Awal Kengerian di Desa Tua
Nyalimu malam Toraja menjadi kisah yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan warga. Desa yang berdiri di ketinggian dengan rumah adat tongkonan menjulang itu selalu diselimuti kabut tebal begitu matahari tenggelam.
Di antara pohon bambu yang berderak, terdengar suara-suara asing yang tidak pernah bisa dijelaskan. Banyak yang mengatakan itu hanyalah angin, tetapi bagi sebagian lain, itu adalah bisikan arwah leluhur yang gelisah.
Suara Gendang dari Balik Kabut
Ketika kabut semakin pekat, terdengar suara gendang besar dipukul bertalu-talu. Dentumannya menusuk jantung, seakan memanggil sesuatu dari balik kegelapan. Nyalimu malam Toraja terasa nyata bagi Lemba, pemuda yang nekat masuk ke gua tua di desa.
Dentuman gendang kadang cepat, kadang lambat, seolah mengikuti degup jantungnya sendiri. Lemba semakin menyadari, malam itu bukan sekadar uji nyali, melainkan pintu ke dunia lain yang gelap dan penuh bisikan.
Kuburan Batu yang Bergetar
Di dalam gua, lilin-lilin kecil yang ditancapkan di sela batu bergetar meski tak ada angin. Aroma dupa menusuk hidung, bercampur bau tanah lembab dan kayu busuk.
Saat matanya terbiasa dengan cahaya temaram, Lemba melihat peti mati kayu tua terbuka sedikit, dan dari celahnya keluar tangan keriput berbalut kain merah lusuh. Nyalimu malam Toraja membuat darahnya membeku.
Setiap langkahnya kini terasa berat. Kabut di dalam gua bergerak sendiri, membentuk bayangan panjang yang seakan menatapnya dengan mata kosong.
Ratapan di Antara Tongkonan
Di desa, warga lain mendengar suara aneh itu. Dari dalam tongkonan, seorang tetua berusaha membaca mantra untuk menenangkan roh-roh yang mulai resah. Namun, semakin ia berdoa, suara ratapan itu semakin keras.
Beberapa warga melihat sosok perempuan berambut panjang berdiri di ujung jalan batu. Api obor yang dibawanya berwarna biru, berbeda dari api biasa. Sosok itu berjalan perlahan menuju hutan bambu, meninggalkan jejak cahaya aneh di tanah yang dilewatinya.
Nyalimu malam Toraja kini menjadi peringatan bagi siapa pun yang mendengar suara gaib itu.
Pertemuan dengan Leluhur
Lemba jatuh berlutut di depan peti batu. Tangan keriput itu semakin keluar, disusul wajah pucat dengan mata kosong. Dari dalam gua, terdengar suara orang banyak berbicara dalam bahasa kuno.
“Kenapa kau datang tanpa izin?” suara itu bergema.
Nyalimu malam Toraja terasa seperti tali tak kasat mata yang melilit lehernya, menariknya ke peti batu. Bayangan besar memukul gendang tepat di hadapannya, membuat kesadarannya nyaris terputus.
Kembali dengan Luka yang Tak Hilang
Keesokan paginya, warga menemukan Lemba terbaring di dekat pintu gua dengan tubuh penuh luka gores. Tidak ada tanda-tanda benda keras atau hewan liar, seakan luka itu muncul dari dalam dirinya sendiri.
Sejak saat itu, Lemba sering menggumamkan suara gendang setiap malam. Nyalimu malam Toraja tetap membekas di pikirannya, menandai malam yang tak akan pernah terlupakan.
Teror yang Tak Pernah Usai
Hingga kini, kisah itu tetap menjadi bagian dari ingatan warga. Setiap malam berkabut, terutama setelah upacara adat besar, suara gendang terdengar samar dari arah gua.
Beberapa wisatawan yang menginap di desa mengaku melihat bayangan perempuan berambut panjang menatap dari jendela rumah. Bagi warga, itu bukan hal asing. Mereka hanya berkata, “Itulah nyalimu malam Toraja, menyulam rasa takut yang tak pernah hilang.”
Food & Traveling : Kopi Lokal Naik Daun, Petani Arabika Diuntungkan Besar