar tentang sosok tanpa kepala di puncak?” Sinta menelan ludah, sedangkan Edo menepuk bahunya sambil tertawa datar. Akan tetapi, gema tawanya kembali dengan nada ganjil, seolah bukit menyimpan versi lain yang tidak ramah.
Legenda yang Mengikuti dari Belakang
Menurut penutur tua di Huta Tinggi, seorang panglima bernama Silalahi pernah menodai nama marga karena fitnah perang. Karena itu, para penuntut kehormatan memenggal kepalanya di puncak bukit, lalu mengubur tubuhnya jauh dari kepala. Sementara itu, sumpah kematian merayap di tanah: “Aku berjaga sampai namaku pulang.” Sejak malam itu, warga melihat prajurit tegap tanpa kepala berdiri di punggung bukit, menggenggam tombak, menatap danau yang tak memberi jawaban.
Walaupun banyak pendatang mengira cerita itu sekadar bumbu wisata, penduduk masih menyalakan dupa pada Kamis malam. Selanjutnya mereka menggantung tali ulos kecil di dahan hariara, sebab leluhur percaya, kain itu menenangkan roh yang terluka. Meskipun Edo menyebut semua itu “romantisasi masa lalu,” Rafi diam-diam menyimpan batu kecil dari pantai—katanya, batu itu menambatkan arah ketika malam menelan jalur.
Api Kecil di Perut Malam
Matahari akhirnya tertelan kabut, dan senja runtuh tanpa jeda. Karena puncak tinggal setengah jam lagi, rombongan memutuskan berhenti di undakan tanah datar untuk berkemah. Sementara Rafi mendirikan tenda, Sinta mengumpulkan ranting; Edo menyalakan api; Lika menyiapkan termos kopi. Kemudian bara menyala, memantulkan bayangan pada batang pinus yang berdiri seperti tiang-tiang altar.
Selain itu, suara seruling samar mengiris udara; nada panjang naik turun dari arah barat. Selanjutnya hawa merinding merayap seperti semut di punggung. Meskipun tak ada manusia lain, senter Rafi menangkap potongan siluet sangat tinggi di balik tirai kabut—bahu bidang, lengan menggenggam sesuatu, leher kosong yang gelap seperti lorong. Kemudian siluet itu menghilang, bukan karena berlari, melainkan seolah kabut menelannya dari dalam.
“Jangan terpancing,” ujar Rafi, mencoba rasional. Namun Lika menutup mulut, sementara Sinta meraih senter cadangan. Selanjutnya Edo mengepal-ngepal tangan, lalu duduk lebih dekat ke api. Meskipun nyala semakin terang, hawa justru mendingin, seperti ada sosok raksasa yang berdiri di belakang malam.
Jejak, Ketukan, dan Kalimat yang Tidak Pernah Selesai
Jam merayap ke delapan. Kemudian angin melipat api seperti menutup buku. Pada saat yang sama, langkah berat melingkari area kemah—pelan, terukur, dan tegas. Selain itu, tanah bergetar ringan, meninggalkan jejak lonjong yang tak sepenuhnya manusia. Selanjutnya tenda berkedut; tali penahan berdering kecil.
“Siapa pun kau, jangan usik,” kata Edo setengah menantang. Akan tetapi, jawaban datang sebagai ketukan—tiga kali—di punggung tenda Rafi. Kemudian ketukan berpindah ke sisi kanan, lalu kembali ke depan, seperti orang yang memeriksa, bukan mengancam. Sementara Sinta memeluk lutut, Lika menatap Rafi: “Kalau itu dia, apa yang dia mau?” Rafi menelan ludah, lalu berbisik, “Mungkin dia menunggu sesuatu yang belum kita lakukan.”
Pintu Kabut ke Puncak
Setelah api mengecil, Rafi mengajak mereka berdoa singkat, bukan untuk mengusir, melainkan untuk meminta izin. Selanjutnya ia mengusulkan berjalan sedikit ke atas demi menengok jalur dan mencari tanda. Meskipun keputusan itu terdengar bodoh, mereka setuju karena diam di tempat malah membuat takut mengunyah kepala. Kemudian empat senter memotong kabut; cahaya menempel di butiran air; udara mencipta lorong-lorong pendek yang segera tertutup lagi.
Beberapa menit berlalu tanpa insiden. Namun, di tikungan ketiga, Edo berseru pelan. Pada batu pipih setinggi pinggang tergeletak karung goni reot yang diikat rotan. Selain itu, ulos kecil mengikat simpul ujung, seperti pita di hadiah yang seharusnya tak pernah dibuka. Selanjutnya hawa mendadak lebih dingin—bukan dingin cuaca, melainkan dingin yang menyerap dari dalam kulit.
“Jangan sentuh,” ujar Sinta. Akan tetapi, ketukan kembali muncul; kali ini menimpa bahu Rafi. Kemudian sesuatu seperti telapak besar menuntun tangannya ke simpul karung. Selanjutnya senter Lika bergoyang, air matanya jatuh bukan karena lemah, melainkan karena udara menekan dada tanpa alasan.
Kepala, Ulos, dan Tulisan yang Mencari Rumah
Rafi meraba simpul dan—pelan—melepas ikatannya. Kemudian ia membuka karung hanya selebar telapak. Pada detik itu, tengkorak tertidur di dalam, mengenakan ikat kepala Batak yang memudar. Selain itu, tulang pipi retak, dan di sisi rahang ada torehan aksara tua. Selanjutnya sehelai kertas gulung terselip di antara kain: “Kepala ini bukan barang bukti. Pulangkan bersama nama.”
Lika memalingkan muka. Sementara Edo menutup karung kembali, Rafi mengikat simpul dengan ulos tadi. Kemudian ia mengangkat karung sebatas lutut, dan dunia seketika menahan napas. Selanjutnya kabut memutar seperti penonton yang menyingkap jalan, dan di ujung jalur puncak berdiri prajurit besar tanpa kepala—tombak condong, dada lapang, leher hitam kosong, namun tidak bergerak.
“Kalau dia menunggu kepalanya,” kata Rafi, “kita harus memulangkan, bukan melempar.” Sinta mengangguk. Selain itu, Lika menarik napas dalam-dalam, lalu mengusulkan mencari penjaga adat. Selanjutnya Edo yang tadi paling keras kini paling tenang: “Kita turun sekarang, dan kita kembali dengan orang yang paham.”
Ompu Parsaoran dan Pintu yang Disepakati
Dermaga di tepi Samosir menerima mereka dengan lampu redup dan riak kecil yang memukul tiang. Namun, satu sosok menunggu seolah tahu jadwal kedatangan. Ompu Parsaoran—berselendang ulos rapi, rambut seperti abu, mata sebening kaca tua—mengamati karung di tangan Rafi. Kemudian ia mengangguk, bukan terkejut, melainkan lega. “Akhirnya kalian menemukan milik yang menunggu.”
Rafi menunduk. “Kami tidak tahu adat, Ompu. Kami minta maaf.” Ompu menyentuh ulos di simpul karung, lalu tersenyum getir. “Kepala terpisah dari badan untuk meredakan amarah. Sayangnya, manusia lupa menjaga janji. Karena itu, prajurit menunggu. Namun malam ini kita bayar hutang.”
Selanjutnya Ompu mengajak mereka kembali naik sebelum tengah malam. Meskipun tubuh letih, mereka setuju karena penundaan sering mengundang malapetaka lain. Kemudian Ompu menyalakan dupa dari tempurung kelapa, menabur jeruk purut, dan menyelipkan benang merah di pergelangan Rafi. Pada saat yang sama, angin berubah arah, seolah bukit membuka pintu perundingan.
Puncak, Dupa, dan Tombak yang Menunduk
Jalur menanjak memakan waktu dua kali lebih cepat, entah karena doa, entah karena takut. Namun, tidak satu pun dari mereka menoleh; semua menatap tanah, menjaga napas, dan melindungi karung agar tidak terguncang. Selanjutnya puncak menyambut dengan dataran lapang kecil, pohon hariara, dan langit yang menyingkap bintang di sela awan.
Ompu meletakkan karung di bawah hariara, lalu menyalakan dupa. Kemudian ia berdoa dalam bahasa Batak kuno; setiap suku kata seperti mengikat rembesan malam. Selain itu, Ompu memanggil nama Silalahi dengan rasa hormat, bukan tantangan. Selanjutnya ia mengangkat ulos, merentangkannya, dan mengundang empat anak muda itu mendekat.
Pada detik ketika doa mencapai puncak, kabut meletus dari tanah. Kemudian prajurit tanpa kepala muncul satu langkah dari dupa—tombak tegak, bahu lapang, telapak menutup dan membuka. Sementara angin menundukkan pucuk pinus, Ompu berujar, “Kau menunggu kami, dan kami datang. Pulangkan kepalamu, pulangkan namamu.”
Penyatuan yang Tidak Menghapus Luka
Rafi membuka karung dengan kedua tangan yang gemetar, lalu mengangkat tengkorak dengan ikat kepala. Namun, ia tidak menaruh di tanah; ia menaruh pada pangkuan ulos Ompu yang menyiapkannya seperti ayunan bayi. Selain itu, Sinta menabur jeruk purut, dan Lika menyelipkan paku kecil di sudut kain agar karung tidak lagi terbuka sembarangan. Selanjutnya Edo menancapkan tongkat trekking di samping, sebagai tanda penjagaan.
Akhirnya, tanah bergoncang halus. Kemudian suara berat, bukan suara mulut, melainkan suara bukit, bergetar dari akar hariara: “Sudah.” Pada saat yang sama, prajurit menurunkan tombak. Selain itu, kabut menyusut, dan udara menghangat seperti tubuh seseorang yang selesai marah.
Namun, Ompu tidak menutup doa di sana. Selanjutnya ia menyisakan ruang bagi duka yang lama. “Kau tidak salah, tapi kau kalah oleh fitnah. Kami tidak bisa memutar waktu, tetapi kami bisa memulangkan nama.” Kemudian ia mengangkat kepala sedikit, seolah menatap mata yang tidak ada.
Nama Kembali, Jalan Kembali, dan Rasa yang Menunggu
Menjelang subuh, mereka menancapkan batu-batu kecil membentuk lingkaran, lalu menulis papan sederhana: “Silalahi—prajurit penjaga, bukan pengusik.” Selain itu, Ompu mengikat ulos bermotif gelombang pada dahan hariara. Selanjutnya Rafi menyimpan kertas gulung di dalam tabung bambu yang ditanam tepat di kaki pohon.
Sementara bintang terakhir mundur, Danau Toba berubah biru muda. Kemudian burung menjerit satu dua kali, merayakan pagi yang tidak menuntut korban. Sinta memegang tangan Lika, dan keduanya tersenyum lelah. Selain itu, Edo—yang semula mengejek—mengucapkan terima kasih pada udara, bukan pada siapa-siapa, tapi terdengar cukup jelas.
Rombongan menuruni bukit tanpa gangguan. Namun, setapak masih mencatat jejak berat di samping langkah mereka—bukan ancaman, melainkan pengawalan. Selanjutnya jejak itu memudar di dekat tikungan ketiga, tepat di tempat karung goni pertama kali muncul.
Akhir Pekan yang Tidak Sekadar Liburan
Dua minggu kemudian, wisatawan naik lagi ke Bukit Samosir. Akan tetapi, para pemandu mulai bercerita dengan nada lain: prajurit tidak lagi menampakkan amarah, melainkan berdiri jauh di punggung bukit ketika langit cerah, lantas hilang seperti uap. Selain itu, dupa di Huta Tinggi kini menyala pendek, seolah janji sudah ringan.
Rafi mengirim foto papan kayu pada ibunya, lalu menyimpan batu pantai di saku ransel sebagai pengingat. Sementara Sinta menulis catatan di ponsel: “Jika malam menepuk bahu, dengarkan, bukan melawan.” Selanjutnya Lika membeli ulos kecil untuk dikalungkan pada tas, dan Edo menahan diri ketika lidahnya gatal ingin bercanda soal hantu.
Meskipun mereka tak lagi melihat sosok tanpa kepala di puncak, terkadang angin memukul telinga seperti suara langkah prajurit yang berpatroli. Kemudian hati mereka tidak mengecil; hati mereka mengerti: beberapa penunggu tidak meminta persembahan, hanya meminta janji ditunaikan.
Epilog: Danau, Angin, dan Mata yang Menutup
Menjelang malam ketiga puluh, Rafi berdiri sendirian di dermaga. Namun, ia tidak menantang; ia hanya membungkuk pada air yang memantulkan lampu perahu. Selain itu, angin dari punggung bukit turun dengan wangi getah dan abu dupa. Selanjutnya suara berat—bukan bunyi bumi, bukan bunyi langit—menyelinap di antara riak: “Jalanmu aman.”
Rafi menutup mata. Kemudian ia mengembuskan napas panjang, lalu berbalik menuju penginapan. Sementara itu, permukaan danau merapikan kerutnya, dan Bukit Samosir berdiri tanpa siluet yang memisah dari kepala. Akhirnya, malam menutup cerita bukan dengan takut, melainkan dengan tenang yang dibayar oleh sebuah pemulangan.
Dan, ketika kabut turun lagi beberapa hari kemudian, para pendaki melihat satu hal kecil di puncak: tombak menancap miring, ulos berayun pelan, dan tidak ada kepala yang mencari rumah. Karena janji sudah ditepati, jalan kembali ke kampung terasa lebih pendek; karena nama sudah pulang, setiap langkah terasa seperti pulang juga.
Berita & Politik : Netralitas TNI-Polri di Tahun Politik Kembali Dipertanyakan