Suara yang Tak Pernah Usai
Di jantung Tasikmalaya, tersembunyi sebuah desa adat yang masih setia pada tradisi leluhur — Kampung Naga. Desa ini dikenal karena kesederhanaannya dan pantangan ketat terhadap teknologi modern. Namun di balik ketenangan yang menyelimuti suasana pedesaannya, tersimpan legenda kelam tentang lagu terkutuk yang tidak boleh dinyanyikan setelah matahari terbenam.
Konon, lagu itu bukan sekadar nyanyian rakyat, melainkan senandung kuno yang dulu digunakan dalam ritual pemanggilan arwah. Lagu itu dikenal dengan sebutan “Senandung Nini Lasa”. Menurut cerita para sesepuh, siapa pun yang berani menyanyikannya di malam hari akan memanggil roh penunggu desa — sosok perempuan tua berpakaian hitam dengan suara serak dan tatapan kosong.
Namun, seperti semua kisah larangan, selalu ada orang yang merasa penasaran untuk membuktikannya sendiri. Dan itulah yang dilakukan tiga remaja dari kota yang tak percaya pada cerita rakyat.
Kedatangan Tamu dari Kota
Malam itu, udara di Kampung Naga begitu sejuk, bahkan terlalu sejuk untuk ukuran musim kemarau. Dari jalan berliku yang menuruni bukit, tiga mahasiswa datang dengan tas punggung besar dan kamera di tangan. Mereka adalah Rizal, Indra, dan Fani — mahasiswa jurusan antropologi yang sedang melakukan penelitian budaya di Tasikmalaya.
Tujuan mereka sederhana: mendokumentasikan tradisi dan kepercayaan masyarakat adat Kampung Naga. Namun di antara mereka, hanya Fani yang benar-benar menghormati adat setempat. Rizal dan Indra justru lebih tertarik pada mitos-mitos yang menurut mereka “cocok dijadikan konten viral.”
Di rumah panggung tempat mereka menginap, seorang sesepuh desa bernama Abah Karna memperingatkan mereka.
“Kalau malam tiba, jangan bersiul, jangan bersenandung. Apalagi menyanyikan Senandung Nini Lasa. Itu lagu bukan untuk manusia biasa.”
Fani menatap serius, tapi Rizal tertawa pelan. “Ah, Abah, kami cuma mau mendokumentasikan budaya, bukan manggil arwah kok.”
Abah Karna hanya menghela napas panjang, menatap jauh ke arah hutan bambu yang berdiri sunyi di tepi desa. “Kalau kalian tak percaya, semoga saja kalian tak mendengar suaranya nanti malam.”
Penasaran yang Berujung Petaka
Malam mulai turun perlahan. Desa itu tenggelam dalam cahaya lampu minyak yang redup. Suara jangkrik bersahutan, namun anehnya, tak ada suara anjing menggonggong. Hanya angin yang berdesir lembut, membawa aroma tanah lembab dan bunga kamboja.
Rizal menyiapkan kamera, sementara Indra memegang perekam suara. “Kita buat video uji mitos. Katanya lagu itu bisa manggil hantu. Kalau benar, ya… lumayan buat penelitian, ‘kan?” katanya sambil terkekeh.
Fani berusaha menahan mereka, tapi rasa ingin tahu dua temannya terlalu besar. Mereka duduk di pelataran bambu menghadap sungai yang mengalir pelan. Lalu Rizal membuka catatan yang ia dapat dari warga: bait-bait Senandung Nini Lasa.
Ia mulai menyanyikannya dengan nada lirih.
“Nini Lasa menenun kain,
di bawah sinar bulan purnama,
tenunannya darah dan tangis,
bagi yang lupa pada janji lama…”
Suara Rizal bergema pelan, namun setiap nada terasa menusuk. Angin berhenti bertiup, jangkrik mendadak diam. Udara seketika menjadi dingin. Indra tertawa gugup. “Eh, kok hawanya berubah ya?”
Fani menatap sekeliling, bulu kuduknya berdiri. “Rizal, hentikan!”
Namun Rizal justru melanjutkan hingga bait terakhir. Begitu suara terakhir keluar dari mulutnya, air sungai di depan mereka bergolak pelan, seolah ada sesuatu yang bergerak dari dalamnya.
Senandung dari Dalam Bambu
Mereka semua membeku. Suara yang sama seperti lagu yang dinyanyikan Rizal tiba-tiba terdengar… namun kali ini berasal dari arah hutan bambu. Suara perempuan tua, serak dan panjang, menyenandungkan bait yang sama dengan nada lebih lambat dan nyaring.
“Nini Lasa menenun kain…
bagi yang lupa pada janji lama…”
Fani menjerit kecil, memegang lengan Rizal. “Kita harus masuk ke rumah! Sekarang!”
Namun Indra, yang terpaku pada arah suara itu, justru berkata pelan, “Kalian dengar? Dia… menyahut kita…”
Sebelum ada yang sempat bereaksi, dari kegelapan hutan, muncul kabut putih tipis yang semakin lama semakin pekat. Di tengah kabut itu tampak sosok wanita berjubah hitam berjalan perlahan. Wajahnya pucat, matanya tertutup, dan rambut panjangnya terurai menutupi bahu. Ia terus menyenandungkan lagu itu dengan nada yang menyayat hati.
Rizal berusaha menyalakan senter, tapi lampunya bergetar dan mati. Dalam remang, mereka melihat tangan sosok itu menenteng kain panjang berwarna merah tua — seperti tenunan dari darah kering.
Malam Penuh Jeritan
Fani lari duluan menuju rumah panggung Abah Karna sambil menjerit memanggil warga. Indra dan Rizal tertinggal, tapi entah mengapa kaki mereka terasa berat, seolah ditahan oleh udara. Dari arah hutan, suara tawa perempuan menggema, tinggi dan melengking.
“Sudah kubilang, jangan nyanyikan lagu itu,” suara berat tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Abah Karna datang membawa obor, diikuti beberapa warga dengan wajah tegang.
Namun yang mereka lihat membuat semua membisu. Rizal berdiri kaku, matanya menatap kosong ke arah sungai. Tubuhnya gemetar, bibirnya bergetar seolah masih bernyanyi, padahal tak ada suara keluar. Di sampingnya, Indra sudah pingsan, wajahnya pucat seperti kehilangan darah.
Warga segera menarik keduanya ke rumah Abah Karna. Begitu tiba, tubuh Rizal langsung ambruk. Dari dalam mulutnya keluar serpihan halus seperti serat kain. Semua orang panik, sementara Abah Karna segera menyiapkan dupa dan membaca doa-doa.
Asal Usul Lagu Terkutuk
Setelah keadaan sedikit tenang, Abah Karna menceritakan kisah di balik lagu terkutuk itu. Dulu, ratusan tahun silam, di Kampung Naga hidup seorang perempuan tua bernama Nini Lasa. Ia dikenal sebagai penenun ulung, namun juga dukun sakti yang menguasai ilmu pemanggil roh.
Nini Lasa sering membuat tenunan untuk upacara adat. Namun suatu hari, ia dituduh menggunakan darah manusia untuk mewarnai kain tenunannya. Warga takut dan mengusirnya ke hutan bambu di pinggir desa. Beberapa hari kemudian, terdengar nyanyian dari hutan, lagu yang kemudian dikenal sebagai Senandung Nini Lasa.
Malam itu juga, satu per satu warga yang mengusirnya meninggal dengan tubuh membiru. Sejak saat itu, lagu tersebut dilarang dinyanyikan, terutama di malam hari. Sebab, konon, menyanyikannya berarti mengundang arwah Nini Lasa untuk menagih janji lama: membalaskan dendamnya pada manusia.
Arwah yang Tak Tenang
Menjelang dini hari, Rizal tiba-tiba tersadar. Matanya merah, suaranya serak, dan ia terus bergumam pelan, “Dia belum selesai menenun… aku harus bantu dia…”
Abah Karna segera membakar dupa lebih banyak, namun kain yang sempat dibawa dari lokasi sungai tiba-tiba terbakar sendiri. Api itu menyala tanpa suara dan menimbulkan bau anyir yang menusuk. Dari arah luar rumah, angin berhembus kencang membawa suara tawa perempuan.
“Siapa yang berani ganggu tenunanku?”
Tiba-tiba pintu rumah bergetar keras, dan dari celah-celahnya terlihat bayangan perempuan dengan tangan panjang menekan dinding. Fani menjerit, menutup telinganya, sementara warga membaca doa keras-keras.
Dalam sekejap, suara itu hilang, digantikan dengan keheningan yang mencekam. Hanya sisa asap dupa yang berputar di udara, membentuk pola seperti wajah perempuan tua tersenyum dingin.
Pagi di Kampung Naga
Ketika matahari akhirnya muncul, suasana kampung terasa aneh. Warga menemukan jejak kaki kecil di sepanjang tepi sungai — jejak seperti milik wanita tua tanpa alas kaki. Rizal masih terbaring lemah, sementara Indra belum sadar sepenuhnya.
Fani menangis di serambi rumah, menatap kain merah tua yang kini terlipat di atas meja. Aneh, kain itu tidak terbakar sepenuhnya. Di ujungnya tertulis dengan darah tipis:
“Nyanyikan aku lagi…”
Abah Karna berkata dengan wajah muram, “Roh itu belum tenang. Setiap kali lagu itu terdengar, ia akan menenun kembali dendamnya.”
Warisan Senandung Terlarang
Sejak kejadian itu, Kampung Naga semakin menegakkan pantangan terhadap lagu terkutuk tersebut. Warga tak berani bersenandung di malam hari, apalagi di dekat sungai atau hutan bambu.
Namun, sesekali wisatawan yang berkemah di sekitar sana mengaku mendengar suara lirih seorang wanita menyanyi di tengah malam. Nada lembut itu terdengar seperti lagu rakyat biasa, tapi bila diperhatikan lebih saksama, bait-baitnya selalu sama:
“Nini Lasa menenun kain…
bagi yang lupa pada janji lama…”
Beberapa di antara mereka mengaku melihat bayangan perempuan tua berdiri di seberang sungai, menyisir rambutnya perlahan sambil menatap lurus ke arah pendengar lagu itu.
Dan hingga kini, siapa pun yang datang ke Kampung Naga akan selalu diingatkan oleh warga: jangan pernah menyanyikan lagu itu, sebab Senandung Nini Lasa bukan sekadar lagu — ia adalah kutukan yang hidup, menunggu suara manusia untuk menghidupkannya kembali.
Food & Traveling : Street Food Halal Terbaik di Sepuluh Kota di Indonesia