Perempuan Di Balik Tirai Hotel Kolonial Medan Tersenyum

Perempuan Di Balik Tirai Hotel Kolonial Medan Tersenyum post thumbnail image

Kedatangan di Hotel Kolonial

Raka tiba di sebuah hotel kolonial tua di Medan yang sudah lama menjadi rekomendasi wisatawan karena arsitektur lamanya. Namun sejak awal, meski suasana tampak damai, ia merasa lorong-lorongnya terlalu sunyi. Bahkan meski ventilasi terbuka, udara di dalam gedung terasa berat. Saat resepsionis memberikan kunci kamar nomor 209, Raka merasakan dorongan aneh untuk menolak. Namun, karena hari mulai gelap, ia tetap menerimanya.

Begitu masuk kamar, ia langsung melihat tirai tebal bergaya kolonial menutupi jendela besar. Anehnya, meski ia sudah menutup pintu rapat dan AC menyala, tirai itu bergerak seolah ada angin dari baliknya. Karena merasa lelah, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya. Akan tetapi, ketika ia berjalan ke arah kamar mandi, hembusan dingin menyentuh lehernya dan suara seperti napas pendek terdengar dari balik tirai. Dalam hati ia membatin bahwa mungkin ini hanya sugesti. Meski begitu, kata perempuan tirai tiba-tiba muncul dalam pikirannya tanpa alasan.


Tirai yang Selalu Bergerak

Malamnya, ketika Raka mencoba tidur, tirai yang awalnya tenang justru mulai bergerak secara ritmis, seperti ada seseorang yang berdiri di belakangnya dan memegang kainnya dari dalam. Meskipun ia berusaha mengabaikan suara-suara, tirai itu semakin cepat bergoyang setiap kali ia memejamkan mata.

Akhirnya, karena tidak tahan, ia bangkit dan menatap tirai itu. Tetapi tiba-tiba gerakan langsung berhenti, seolah-olah ada yang menunggu ia cukup dekat. Setelah mengumpulkan keberanian, Raka meraih ujung kainnya. Saat ia menarik pelan, udara di dalam kamar berubah drastis menjadi dingin. Namun ketika tirai tersingkap sedikit, ia tidak menemukan apa pun di baliknya.

Ia memutuskan menarik tirai hingga seluruhnya terbuka. Namun, bayangan samar perempuan tampak berdiri di luar jendela meski jendelanya sendiri tertutup rapat. Perempuan itu berdiri dengan kepala sedikit tertunduk dan rambut panjang menutupi seluruh wajahnya. Saat wajah itu perlahan terangkat, Raka langsung mundur panik. Meski ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya pantulan, ia tahu persis tidak ada siapa pun di balik jendela lantai dua itu.


Cerita Lama dari Pegawai Hotel

Keesokan harinya, Raka memberanikan diri bertanya kepada pegawai hotel yang sedang membersihkan lorong. Pegawai itu awalnya terdiam, kemudian menutup pintu lorong sebelum menjawab. Ia mengatakan bahwa dulu ada seorang perempuan Belanda yang bunuh diri dengan melompat dari jendela kamar 209 sambil menjerit mencari suaminya yang selingkuh. Konon, sebelum melompat, perempuan itu berdiri lama di balik tirai sambil menangis tersedu-sedu.

Pegawai itu memperingatkan Raka agar tidak membuka tirai pada malam hari. Menurutnya, tak peduli seberapa pelan angin malam, tirai itu selalu bergerak karena ada sosok yang masih berdiri di baliknya. Namun ia juga memberikan peringatan lain: jika tirai bergerak terlalu cepat, maka perempuan itu sedang mencoba keluar.

Raka merasa merinding dan menyesal bertanya. Namun ia tidak bisa pergi karena urusan pekerjaannya masih dua malam lagi.


Ketukan dalam Kegelapan

Malam kedua, Raka mencoba tidur lebih cepat. Namun tiba-tiba ia mendengar ketukan pelan di jendela. Ketukan itu terdengar rapi seperti kode. Meski ia sudah menarik selimut, ketukan itu semakin keras dan semakin cepat. Pada akhirnya, karena tertekan, Raka membuka mata dan melihat tirai bergerak ke samping, seolah seseorang berjalan dari satu sisi ke sisi lainnya sambil menyentuh kain.

Ia mencoba memanggil staf hotel lewat telepon, namun telepon kamar mati. Saat ketukan berpindah ke pintu kamar, Raka semakin ketakutan. Ia mendekat, tapi mendengar suara perempuan berbisik lirih dari bawah pintu. Bisikan itu lembut, namun penuh kesedihan.

“Aku tidak sendirian… jangan tinggalkan aku…”

Suaranya terdengar sangat dekat, dan Raka sadar bahwa suara itu bukan berasal dari lorong. Itu berasal dari dalam kamarnya sendiri.


Cermin yang Memantulkan Wajah Lain

Karena panik, Raka menyalakan seluruh lampu kamar dan menatap dirinya di cermin besar dekat ranjang. Namun yang membuatnya tertegun adalah bayangan di belakangnya. Dari dalam cermin, tirai tampak bergerak, tetapi di dunia nyata tidak. Dari balik tirai dalam cermin, wajah pucat seorang perempuan terlihat jelas menatap Raka. Rambutnya basah, dan darah menetes dari pelipisnya.

Ketika Raka menoleh ke belakang, tirai di dunia nyata tetap diam. Namun dalam cermin, perempuan itu semakin dekat. Tanpa suara, dia membuka mulut lebar-lebar hingga retakan muncul pada pipinya.

Raka memukul cermin itu dengan tangan gemetar, tetapi permukaannya tidak retak sama sekali. Justru dari dalam cermin, tangan perempuan itu terjulur keluar sedikit demi sedikit. Ujung kukunya nyaris menembus permukaan kaca.

Ia menutup wajahnya sambil berteriak. Ketika membuka mata, perempuan itu lenyap. Namun tirai di dunia nyata mulai bergerak cepat, sangat cepat, seolah seseorang berusaha merobeknya dari dalam.


Wajah di Balik Tirai

Untuk pertama kalinya, Raka merasa tirai itu bukan lagi kain. Tirai itu seperti daging tipis yang bisa mengembang dan mengerut sesuai gerakan sesuatu di baliknya. Ketika ia mendekat, bayangan perempuan itu membentuk wajah melalui kain. Wajah itu menempel dari dalam dan perlahan mendorong tirai hingga benjolan menyerupai hidung, mata, dan bibir terlihat jelas.

Karena takut, Raka mengambil kursi dan mendorongnya melawan tirai. Namun dari balik kain, tangan pucat menembus keluar dan mencengkram kaki kursi. Suara tulang patah terdengar dari dalam tirai.

Lalu, tirai itu terbelah dengan sendirinya.

Dan perempuan itu akhirnya keluar.

Rambutnya panjang hingga menyentuh lantai. Matanya kosong. Namun bibirnya tersenyum lebar, tidak manusiawi.

“Terima kasih… sudah membukakan jalan…”


Kamar 209 Tidak Pernah Dikosongkan

Pagi harinya, staf hotel menemukan kamar 209 dalam keadaan kacau. Tirai sobek dari atas ke bawah. Cermin pecah dari dalam. Barang-barang Raka masih tertata rapi, namun ia sendiri menghilang.

Hotel mencatat kejadian itu sebagai tamu yang pergi tanpa check-out. Namun ada satu hal yang membuat staf merinding setiap kali masuk kamar itu: sejak malam itu, tirai yang baru dipasang selalu bergerak, meski kamar sedang dikunci dan AC mati.

Dan kadang—jika diperhatikan cukup lama—bayangan perempuan itu masih berdiri di balik tirai, menunggu seseorang yang mau membuka jalan lagi.

Olahraga : Olahraga Pagi yang Tepat untuk Meningkatkan Semangat Harian

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post