Sosok Hitam Muncul Di Tengah Upacara Adat Bali Aga

Sosok Hitam Muncul Di Tengah Upacara Adat Bali Aga post thumbnail image

Undangan yang Datang Tanpa Nama

Malam purnama itu, sosok hitam belum muncul, tetapi firasatnya sudah menempel sejak aku menerima undangan lipat tanpa pengirim. Aku sedang di Denpasar untuk proyek dokumentasi budaya, sehingga aku terbiasa mendapat pesan mendadak dari kontak-kontak lokal. Namun, undangan ini berbeda: kertasnya tebal, berbau asap kayu, dan di sudutnya ada serat daun lontar yang sengaja diselipkan, seolah menjadi segel.

Di dalam undangan, hanya ada satu kalimat: “Datanglah, tapi jangan membawa kamera.” Selain itu, tertulis lokasi desa Bali Aga yang jarang disebut orang kota. Karena rasa penasaran mengalahkan logika, aku meminjam motor, lalu berangkat sore hari. Sepanjang jalan menanjak, kabut turun pelan; kemudian, pohon-pohon makin rapat; dan akhirnya, sinyal ponsel hilang seperti ditelan tanah.

Sampai di gerbang desa, seorang pria tua menungguku. Ia tidak memperkenalkan nama. Namun, ia mengikatkan sehelai benang tridatu di pergelangan tanganku. “Supaya kamu pulang,” katanya singkat. Lalu, tanpa menunggu jawabanku, ia menuntunku masuk, melewati rumah-rumah tua yang pintunya rendah, seolah memaksa siapa pun menunduk.

Aturan yang Tidak Ditulis di Papan

Di bale banjar, orang-orang sudah berkumpul. Perempuan menata canang, sementara laki-laki menyiapkan gamelan. Karena aku orang luar, aku berdiri di pinggir, mencoba tidak mengganggu. Namun, beberapa pasang mata menatapku terlalu lama, seakan mereka menghitung langkahku.

Seorang pemangku mendekat. Nada suaranya pelan, tetapi tegas. “Kamu boleh melihat. Namun, kamu tidak boleh menunjuk. Selain itu, kamu tidak boleh menyebut apa pun yang kamu lihat,” katanya. Kemudian, ia menambahkan, “Kalau ada yang berdiri di lingkar sesaji, anggap itu angin.”

Aku mengangguk, walau kalimat terakhir terdengar mustahil. Akan tetapi, orang-orang di sekitarku mengangguk juga, seolah itu aturan paling wajar.

Senja bergeser menjadi malam. Lalu, obor dinyalakan satu per satu. Setelah itu, dupa menyala, dan bau cendana memenuhi udara. Karena suasana semakin sakral, aku menahan napas agar tidak terdengar kasar.

Ketika upacara dimulai, gamelan memukul ritme perlahan, kemudian semakin cepat. Pada saat yang sama, para tetua melantunkan mantra dengan nada yang membuat kulitku dingin. Namun, di sela bunyi gong, aku mendengar bunyi lain: suara langkah yang tidak mengikuti irama.

Jejak yang Tidak Punya Pemilik

Awalnya aku mengira itu hanya orang lewat. Namun, ketika aku menoleh, lorong samping bale kosong. Meski begitu, suara langkah itu tetap ada—pelan, teratur, mendekat dari arah gelap yang tidak terlihat.

Lalu, salah satu obor berkedip. Setelah itu, asap dupa menebal, seolah seseorang mengembuskan napas dari bawah. Karena asap itu mengaburkan pandangan, aku menyipitkan mata, berusaha menangkap bentuk.

Tiba-tiba, gamelan sumbang. Suaranya seperti besi dipelintir, menusuk telinga. Para penabuh berhenti sekejap, lalu melanjutkan, tetapi ritmenya terasa seperti dipaksa. Selain itu, beberapa canang di sudut sesaji terbalik, padahal tidak ada angin kencang.

Pemangku mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua diam. Pada detik itu, suara langkah berhenti juga. Seolah sesuatu sedang menunggu perhatian.

Kemudian, tepat di tengah lingkar sesaji, bayangan muncul. Bukan orang yang datang dari pintu, bukan pula pantulan obor. Bayangan itu berdiri begitu saja, lebih gelap dari gelap sekitarnya.

Aku ingin mengucek mata. Namun, benang tridatu di tanganku terasa mengencang, seperti mengingatkan agar aku tetap sadar.

Sosok Hitam di Antara Sesaji

Sosok hitam itu tidak punya detail wajah. Namun, bentuk tubuhnya jelas: tinggi, kurus, dan bahunya terlalu panjang, seolah kain gelap menetes dari tulang. Di kepala, ada semacam penutup, tetapi bukan udeng. Dari jarak ini, ia tampak seperti pakaian berkabung yang berjalan sendiri.

Orang-orang tidak berteriak. Justru sebaliknya, mereka menunduk lebih dalam. Bahkan, penabuh gamelan menahan napas, lalu memukul lebih pelan, seperti memelihara jarak.

Pemangku melantunkan mantra lebih keras. Lalu, ia memercikkan tirta ke arah lingkar sesaji. Namun, percikan air itu tidak jatuh ke tanah. Sejenak, air seperti “menggantung,” lalu jatuh menyebar, seolah ada bidang tak terlihat yang menahannya.

Aku merasakan keringat dingin. Karena ketegangan itu, kakiku ingin mundur. Akan tetapi, tubuhku seperti terpaku, seolah lantai menahan telapak.

Di sisi lain, sosok itu menoleh—bukan dengan kepala, tetapi dengan seluruh tubuh, seperti bayangan yang berputar. Dan meski tanpa wajah, aku merasa ia menatapku.

Kesalahan Kecil yang Membuka Pintu

Seorang pemuda di sampingku berbisik, “Jangan lihat lama-lama.” Namun, bisik itu justru membuatku semakin sadar bahwa aku sedang menatap terlalu lama.

Karena panik, bibirku hampir menyebut sesuatu. Aku nyaris berkata, “Itu apa?” Akan tetapi, pemuda itu cepat menutup mulutnya sendiri, seolah ia takut kata-kata bisa memanggil lebih jauh.

Sayangnya, dari barisan belakang, ada suara anak kecil tertawa pelan. Lalu, suara itu diikuti kalimat polos: “Siapa yang pakai baju hitam?”

Beberapa tetua menegang. Pemangku berhenti melantunkan mantra sedetik, lalu melanjutkan dengan nada lebih tajam. Namun, sosok hitam itu bergerak setengah langkah ke arah suara anak itu.

Pada saat yang sama, dupa di dekat lingkar sesaji padam serentak. Asapnya tidak naik. Asapnya turun, mengalir ke lantai seperti air.

Gamelan berhenti. Hening mendadak jatuh seperti kain basah.

Lalu terdengar suara, bukan dari mulut siapa pun, melainkan dari dalam bambu atap: “Buka.”

Lingkar Sesaji yang Berubah Menjadi Jalan

Pemangku mengangkat kedua tangan. Setelah itu, ia menyuruh semua orang menunduk, lalu menutup telinga. Karena aku tidak mengerti, aku mengikuti gerakan orang lain. Namun, meski telinga tertutup, suara itu tetap masuk, seperti getar yang merambat lewat tulang.

“Buka… buka…”

Kemudian, tanah di tengah lingkar sesaji tampak berembun. Lalu, embun itu berubah jadi basah. Setelah itu, basah itu berubah jadi hitam pekat—seperti lubang yang muncul perlahan.

Sosok hitam berdiri tepat di atasnya. Seolah ia adalah penutup lubang itu, bukan penjaga.

Pemangku memercikkan tirta lagi. Kali ini, air jatuh ke lubang dan menghilang tanpa suara. Selain itu, canang yang tadi terbalik mulai bergerak sendiri, berputar kecil, lalu berhenti menghadap ke sosok hitam.

Aku menggigit bibir. Karena ketakutan menahan napasku, dada terasa sakit. Namun, di tengah tegang, aku mendengar suara benang tridatu di pergelangan tanganku seperti bergesek, pelan, seolah memperingatkan: jangan bergerak.

Orang Tua Tanpa Nama Memberi Isyarat

Pria tua yang menjemputku tadi muncul di samping pemangku. Ia tidak bicara, tetapi ia mengangkat telapak tangan ke arahku, tanda agar aku menunduk. Namun, sebelum aku menunduk, sosok hitam itu mengangkat lengannya—perlahan, panjang, seperti kain yang diisi angin.

Lengannya menunjuk bukan ke pemangku, bukan ke tetua. Lengannya menunjuk ke arahku.

Aku merasa seluruh desa memandangku dalam satu tarikan napas. Karena tekanan itu, lututku melemah.

Pria tua itu mendekat cepat, lalu menarik benang tridatu di tanganku, seolah mengencangkan ikatan. Pada saat yang sama, pemangku menyebut satu nama yang tidak pernah aku dengar—nama yang terdengar tua, serak, dan berat.

Begitu nama itu disebut, sosok hitam itu berhenti bergerak. Seolah ia menunggu nama yang benar.

Lalu, pria tua itu berbisik sangat pelan di telingaku, “Jangan sebut namamu. Jangan sebut siapa pun. Cukup pikirkan jalan pulang.”

Jalan Pulang yang Harus Dilewati Tanpa Menoleh

Setelah itu, pemangku menyalakan kembali dupa dengan api kecil. Aneh sekali, api tidak menyentuh sumbu, tetapi dupa menyala sendiri. Selain itu, gamelan mulai dipukul pelan, namun ritmenya bukan ritme upacara—lebih seperti ritme mengantar orang pergi.

Pria tua itu menarikku mundur perlahan. Aku tidak berani menoleh. Karena itu, aku berjalan mengikuti tarikan benang di pergelangan, seperti mengikuti tali yang tak terlihat. Sementara langkahku mundur, sosok hitam itu tetap diam, tetapi rasanya seperti bayangan panjangnya merayap sampai punggungku.

Kami melewati pintu bale banjar. Lalu kami melewati gerbang desa. Setelah itu, kabut menelan obor-obor dari kejauhan. Baru setelah suara gamelan lenyap, pria tua itu melepas benang tridatu dari tanganku.

“Kalau kamu pulang, jangan cerita lengkap,” katanya. “Kalau kamu cerita lengkap, dia dapat jalannya.”

Aku ingin bertanya banyak. Namun, lidahku kelu. Jadi, aku hanya mengangguk.

Bukti yang Menempel pada Kulit

Aku menyalakan motor dan turun gunung. Sepanjang jalan, hawa dingin seperti mengikuti. Selain itu, di spion, kabut tampak bergerak seperti ada orang berjalan di belakang, walau jalanku kosong.

Sesampainya di penginapan, aku mandi air hangat. Namun, ketika aku menggosok pergelangan tangan, aku menemukan bekas hitam tipis melingkar—seperti bayangan benang yang terbakar. Dan yang paling membuatku ngeri, bekas itu membentuk pola, seperti huruf kecil yang tidak kukenal.

Karena takut, aku mengeringkan tangan cepat. Lalu, aku menatap cermin. Di belakang pantulanku, ada titik gelap di sudut kamar, sangat kecil, hampir seperti noda.

Aku berkedip. Titik itu tidak hilang.

Akhirnya, aku teringat larangan pemangku: jangan menyebut apa pun yang kamu lihat. Karena itu, aku tidak bertanya pada siapa pun. Bahkan, aku tidak menyebut kata “sosok hitam” lagi dengan suara.

Namun, setiap kali malam datang, aku masih mendengar gamelan yang jauh, lalu suara yang sama dari dalam atap: “Buka…”

Dan ketika lampu kamar berkedip, aku hanya memejamkan mata, berharap benang tridatu yang sudah tidak ada masih mengingat jalanku pulang.

Teknologi & Digital : Peran Digital Marketing dalam Meningkatkan Daya Saing UMKM

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post