Pembalasan Mayat Hidup di Terminal Guntur yang Terlupakan

Pembalasan Mayat Hidup di Terminal Guntur yang Terlupakan post thumbnail image

🚌 Terminal yang Tak Pernah Benar-Benar Tidur

Jakarta tak pernah benar-benar tidur, begitu juga Terminal Guntur. Meski sudah tak seaktif dulu, terminal tua ini masih jadi tempat persinggahan para sopir malam, pengamen, dan bayangan yang tak selalu manusia. Menurut warga sekitar, pembalasan mayat hidup pernah mengguncang tempat ini di masa lampau—dan bayangannya masih tertinggal.

Malam itu, Dani, sopir bus antarkota, baru saja tiba. Ia mengambil jatah istirahat di kursi panjang pojok terminal. Sambil menghisap rokok, ia melihat sekelebat bayangan melintas. “Tukang sapu?” pikirnya. Tapi suara sapu tidak terdengar. Yang ada hanya bau anyir darah dan suara napas berat… seperti dari kerongkongan yang berlendir.


🕯️ Mayat Terbuang dan Dendam yang Membusuk

Dua dekade lalu, seorang preman bernama Mandor Juna meninggal secara mengenaskan di area Terminal Guntur. Ia dikeroyok massa setelah kedapatan memperkosa penumpang perempuan yang menolak memberinya uang. Tak ada polisi, tak ada proses hukum. Mayatnya dibuang ke dalam gorong-gorong terminal—dan tak pernah ditemukan kembali.

Sejak itu, konon pembalasan mayat hidup mulai terjadi. Sopir yang mencaci terminal, pengamen yang lancang, bahkan petugas yang mengambil “uang jatah” dilaporkan mendadak kesurupan, kejang-kejang, lalu mulut mereka mengeluarkan lumpur dan ulat hidup.


🌑 Dani dan Jeritan dari Dalam Kolong Bus

Malam itu, Dani melihat seorang perempuan tua mengetuk kaca busnya. Rambutnya panjang menutupi muka, tubuhnya gemetar. Ia meminta diantar ke “ujung Guntur,” tempat yang Dani tahu sudah ditutup sejak 2010.

Karena iba, Dani turun membukakan pintu. Namun saat menoleh, si nenek sudah tak ada. Yang terdengar hanyalah suara erangan dari bawah kolong bus. Dani jongkok… dan di sanalah ia melihatnya.

Tangan berlendir, penuh belatung, merangkak keluar dari sela ban belakang. Tubuh bus terguncang sendiri. Dani mundur, gemetar, tapi tubuhnya terkunci dingin. Bayangan sosok itu mendekat. Dari mulutnya keluar suara serak:

“Balikkan nyawaku… Kalian semua akan ganti…”

Tak lama kemudian, Dani ditemukan pagi harinya, tergeletak kaku. Bola matanya pecah, mulutnya menganga penuh pasir dan rambut panjang kusut.


🚫 Saksi-Saksi yang Tak Pernah Bicara Lagi

Petugas keamanan yang sempat menyaksikan kejadian itu dilarikan ke RSJ. Ia terus bergumam tentang “suara dari lubang terminal,” “wajah hancur dengan mata membusuk,” dan “aroma daging manusia terbakar.” Semua yang mendekati area kolong tempat Dani ditemukan mengeluh pusing, mual, dan terkadang… mendengar suara rintihan minta tolong.

Sejak itu, pojok Terminal Guntur ditutup dengan seng. Tapi warga tahu, pembalasan mayat hidup di sana belum selesai. Kadang malam, terdengar langkah kaki di aspal kosong, padahal tak ada siapa pun.


⛓️ Dosa yang Tidak Dikubur Akan Hidup Kembali

Pembalasan mayat hidup bukan sekadar cerita rakyat. Ini tentang bagaimana luka masa lalu bisa bersemayam di tanah, dan dendam bisa tumbuh seperti jamur busuk di tempat gelap. Terminal Guntur, dengan semua sejarah kelamnya, menjadi pengingat: bahwa kejahatan yang tak ditebus akan bangkit—dan menagih jiwa.

Teknologi & Digital : Cloud Computing UMKM: Percepat Bisnis dari Pelosok Desa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post