Rintihan Angker di Jurang Selopamioro yang Memekik Kesunyian

Rintihan Angker di Jurang Selopamioro yang Memekik Kesunyian post thumbnail image

Undangan Keheningan

Ketika senja menutup cakrawala, tim petualang berempat menapaki jalan setapak menuju Jurang Selopamioro. Namun, begitu kaki pertama menjejak kerikil dingin, rintihan angker di jurang selopamioro menyusup ke telinga, memekikkan kesunyian seperti tombak berkarat. Selain itu, udara yang tadinya lembap mendadak menjadi amat dingin, seakan suatu kehadiran gaib mengawasi. Oleh karena itu, sebelum langkah berikutnya diayunkan, rasa ngeri mulai memeluk sanubari—pertanda bahwa malam ini bukan sekadar ekspedisi biasa.

Penyusupan ke Tebing Terjal

Lebih jauh ke dalam hutan pinus yang mengelilingi jurang, jalan sempit terjal menurun dengan kemiringan hampir 70°. Sementara itu, senter berkelip tak menentu, menciptakan bayangan pohon merambat di dinding batu. Di samping itu, kabut tipis merayap naik, menyembunyikan tepi jurang dan menantang akal sehat. Meskipun hati berdebar, tekad untuk menuntaskan misi memaksa langkah tetap maju. Tetapi, setiap meter yang ditempuh justru semakin membongkar misteri kelam yang tersembunyi di dasar jurang.

Pertama Kali Mendengar Rintihan

Setelah menuruni tiga puluh meter tali pendakian, suara rintihan pelan terdengar—seperti desahan panjang dari dunia lain. Suara itu bergema melalui dinding batu, berpadu dengan gemerisik daun kering. Lebih jauh, satu per satu anggota tim mengerutkan dahi: apakah itu panggilan korban kecelakaan atau jeritan arwah penasaran? Namun demikian, tidak satu pun berani mengabaikan kode gaib tersebut. Dengan demikian, rasa ingin tahu dan ketakutan berkelindan, mendorong mereka bertahan meski nyali tercekat.

Malam di Dasar Jurang

Ketika menjejak dasar jurang, lapangan batu kecil terbentang—bekas erosi zaman purba. Selain ditopang tebing tinggi, di tengahnya terdapat kolam air jernih. Namun demikian, air kolam memantulkan bayangan samar, seakan wajah-wajah pucat berkelebat di bawah permukaan. Oleh karena itu, senter diarahkan, namun tak ada gerakan nyata, hanya pantulan cahaya menari. Meskipun demikian, hawa dingin semakin merasuk, membuat napas terasa berat.

Bisikan dari Kedalaman Batu

Tidak lama kemudian, sebuah bisikan terdengar, “Tolong… ingat…” Suara itu keluar tak beraturan, namun jelas berbahasa Jawa halus. Lebih jauh, dinding tebing retak memancarkan kilau hijau lumut, membentuk simbol kuno menyerupai rantai. Oleh karena itu, tim mencurigai adanya ritual kuno yang ditinggalkan leluhur, kemungkinan terkait dengan peristiwa kelam di masa lampau. Akan tetapi, rasa takut menahan keinginan mereka untuk menjawab panggilan gaib itu.

Penampakan Bayangan Kelam

Kemudian, di antara remang obor sumbunya, seorang anggota tim—Bima—menunjuk ke atas. Sesosok bayangan tinggi berbalut kain putih lusuh tampak menempel di dinding batu setinggi tiga meter. Selain itu, sosok itu menunduk seakan memohon, namun wajahnya datar tanpa ekspresi. Bahkan, senter yang diarahkan berkedip dua kali seolah menolak menampilkan detail. Oleh karena itu, semua sadar bahwa rintihan angker di jurang selopamioro bukan sekadar suara, melainkan entitas yang haus perhatian hidup.

Korban Ilusi dan Misteri Diasah

Meski ketakutan, Raka mencoba mendekat. Namun seketika, tubuhnya membeku, mata terbengong menatap sosok gaib yang kemudian lenyap dalam sempit. Selanjutnya, Raka mengalami pusing hebat dan melihat kilasan kenangan masa kecil—ia ingat bermain di kolam sawah yang kini hilang. Lebih jauh lagi, setiap ingatan yang muncul terasa pahit, seakan ada korek rasa duka yang belum terselesaikan. Dengan demikian, kekuatan jurang memecah batas antara dunia nyata dan ingatan terdalam.

Puncak Teror: Jeritan Penghabisan

Tidak lama setelah itu, hujan rintik turun menyusup celah batu, membiaskan cahaya lampu ke dalam kolam. Tiba-tiba, jeritan memekakkan telinga—suara bergelora dari balik dinding bawah tanah. Jeritan itu jauh lebih ngeri daripada rintihan sebelumnya; ia menyayat naluri bertahan hidup. Sementara itu, bebatuan di sekitar retak, menandakan getaran kuat di dalam bumi. Semua terperangah, nyali mereka tercerabut oleh teror tak terduga: rintihan angker di jurang selopamioro kini mengamuk dengan skala bencana.

Pengorbanan Terakhir

Akhirnya, Maya—satu‑satunya yang masih waras sempurna—menaikkan nada suaranya membacakan doa kuno yang pernah dipelajarinya dari seorang dukun desa. Ia menaburkan garam dan air suci di bibir kolam, lalu memanjatkan mantra penutup pintu gaib. Sementara itu, hujan semakin deras turun, membilas bekas jejak kengerian. Perlahan, jeritan berubah menjadi ratapan melembut, hingga kemudian hilang seketika. Setelah diam beberapa detik, air kolam kembali jernih, menandakan upaya penghentian kutukan berhasil.

Bayangan yang Tertinggal

Saat fajar merekah, tim menjejak keluar jurang dengan tubuh gemetar dan hati yang remuk. Meskipun terhindar dari bahaya fisik, luka psikis mereka masih menganga. Setiap kali langkah menapak jalan setapak naik, mereka memandangi dinding batu, berharap memastikan tak ada bayangan yang mengikuti. Lebih jauh, kisah rintihan angker di jurang selopamioro akan mereka simpan rapat—sebagai peringatan bahwa beberapa misteri alam lebih baik dibiarkan terkubur dalam hening.

Sejarah & Budaya : Sejarah Keramik Cirebon: Teknik dan Bentuk Klasik Abadi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post