Penampakan di CCTV Masjid Tua yang Tidak Pernah Direkam

Penampakan di CCTV Masjid Tua yang Tidak Pernah Direkam post thumbnail image

Pada malam pertama aku bertugas mengecek sistem keamanan di kantor keamanan masjid tua, penampakan di CCTV masjid tua benar-benar menakutkan. Bahkan sebelum aku memasuki ruang kontrol, desiran angin dingin sudah menyergap lorong sunyi, membuat bulu kuduk meremang. Selain itu, lampu sorot di halaman masjid berkedip seirama dengan detak jantungku yang kian mempercepat ritme. Kemudian, begitu layar monitor menyala, aku menyadari bahwa malam ini akan menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai.

Malam Sepi di Masjid Tua

Pertama-tama, masjid itu berdiri sepi di ujung kota, jauh dari keramaian. Sementara itu, bangunannya penuh ukiran kuno dan kubah yang mulai pudar catnya, seakan menyimpan jutaan cerita lama. Kemudian, panggilan azan maghrib telah mereda, meninggalkan kubah sunyi dan halaman lapang yang hanya diterangi lampu remang. Lebih jauh, derap langkahku bergema di atas lantai batu, membuat gema panjang yang berulang-ulang.

Selanjutnya, aku menuju ruang kontrol yang terletak di bawah menara tua. Meskipun pintu geser elektronik masih berfungsi, ada getaran halus setiap kali aku menyentuh gagangnya—seolah ada sesuatu menahan. Bahkan jarum jam dinding tampak bergetar, menandai bahwa malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Gangguan Pertama pada CCTV

Setelah itu, aku menyalakan komputer dan memantau delapan saluran kamera yang terpasang di sekeliling masjid. Pada awalnya, rekaman tampak biasa: lorong masuk, halaman depan, serambi samping. Namun, tiba-tiba pada kamera tiga—yang menghadap pintu belakang—terdengar suara statis, lalu gambar terpotong sekejap.

Kemudian, muncul noda hitam menebal di sudut kanan layar; meskipun aku coba memindai ulang, noda itu tak hilang. Bahkan ketika aku mengganti sudut pandang ke saluran lain, noda itu seolah menempel di setiap kamera. Selain itu, monitor cadangan juga menampilkan bayangan samar yang bergerak cepat, padahal aku tahu kawasan itu kosong.

Suara dari Bayangan

Lebih lanjut, selagi aku memperbesar tampilan kamera tiga, kulihat sosok tinggi dengan jubah gelap berdiri di depan pintu kayu. Namun yang paling mengerikan, ia tak memiliki wajah—hanya permukaan hitam kosong yang memantulkan cahaya lampu sorot. Seraya panci kecil di dapur masjid berdering pelan, aku mendengar gema bisikan: “Pergi… jangan kembali…”

Meskipun takut, aku mencoba memperbaiki koneksi DVR, berharap hanya terjadi gangguan teknis. Namun, sesaat kemudian semua layar berganti hitam total. Seketika denyut nadiku melonjak, dan aku bergegas menuju rak penyimpanan untuk mengambil lampu senter. Selain itu, kubuka pintu ruang kontrol perlahan, bersiap menghadapi apa pun di luar sana.

Jejak tanpa Wajah

Kemudian, aku menelusuri koridor sempit menuju pintu belakang, hanya ditemani senter dan doa yang terucap perlahan. Setelah membuka pintu, aku melihat jejak kaki basah di lantai batu—padahal hujan sudah reda sejak sore hari. Jejak itu berarah ke halaman samping, lalu menghilang di balik tiang penyangga kubah.

Selanjutnya, saat aku menyusuri halaman, senter menyorot sekumpulan bunga melati layu tergeletak di muka batu nisan para imam tua. Lebih jauh, aroma manis bunga itu tercampur bau anyir tanah lembap, menciptakan suasana getir yang memekakkan hidung. Bahkan dedaunan palem bergoyang perlahan meski angin hampir tiada.

Rekaman yang Hilang

Kemudian aku kembali ke ruang kontrol, namun layar monitor kini memutar rekaman tiga jam yang lalu—saat masjid masih ramai. Padahal baru saja aku menyaksikan penampakan tanpa wajah. Lebih jauh, pada rekaman itu tidak ada satu pun gangguan; semua berjalan normal, seakan apa yang kulihat tidak pernah terekam.

Bahkan DVR menunjukkan klip penuh durasi, tapi saat aku mempercepat pemutaran hingga menit penampakan, tiba-tiba klip terhenti dan kembali ke awal. Selain itu, aplikasi pemutar mendadak error, memberikan pesan “File tidak ditemukan” dalam font kuning neon yang memantulkan keputusasaan.

Konfrontasi di Ruang Kontrol

Akhirnya, karena penasaran yang semakin menekan, aku memutuskan memasang kamera portabel di sudut ruang kontrol. Kemudian, aku duduk di hadapan layar, menunggu sinyal gangguan muncul kembali. Setelah menunggu hampir satu jam, pintu kaca ruang kontrol bergetar, dan kipas angin berdengung tidak beraturan.

Selanjutnya, lampu langit-langit meredup, lalu padam total. Hanya layar kamera portabel yang menyala, menampilkan ruangan gelap berbintik. Tiba-tiba, bayangan hitam tanpa struktur muncul di belakangku, lalu bergerak mendekat. Bahkan napasku terhenti sesaat ketika kuku panjang menekan bahuku—padahal di luar tidak ada orang.

Patah Arus dan Detak Jantung

Setelah itu, listrik kembali menyala, disertai bunyi “kresek” kabel yang terbakar. Kemudian layar ruang kontrol menampilkan siluet sosok tanpa wajah yang menatap lurus ke kamera. Seraya layar berkedip, gema bisikan terdengar pelan: “Sekarang giliranmu…”

Meskipun jantungku seakan berhenti, aku berlari keluar sambil menjatuhkan senter. Jalan setapak di depan masjid tampak semakin panjang; setiap langkah terasa menuntunku masuk lagi ke kegelapan. Bahkan ketika aku menoleh, sosok hitam itu berdiri di pintu ruang kontrol, menatap kosong sebelum menghilang.

Fajar yang Menghancurkan

Akhirnya fajar tiba, menyingkap kabut tipis yang menyelimuti halaman masjid. Namun, bekas senterku tertinggal di koridor, dan DVR di atas meja terbakar separuh. Seraya kulaporkan kejadian malam itu pada kepala keamanan, mereka hanya terdiam—karena rekaman panjang yang menyimpan bukti semua gangguan itu… telah lenyap tanpa jejak.

Lebih jauh, kabar beredar bahwa beberapa petugas malam mengundurkan diri keesokan harinya, tak berani kembali. Kini, masjid tua itu tetap berdiri sunyi, namun setiap CCTV-nya disegel rapat. Meskipun demikian, bisikan dan bayangan tanpa wajah diyakini masih menghuni setiap sudutnya, menunggu malam gelap berikutnya.

Inspirasi & Motivasi : Mengatasi Rasa Takut: Langkah Awal Menuju Pertumbuhan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post