Nafas Terkapar di Pasar Beringharjo Yogya Memecah Harapan

Nafas Terkapar di Pasar Beringharjo Yogya Memecah Harapan post thumbnail image

Awal yang Bergetar

Ketika nafas terkapar di Pasar Beringharjo pertama kali mengisi udara malam, seketika seluruh deru tawa dan jual-beli mendadak tenggelam. Malam itu, di lorong sempit antara deretan lapak kain batik lawas, suara langkah kaki terdengar bergema, namun tanpa wujud pemiliknya. Selain itu, kabut tipis menyelimuti lantai batu, membuat perjalanan siapa pun seolah melintasi dunia lain. Fokus keyphrase muncul di benak setiap orang yang dengan penasaran menyusuri lorong, lalu mengendap menjadi ketakutan yang menjemput.


Malam Pertama di Lorong Sepi

Pertama-tama, sekelompok mahasiswa yang iseng mencari spot fotografi malam memilih Pasar Beringharjo sebagai lokasi petualangan. Mereka tiba sekitar pukul sepuluh lewat, ketika kios-kios telah tutup dan lampu-lampu neon mulai padam satu per satu. Akibatnya, suasana berubah muram, hanya diterangi lampu sorot senter. Lebih jauh lagi, suara jangkrik yang biasanya mengisi sudut pasar, malam itu hilang sama sekali. Kedamaian semu terselimuti rasa was-was.


Desahan di Antara Pedagang Bayangan

Selanjutnya, langkah mereka terhenti saat mendengar desahan pelan—seperti napas tersengal—berasal dari salah satu kios kosong. Prasangka awal menyebutnya hewan terluka, namun begitu mereka mendekat, bayangan samar tampak bergerak menembus celah tirai kain. Mereka terkejut; bayangan itu tidak nyata, sebab tidak tampak sosok yang jelas. Bahkan, desahan itu terasa menembus tulang rusuk, seolah-olah ada jiwa yang kesakitan di balik dinding tua.


Bisikan yang Menghantui

Setelah desahan, muncul bisikan tak berbentuk: “…tolèk… kènèh….” Suara itu berulang, silih berganti, meninggalkan gema di kepala siapa pun yang mendengar. Oleh karena itu, beberapa dari mereka merinding dan mundur beberapa langkah. Namun, rasa penasaran membutakan ketakutan—mereka justru semakin mendekat. Transisi dari ragu ke nekat itu pun menjadi jebakan bagi pikiran sehat, sehingga batas antara realita dan khayal perlahan terkikis.


Kilatan Lampu yang Menuntun

Kemudian, senter dipegang satu per satu hingga membentuk cahaya terfokus ke sudut lorong. Tiba-tiba, kilatan lampu menunjukkan sebentuk bayangan putih melayang pelan. Sama sekali tak berbentuk manusia, bayangan itu melengkung seperti kain tipis yang menari di udara. Selain menakutkan, bayangan itu juga seolah menuntun, memanggil mereka untuk mengikuti ke kedalaman pasar. Mereka sejatinya ingin mundur, namun kaki terasa beku—sehingga mereka terus melangkah.


Lorong yang Membelok Tanpa Ujung

Lebih jauh, lorong sempit itu tampak membelok sendiri. Padahal, sebelumnya rombongan sudah hafal peta kecil lokasi pasar. Kini, mereka berputar tanpa menemukan jalan keluar. Oleh sebab itu, panik mulai merebak. Telepon genggam yang mereka andalkan kehilangan sinyal, dan baterai menipis. Dalam kondisi tertekan, seorang pemuda menoleh sembari berbisik, “Apakah ini… ilusi?” Namun, tak ada jawaban selain bisikan ghaib yang terus menggema: nafas terkapar di Pasar Beringharjo


Sentuhan Dingin Menyentuh Bahu

Pada saat itulah, seorang gadis mendadak teriak kencang. Tangan dingin menyentuh bahunya—padahal tak seorang pun berada di sampingnya. Seketika, aliran darahnya berdesir, dan jantungnya berdegup kencang. Kemudian, cahaya senter berantakan, tertiup angin meskipun pintu pasar tertutup rapat. Akibatnya, sejenak mereka terjebak dalam kegelapan total. Suara desahan dan bisikan berubah menjadi tawa samar, menusuk telinga, seolah memperolok ketakutan mereka.


Jeritan di Tengah Kabut

Beruntung, salah satu mahasiswa berhasil menenangkan diri dengan meneriakkan mantra Jawa biasa, berharap bisa menetralisir gangguan. Meski begitu, jeritan panjang terdengar memecah hening, seolah berasal dari dasar jurang di bawah lorong. Meskipun mereka berada di atas lantai yang rata, suara itu sangat dalam—membuat tanah bergetar halus. Tanpa ragu lagi, mereka berlari, mengikuti kilatan lampu darurat yang tiba-tiba menyala.


Pintu Besi yang Terkunci Sendiri

Setelah berlari menuruni anak tangga batu, mereka tiba di pintu besi besar yang memang menjadi salah satu akses utama pasar. Anehnya, pintu itu terkunci rapat meski pada siang hari selalu terbuka. Mereka menarik dan mendorong sekuat tenaga, tapi pintu tetap diam. Lalu, terdengar dentingan kecil dan sebuah suara parau yang berkata, “Tinggal… di sini…” Seketika, senter terakhir padam, meninggalkan mereka dalam gelap gulita.


Titik Terang dan Kenyataan Pahit

Akhirnya, cahaya lampu jalan di luar pasar menembus celah celah pintu besi. Dua petugas keamanan yang lewat menemukan mereka terkapar di depan pintu, tubuh gemetar dan mata kosong. Setelah dibawa ke pos jaga, mereka menceritakan pengalaman mengerikan itu. Lebih jauh, petugas mengatakan bahwa sejak dulu konon Pasar Beringharjo pernah jadi tempat eksekusi orang berdosa, lalu roh-roh penasaran konon bergentayangan.


Jejak yang Tak Terhapus

Walaupun kejadian itu sudah sepuluh hari berlalu, jejak ketakutan masih menempel di ingatan. Beberapa anggota rombongan memutuskan tak menjejakkan kaki lagi ke pasar, sedangkan yang lain justru merasa terobsesi untuk kembali—mencari jawaban dibalik “nafas terkapar di Pasar Beringharjo” yang terus menghantui mimpi mereka. Bahkan, layar kamera ponsel mereka menangkap siluet samar di balik dereta lapak, seolah mengajak kembali.


Harapan yang Tersisa

Di sisi lain, kisah ini menumbuhkan rasa ingin tahu masyarakat—bahwa setiap sudut Pasar Beringharjo menyimpan lapisan sejarah dan misteri. Selain menimbulkan ketakutan, fenomena ini menjadi pengingat akan fragilitas harapan manusia ketika berhadapan dengan dunia lain. Mahasiswa yang selamat merasakan satu hal: walau harapan bisa pecah oleh teror malam, rasa penasaran kadang lebih kuat daripada ketakutan.


Akhir yang Membuka Pintu

Akhirnya, rombongan memutuskan untuk menulis jurnal pengalaman mereka, berharap suatu hari bisa kembali dengan persiapan yang lebih matang, membawa sesajen dan doa. Namun sebelum itu, mereka terus terngiang nafas terkapar di Pasar Beringharjo, suara sunyi yang memecah harapan sekaligus membius jiwa untuk terus mencari kebenaran di balik lorong pasar kuno.

Sejarah & Budaya : Ritual Panen Padi: Filosofi Lokal dalam Seremonial Tradisi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post