Nyalimu di Malam Meniris Hati Rapuh di Gunung Merapi

Nyalimu di Malam Meniris Hati Rapuh di Gunung Merapi post thumbnail image

Awal Perjalanan di Gunung Merapi

Nyali malam sering kali diuji ketika seseorang memutuskan mendaki Gunung Merapi bukan di siang hari, melainkan ketika gelap menyelimuti. Begitu pula dengan sekelompok pemuda yang nekat menantang diri mereka sendiri.

Raka, Dian, dan tiga temannya memulai perjalanan mendaki dari jalur Selo menjelang senja. Mereka beralasan ingin menikmati panorama malam dari pos 2. Namun, alasan lain yang tak mereka ungkapkan adalah keberanian: mereka ingin tahu apakah benar cerita horor tentang nyali malam di Gunung Merapi hanyalah mitos.


Dentuman yang Membelah Hening

Di pos 1, suasana masih terdengar ramai. Beberapa pendaki lain masih bercengkerama. Namun, ketika mereka meneruskan langkah ke jalur yang lebih sepi, hening mulai menelan suara mereka.

Tiba-tiba, terdengar dentuman keras dari arah puncak. Tanah bergetar, burung-burung malam berhamburan. Dentuman itu bukan letusan besar, melainkan seperti hantaman benda raksasa yang jatuh di tanah. Mereka saling bertukar pandang, tetapi memutuskan tetap maju.

Nyali malam yang mereka bawa mulai diuji.


Bisikan dari Lereng

Semakin tinggi, kabut semakin tebal. Senter yang mereka bawa tak mampu menembus gelap yang begitu pekat. Saat melewati jalur berkelok, Raka mendengar bisikan samar.

“Balik… balik…”

Bisikan itu terdengar jelas di telinganya, meskipun teman-temannya tak bereaksi. Raka mencoba menenangkan diri, tapi saat ia menoleh, di balik kabut tipis tampak sosok perempuan berjubah putih. Wajahnya tak terlihat, tapi tangannya menunjuk lurus ke arah jurang.

Dentuman kecil kembali terdengar. Nyali malam Raka runtuh setengah, tetapi ia diam demi tidak membuat panik yang lain.


Tenda yang Bukan Milik Siapa-siapa

Mereka tiba di area datar yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Anehnya, di sana sudah ada sebuah tenda hitam yang terpasang rapi, meski tak ada suara orang dari dalamnya.

Mereka memutuskan mendirikan tenda agak jauh dari sana. Namun, rasa penasaran membuat Dian mendekat untuk mengecek. Saat ia membuka resleting tenda itu, tidak ada apa-apa di dalamnya, hanya kosong melompong. Tapi begitu ia menutup kembali, terdengar suara napas berat dari arah dalam tenda.

Dentuman terdengar lagi, lebih dekat. Nyali malam mereka kembali goyah.


Malam yang Membeku

Saat tengah malam, suhu turun drastis. Api unggun yang mereka buat terasa tak memberi hangat. Dari dalam tenda, mereka mendengar langkah kaki berputar-putar di luar. Sesekali, bayangan besar melewati cahaya senter mereka.

Raka mengintip dari celah tenda. Ia melihat sosok hitam tinggi dengan mata menyala merah, berjalan perlahan membawa obor tua. Setiap kali sosok itu berhenti, dentuman terdengar seperti palu yang memukul tanah.

Nyali malam berubah menjadi rasa takut yang meniris hati mereka.


Hilangnya Salah Satu dari Mereka

Sekitar pukul dua dini hari, salah satu teman mereka, Jodi, tiba-tiba hilang dari tenda. Ia yang tadinya tidur di pojok, lenyap tanpa suara.

Mereka panik, berusaha mencari ke sekitar dengan senter. Namun yang mereka temukan hanyalah jejak kaki Jodi yang mengarah ke tenda hitam misterius. Begitu mereka mencoba mendekat, dentuman keras membuat tanah berguncang. Tenda hitam itu roboh, namun di bawahnya terlihat lubang gelap menganga.

Dari dalam lubang, terdengar suara Jodi berteriak minta tolong. Tapi semakin lama, suara itu terdengar makin jauh dan samar.


Puncak Teror di Lereng

Tak tahu harus bagaimana, mereka memutuskan turun kembali. Namun jalur yang mereka lewati tidak lagi sama. Pepohonan tampak lebih rapat, kabut lebih tebal, dan setiap beberapa langkah, dentuman terus mengiringi.

Di tengah kabut, mereka melihat barisan orang berpakaian hitam berjalan tanpa suara, masing-masing membawa obor kecil. Wajah mereka kosong, seakan tanpa jiwa. Barisan itu berhenti tepat di depan mereka, lalu salah satu dari sosok itu mengangkat tangannya, menunjukkan arah ke atas.

Raka merasa seperti ditarik paksa untuk mendaki lebih tinggi. Nyali malamnya hampir runtuh seluruhnya.


Kembali ke Dunia Nyata

Saat fajar mulai menyingsing, tiba-tiba semua suara hilang. Kabut lenyap, hutan kembali seperti semula. Mereka menyadari hanya bertiga yang tersisa. Jodi dan seorang teman lain tidak pernah ditemukan lagi.

Mereka turun dengan tubuh lemas, seakan baru saja melewati malam yang bukan milik dunia nyata. Nyali malam yang mereka coba uji justru membawa mereka ke pintu gelap yang tak bisa mereka pahami.


Misteri Nyali Malam di Gunung Merapi

Hingga kini, cerita itu tak pernah mereka ceritakan secara terbuka, kecuali bisikan di antara sesama pendaki. Gunung Merapi, selain menyimpan sejarah letusan dahsyat, juga memendam kisah horor yang tak kalah menyeramkan.

Nyali malam bukan hanya soal keberanian menghadapi dingin dan kabut, tetapi juga kesiapan batin menghadapi sesuatu yang tak terlihat. Karena sekali nyali malam runtuh, hati rapuh bisa ditelan oleh kekuatan gaib di lereng Merapi.

Lifestyle : Aktivitas Hiking Jadi Pilihan Liburan Keluarga Masa Kini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post