Awal Malam yang Mencekam
Rembulan terselubung malam itu hanya menampakkan separuh wajahnya di balik awan tebal. Sinar pucatnya jatuh pada sebuah rumah tua di pinggir hutan yang telah lama ditinggalkan. Meski tampak rapuh, bangunan itu menyimpan aura yang membuat udara di sekitarnya terasa berat.
Andi, seorang pemuda desa, berdiri terpaku di depan pagar besi berkarat. Ia datang bukan untuk uji nyali, melainkan mencari kakaknya, Raka, yang menghilang sejak sore. Jejak terakhir mengarah ke rumah tua ini. Masyarakat desa sudah lama memperingatkan agar tidak mendekat, namun Andi tak punya pilihan lain.
Peringatan yang Terlambat
Di tengah langkah ragu, suara ranting patah dari arah belakang membuatnya menoleh. Seorang lelaki tua dengan tongkat berdiri sambil menatap tajam. “Kalau kau masuk, kau takkan pulang,” ucapnya lirih. Namun sebelum Andi sempat bertanya, lelaki itu berjalan menjauh dan lenyap di kegelapan.
Andi mencoba menepis rasa takut. Ia mengingat kata-kata ibunya bahwa Raka mungkin tersesat di hutan. Meski begitu, perasaan aneh terus mengusik. Angin malam menghembuskan bau anyir, bercampur wangi bunga melati yang terlalu pekat, seolah berasal dari dalam rumah.
Langkah Pertama ke Dalam Rumah
Pintu kayu itu terbuka dengan suara berderit panjang. Ruangan pertama gelap dan berdebu. Lantai kayu berderit setiap kali Andi melangkah. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang penuh lilin yang meleleh hingga membentuk stalaktit lilin menggantung.
Ketika ia menyalakan senter, sekelebat bayangan melintas di ujung koridor. Andi yakin itu bukan halusinasi. “Raka?” panggilnya, namun hanya gema yang kembali menjawab.
Bayangan di Tepi Tangga
Andi mendekati tangga kayu menuju lantai dua. Dari bawah, ia melihat sosok perempuan bergaun putih berdiri di puncak tangga. Rambutnya menutupi wajah, dan tubuhnya tampak sedikit bergetar. Andi membeku, namun sosok itu berbalik dan menghilang ke lorong gelap.
Dingin menjalar dari ujung kaki ke kepala. Meski naluri berkata untuk lari, tekad menemukan Raka mendorongnya naik. Setiap anak tangga ia pijak seperti mengeluarkan erangan halus, seakan rumah itu sendiri bernapas.
Lorong Penuh Bisikan
Lorong lantai dua sempit, dindingnya dipenuhi foto-foto keluarga dengan wajah yang nyaris pudar. Saat Andi melangkah, suara bisikan mulai terdengar. Bukan satu, tapi banyak, saling tumpang tindih, seperti berdoa dalam bahasa yang tak ia mengerti.
Lampu senter berkedip-kedip, lalu mati total. Dalam gelap, langkah kaki lain terdengar mendekat cepat. Andi menekan punggungnya ke dinding, menahan napas. Sesosok tinggi kurus lewat di depannya, membawa obor kecil yang nyalanya aneh—seperti api yang berwarna biru.
Penemuan yang Mengguncang
Di ujung lorong, Andi menemukan sebuah kamar dengan pintu setengah terbuka. Di dalamnya, ia melihat Raka terduduk membelakangi, tubuhnya gemetar. “Raka! Ayo pulang!” serunya sambil menarik bahu kakaknya.
Namun ketika Raka menoleh, wajahnya pucat pasi, mata kosong tanpa bola mata, hanya kehampaan hitam yang menatap. Bibirnya bergerak, namun yang keluar adalah suara perempuan: “Kau datang tepat waktu. Rembulan terselubung menunggu tamu baru.”
Kekuatan yang Mengikat
Seketika pintu kamar tertutup keras. Udara menjadi semakin dingin hingga napas membentuk kabut. Raka—atau makhluk yang menyerupainya—meraih tangan Andi dan menariknya ke sudut ruangan. Dari lantai, muncul tangan-tangan pucat yang mencengkeram pergelangan kaki Andi, menariknya ke dalam retakan kayu.
Andi berteriak, meronta, namun cengkeraman itu terlalu kuat. Di sekelilingnya, dinding kamar mulai berubah, menampakkan wajah-wajah yang menangis, seolah terperangkap di balik papan kayu.
Pelarian Terakhir
Dalam kepanikan, Andi meraih senter yang sempat terjatuh. Ia memukul tangan-tangan itu dengan gagang senter hingga lepas. Tanpa pikir panjang, ia menubruk pintu dan berhasil keluar. Lorong kini terasa lebih panjang, seolah rumah itu memanjangkan dirinya untuk menahan Andi.
Ketika ia berhasil mencapai tangga, sosok perempuan bergaun putih muncul lagi, kali ini menatap langsung dengan mata hitam penuh kebencian. Namun Andi melompat dari tangga tanpa memikirkan akibatnya, mendarat keras di lantai bawah dan berlari keluar.
Kembali ke Desa
Andi terus berlari hingga tiba di desa. Namun anehnya, meski ia sudah selamat, bayangan rumah tua itu tetap membayang di pikirannya. Malam berikutnya, ia bermimpi berdiri di depan rumah itu lagi, dengan Raka memanggilnya dari jendela lantai dua.
Dan di belakang Raka, rembulan terselubung memancarkan sinar pucatnya, seolah mengundang Andi kembali.
Lifestyle : Hidup Minimalis Jadi Gaya Hidup Favorit Generasi Muda