Pendahuluan: Undangan Menuju Kedalaman Gelap
Pada malam tanpa bulan, sekelompok peneliti urban legend berani menembus wilayah terlarang—Gua Nyi Roro Kidul. Mereka datang bukan untuk studi arkeologi, melainkan untuk merekam perjamuan arwah gaib yang konon digelar roh-roh purba setiap malam Jumat Kliwon. Meskipun rasa takut merambat di tulang, keingintahuan mereka lebih kuat. Dengan perlengkapan senter, kamera infra-merah, dan mantra perlindungan, mereka memasuki mulut gua, tanpa menyadari bahwa ambang gelap itu adalah pintu menuju mimpi buruk tak berujung.
Ritualitas Purba di Balik Tirai Semu
Setelah menapaki lorong berbatu sepanjang seratus meter, mereka tiba di ruang alamiah—dinding kapur memantulkan cahaya senter dengan rona hijau. Di tengahnya, terdapat altar batu tua, berukir simbol-simbol kuno Jawa. Selain itu, beberapa lilin merah menyala di sudut, meski angin dingin berdesir deras. Sejenak, mereka terhipnotis oleh pemandangan: deretan piring antik berisi bunga melati layu, air kelapa hitam pekat, dan sesajen kerang laut. Tiba-tiba, ledakan tawa melengking memecah keheningan, mengumandangkan awal dari perjamuan arwah gaib.
Bisikan dari Lorong Bawah Tanah
Lebih lanjut, ketika salah satu anggota tim, Intan, memutar rekaman suara, mereka mendengar bisikan teredam: “Selamat datang… bergabunglah…” Suara itu memanggil nama mereka satu per satu, seolah mengenali kehadiran manusia. Pada saat bersamaan, pintu lorong belakang gua menutup dengan sendirinya, memerangkap mereka. Suara langkah kaki tak kasat mata mendekat. Lampu infra-merah menangkap bayangan putih melintas di ujung koridor, lalu menghilang di dalam arus kabut.
Teriakan di Tengah Kerlip Lilin
Setelah panik, mereka mencoba menyalakan lilin pelindung yang dibawa. Namun api menari sendiri, menciptakan bayangan menakutkan di permukaan batu. Kemudian, seorang anggota, Bayu, tersentak saat mendengar jeritan tinggi: “Bebaskan aku!” Teriakan itu bergema melewati piring-piring sesajen, mengguncang altar. Seketika, lilin padam; disusul suara gemeretak rantai—seakan roh-roh terikat di pendulum ajal—memanggil penderitaan yang tak berkesudahan.
Petaka di Ruang Terkutuk
Tak lama kemudian, peralatan elektronik mati total. Mereka terperangkap dalam kegelapan pekat. Berdasarkan catatan tertua yang dibawa, ritual perjamuan arwah gaib hanya boleh disaksikan dengan panca indra murni—tanpa bantuan teknologi. Oleh karena itu, mereka harus bertahan dengan senter manual dan keyakinan. Namun, rasa dingin bukan hanya dari batu kapur; desiran nafas tak beraturan memenuhi lorong. Intan merasakan sesuatu memegang bahunya, lalu menghilang, menyisakan busa darah di permukaan kulit.
Jejak Darah dan Arah Pelarian
Selanjutnya, mereka mengikuti jejak cairan pekat yang mengalir di sela batu-batu, menuju ruangan samping. Arah itu seolah ditunjuk oleh roh yang ingin menuntun—atau malah memimpin menuju jurang maut. Bayu, di depan, merunduk dan melihat tulisan kuno terpahat: “Di perjamuan ini, jiwa yang sombong akan terperangkap selamanya.” Sementara itu, suara gelak tawa kembali menggema—lebih kasar dan mendesak. Transisi ketakutan ke panik membuat langkah anggota tim berantakan, hingga akhirnya mereka menabrak dinding lembab.
Konfrontasi dengan Roh Penjaga
Saat lampu senter Intan menyapu ruangan, sosok berjubah putih muncul perlahan—berwajah tanpa mata, hanya rongga gelap memancarkan kengerian. “Kau berani mencuri malam kami,” bisiknya bergema. Dengan suara parau, sosok itu merentangkan tangan, memanggil gesekan rantai. Bayu menjerit, memalingkan wajah, sementara yang lainnya bergandeng tangan mencari arah keluar. Roh itu melompat menembus mereka, meninggalkan jejak hawa dingin yang mematikan emosi.
Perebutan Jiwa di Lorong Terakhir
Dalam keadaan panik, Intan mengusulkan doa pengusiran sederhana—yang mereka pelajari dari dukun kampung. Namun, doa itu teredam oleh tawa mencekam. Mereka menunduk, berpegangan, berharap doa mampu membuyarkan kekuatan gelap. Tanpa diduga, lilin yang padam menyala kembali, menyorot bayangan merah yang menari di dinding. Biarlah hanya satu orang yang harus tinggal, menarik roh pulang. Mereka mengundi, dan akhirnya Laras terpilih.
Pengorbanan dan Pembebasan
Dengan mata berlinang, Laras maju, mengambil segenggam bunga kenanga. Ia meletakkannya di atas altar sambil membaca doa penebusan. Suara tawa perlahan meluruh menjadi ratapan lirih. Sesosok perempuan kilat muncul, memeluk Laras, lalu menghilang bersama kilatan cahaya hijau. Piring sesajen pecah, dan rantai-rantai gemeretak terlepas. Begitu Last, pintu lorong terbuka, mengantar mereka keluar sebelum fajar tiba.
Epilog: Warisan Malam Terlarang
Sejak malam itu, perjamuan arwah gaib di Gua Nyi Roro Kidul terlarang dikenal sebagai peristiwa yang hanya bisa disaksikan oleh jiwa-jiwa pemberani—namun dengan harga yang sangat mahal. Tim peneliti itu pulang membawa trauma mendalam, sementara gua kembali sunyi, menanti korban berikutnya. Konon, suara tawa seram itu masih bergema di balik bisikan angin, mengundang siapa pun yang mendengar untuk ikut serta dalam jamuan terkutuk.
Teknologi & Digital : Membangun Startup Karya Anak Bangsa Menuju Pasar Global