Pondok di Tengah Kebun Tua
Di pinggiran Sumenep, terdapat pondok kayu yang sudah rapuh dimakan usia. Warga sekitar menyebutnya Pondok Kiai Salim, karena dulunya milik seorang guru mengaji. Kini bangunan itu kosong, ditinggalkan keluarga yang tak tahan dengan keanehan yang terjadi setiap malam Jumat.
Konon, di pondok itu pernah tinggal seorang perempuan muda bernama Salsabila, istri dari santri yang meninggal mendadak. Tak lama setelah suaminya pergi, ia ditemukan mati dengan bayi di pelukannya. Sejak saat itu, muncul penampakan roh ibu yang duduk di pojok ruangan sambil menyusui bayinya yang sudah membusuk.
Kedatangan Tim Dokumenter
Suatu sore, tiga mahasiswa dari Surabaya—Nadia, Hafiz, dan Rama—datang ke Sumenep untuk membuat film dokumenter tentang kisah horor lokal. Mereka mendengar cerita tentang roh ibu di pondok itu dari warga.
Saat mereka meminta izin untuk merekam, salah satu penduduk, Mbah Juri, memperingatkan dengan suara berat:
“Kalau malam Jumat, jangan ada yang manggil nama Salsabila. Kalau dengar tangisan bayi, tutup telinga. Itu bukan suara manusia.”
Mereka menganggapnya sekadar mitos dan memutuskan bermalam di pondok itu untuk merekam suasana malam hari.
Malam Pertama: Tangisan yang Tak Jelas
Pondok itu sempit, hanya dua ruangan. Dindingnya lapuk dan berbau lembab. Di tengah ruangan terdapat ayunan bayi tua dari rotan yang masih tergantung. Hafiz menaruh kamera menghadap ke ayunan, sementara Nadia mencatat waktu: pukul 11.47 malam.
Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi pelan dari luar pondok. Semakin lama, suara itu makin jelas, seolah mendekat.
“Itu… efek suara dari kampung sebelah, kan?” tanya Nadia.
Hafiz menelan ludah. “Nggak ada rumah dalam radius dua kilometer, Nad.”
Tiba-tiba ayunan rotan bergoyang sendiri. Kamera menyorotnya—dan di layar terlihat bayangan seorang wanita duduk di lantai, menggendong sesuatu di pelukannya.
Wajahnya tak terlihat, tapi dari kain putih yang menutupi tubuhnya, jelas itu roh ibu yang selama ini diceritakan warga.
Keesokan Pagi: Peringatan dari Warga
Pagi harinya, mereka menemui Mbah Juri untuk menanyakan kejadian semalam. Lelaki tua itu hanya menarik napas panjang.
“Kalian sudah lihat dia, berarti dia sudah tahu kalian.”
Ia lalu bercerita bahwa Salsabila meninggal di pondok itu setelah melahirkan sendirian. Bayinya lahir mati, dan ia tetap memeluknya sampai keesokan paginya ditemukan warga. Jenazah keduanya dikubur berdampingan di belakang pondok, tapi setiap malam Jumat, roh ibu itu muncul, menimang anaknya yang tak pernah hidup.
“Kalau kalian dengar suara ‘ibu…’ dari luar, jangan dijawab,” tambah Mbah Juri. “Itu bukan panggilan manusia.”
Mereka hanya berpandangan, tak ingin menunjukkan ketakutan.
Malam Kedua: Suara dari Dinding
Malam berikutnya, mereka kembali memasang kamera. Kali ini, Hafiz meletakkan alat perekam suara di dinding. Tepat tengah malam, mikrofon menangkap suara halus:
“Sshh… tenang, Nak… Ibu di sini…”
Nadia menatap layar dengan wajah pucat. “Itu… suara perempuan.”
Rama melangkah pelan menuju dinding tempat suara itu berasal. Ia menempelkan telinga—dan dari dalam tembok terdengar suara tangisan bayi, jelas dan menyayat.
Tiba-tiba, tembok itu bergetar pelan, dan noda merah merembes keluar dari celah kayu. Darah.
Dari kamera belakang, terlihat sosok roh ibu berdiri di belakang Rama, memeluk sesuatu sambil menatapnya tanpa mata.
“Dia haus…” bisik suara itu.
Teror di Dalam Rekaman
Keesokan paginya, mereka memeriksa hasil rekaman. Di menit ke-46, kamera menangkap sesuatu yang tak mereka lihat semalam: ayunan rotan bergerak pelan, lalu berhenti mendadak saat roh ibu muncul di sisi kanan layar, menatap langsung ke kamera.
Suaranya pelan, tapi jelas:
“Jangan pisahkan aku dan anakku…”
Rama, yang awalnya berani, kini ketakutan. Ia mengajak mereka pulang. Tapi Nadia bersikeras untuk merekam satu malam lagi, demi bukti kuat untuk film dokumenter. Hafiz akhirnya setuju, tapi dengan syarat: mereka harus berdoa sebelum mulai.
Malam Ketiga: Bayi yang Hidup Kembali
Langit mendung. Angin berputar di sekitar pondok, membawa aroma anyir. Kamera menyorot ayunan, dan untuk pertama kalinya, benda itu berhenti bergoyang.
Nadia menatap jam—tepat pukul 00.00. Lalu terdengar suara lirih dari arah belakang pondok:
“Nak… sudah waktunya minum…”
Pintu belakang terbuka sendiri. Udara dingin masuk, dan di sana berdiri roh ibu, tubuhnya pucat, rambutnya basah menutupi wajah. Di tangannya, ada bayi kecil yang kaku, tapi matanya terbuka lebar.
Ia melangkah masuk perlahan, menatap Nadia dengan senyum yang tidak wajar.
“Kau mau gantikan ibunya?”
Kamera merekam semua saat roh ibu mengangkat bayi itu dan mendekat ke Nadia. Lampu kamera bergetar, lalu mati total.
Keesokan Pagi: Hanya Dua yang Kembali
Pagi harinya, warga menemukan Hafiz dan Rama pingsan di luar pondok. Nadia menghilang.
Ketika polisi datang, mereka menemukan kamera di dalam pondok. Rekaman terakhir menunjukkan Nadia berdiri di tengah ruangan dengan mata kosong, menggendong sesuatu yang dibungkus kain putih.
Di menit terakhir, terdengar suara bayi tertawa, disusul suara napas berat dari arah kamera:
“Sekarang, aku punya ibu lagi…”
Setelah itu, layar gelap.
Epilog: Pondok yang Ditinggalkan
Beberapa minggu kemudian, pondok itu terbakar tanpa sebab. Tak ada jejak tubuh manusia di antara puing-puingnya. Namun, di antara abu yang tersisa, warga menemukan sehelai kain putih kecil berlumur darah dan bercak susu.
Sejak itu, warga tak pernah berani mendekat. Tapi setiap malam Jumat, mereka mendengar tangisan bayi dari arah reruntuhan, disusul suara lembut seorang perempuan meninabobokan anaknya.
“Ssshh… tidur, Nak. Jangan tinggalkan Ibu lagi…”
Dan setiap kali fajar tiba, kabut selalu menutupi pondok itu seolah menyembunyikan rahasia yang tak boleh diungkap. Warga percaya, roh ibu masih di sana—menyusui anaknya yang tak pernah hidup.
Kesehatan : Manfaat Rutin Berjalan Kaki untuk Kesehatan Jantung