Kabut di Balik Gemerlap
Pekan Raya Jakarta selalu dipenuhi kegembiraan. Lampu-lampu warna-warni, teriakan pengunjung di wahana, aroma jagung bakar dan sosis panggang bersaing dengan debur musik pop dari panggung utama. Tapi ada satu sisi yang tak tersentuh lampu—zona pameran lama yang sudah bertahun-tahun tak digunakan.
“Jangan ke area barat setelah pukul sepuluh malam,” kata Bang Didit, seorang pedagang lama di PRJ. “Kalau kau lihat siluet tinggi menjulang di balik kabut, lari. Jangan tanya. Jangan tengok.”
Awal Malapetaka
Alya, seorang content creator berusia 24 tahun, datang bersama dua temannya, Rino dan Bella, untuk membuat konten horor malam hari. Mereka tahu legenda siluet terlarang di Pekan Raya Jakarta sudah sering dibahas di forum-forum urban legend. Tapi bagi mereka, itu cuma cerita lama yang dilebih-lebihkan.
Dengan kamera dan mikrofon menyala, mereka menembus kerumunan dan masuk ke zona barat. Gerbangnya memang tertutup rantai, tapi ada celah cukup besar untuk dilewati. Udara tiba-tiba menjadi dingin, angin berhenti, dan bau karat menguar dari besi tua.
Di dalam, wahana-wahana karat berdiri bagai tengkorak masa lalu: komidi putar tak bergerak, gerbong kereta mini ditelan ilalang, dan lampu gantung bergoyang pelan tanpa angin.
Sosok Tanpa Wajah
Ketika mereka mulai merekam, kamera Alya mendadak berkedip. Dalam salah satu bidikan, muncul bayangan tinggi tanpa wajah di balik komidi putar. Tak ada suara. Tak ada langkah. Tapi bayangannya makin dekat.
Rino yang melihat ke arah sana tiba-tiba berteriak, “Alya, matikan kameramu! Ada yang jalan ke sini!”
Mereka lari ke arah pintu masuk. Tapi jalan yang tadi mereka lewati kini tak lagi ada. Kabut menelan semua arah. Alya bisa mendengar bisikan—bukan dari teman-temannya, melainkan dari suara yang bergema di dalam kepalanya.
“Kau sudah melihatku… Kini kau milikku.”
Waktu yang Tak Bergerak
Jam di ponsel mereka mati. Tak ada sinyal. Bella yang mencoba merekam dengan kamera ponsel menyadari bahwa waktu di sana tidak bergerak. Rekamannya menunjukkan detik yang tak berpindah. Mereka berjalan berjam-jam tapi tetap berada di tempat yang sama.
Komidi putar yang tadinya mati mendadak menyala dengan musik anak-anak yang mengerikan. Boneka kuda di atasnya mulai bergerak pelan. Di tengah kabut, sosok siluet itu kembali muncul—lebih besar, lebih nyata.
Siluet itu tanpa wajah, tubuhnya hitam legam, dan meskipun jauh, matanya bisa dirasakan menatap langsung ke dalam jiwa mereka.
Jiwa yang Terperangkap
Bella tiba-tiba membeku. Tatapannya kosong. Alya mencoba mengguncangnya, tapi tubuh Bella seperti kaku dan membatu. “Dia memanggil… Aku harus pergi,” gumam Bella sebelum berjalan menuju komidi putar dan duduk di salah satu kuda.
Rino menarik Alya untuk lari, tapi setiap langkah justru membawa mereka kembali ke tempat yang sama. Gerbong kereta mini kini bergerak sendiri, memutar tanpa penumpang.
“Alya,” suara Rino lirih, “aku melihat diriku di belakang kita.”
Alya menoleh, dan benar—ada dua sosok mereka, berjalan dengan senyum mengerikan, tanpa bola mata, meniru setiap gerakan mereka.
Satu-Satunya Jalan Keluar
Alya mengingat saran Bang Didit. Jangan menoleh. Jangan bertanya. Jangan diam.
Dia memejamkan mata, mencengkeram tangan Rino dan berlari sekuat tenaga sambil berbisik, “Kita tidak takut. Kita tidak takut. Kita tidak takut.”
Tiba-tiba ada suara keras—seperti kaca pecah. Alya membuka mata. Mereka sudah berada di luar gerbang zona barat. Udara kembali hangat, suara musik dan tawa terdengar normal. Tapi Rino tidak ada di sampingnya.
Di kamera yang masih digenggam, Alya menemukan rekaman terakhir: Rino berdiri di belakang siluet besar itu, tersenyum. Dan Bella? Tidak pernah ditemukan.
Epilog yang Membekas
Setelah kejadian itu, Alya tak pernah kembali ke PRJ. Rekaman malam itu ia simpan dalam hard drive yang terkunci dan tersegel. Kadang, ia masih mendengar lagu komidi putar itu dalam mimpinya. Kadang, dia bangun dan melihat siluet Rino berdiri di sudut kamarnya, diam, menunggu.
Bang Didit, ketika ditanya, hanya berkata, “Kalian beruntung hanya satu yang diambil. Biasanya, tidak ada yang keluar.”
Inspirasi & Motivasi : Ubah Kegagalan Jadi Peluang Pebisnis Pemula Inspiratif