Lilin Di Kamar Kos Yogyakarta Padam Saat Angin Berembus

Lilin Di Kamar Kos Yogyakarta Padam Saat Angin Berembus post thumbnail image

Malam Tenang di Kamar Kos Yogyakarta

Malam itu, Yogyakarta baru saja diguyur hujan deras yang menyisakan hawa lembap dan dingin. Di lantai dua sebuah bangunan kos tua dekat kampus, Rani duduk sendirian di kamar sempit berukuran tiga kali empat meter. Karena listrik padam sejak magrib, satu-satunya sumber cahaya hanyalah lilin kos yang ia taruh di atas meja belajar tepat di samping tumpukan buku. Sementara itu, suara rintik hujan yang masih tersisa di talang dan deru kendaraan jauh di jalan raya menjadi latar suara yang terus bergema.

Di luar, lorong kos tampak gelap, hanya sesekali diterangi cahaya kilat yang menyambar. Selain itu, penghuni lain memilih turun ke lantai bawah untuk mengobrol bersama ibu kos di ruang tamu. Namun, Rani memilih tetap di kamar karena besok ia harus presentasi dan masih banyak materi yang belum dipelajari. Walaupun suasananya sunyi, ia mencoba menenangkan diri dengan menghela napas panjang.

Lilin Padam Saat Angin Berembus

Beberapa menit kemudian, angin malam pelan-pelan menyusup dari ventilasi kayu di atas jendela tua. Api lilin kos mulai bergoyang, memantulkan bayangan bergerigi di dinding kamar. Sekilas, bayangan itu tampak seperti tangan panjang yang merayap dari sudut ruangan. Namun, Rani langsung mengibaskan pikiran buruknya dan kembali fokus pada buku. Meski begitu, kilatan bayangan itu masih menari-nari di tepi penglihatannya.

Tiba-tiba, hembusan angin lebih kencang masuk, membuat gorden tipis berkibar dan pintu kamar bergetar pelan. Seketika, api lilin kos mengecil, berkerlap-kerlip, lalu padam total seolah ada yang meniupnya dari dekat. Dalam sekejap, kamar terjerumus dalam kegelapan pekat. Rani mematung, jantungnya berdegup lebih cepat. Sementara itu, dari arah lorong, tidak ada suara apa pun. Tidak ada tawa penghuni kos, tidak ada suara televisi ruang tamu, tidak ada langkah kaki.

Dengan tangan gemetar, ia meraba-raba permukaan meja mencari korek api. Namun, jari-jarinya hanya menyentuh permukaan kayu, buku, dan ujung piring yang ia gunakan untuk menampung lelehan lilin kos. Korek yang tadi jelas-jelas ia letakkan di samping lilin, kini seperti menghilang begitu saja.

Langkah-Langkah di Lorong Kos

Beberapa saat kemudian, di tengah hening yang menekan gendang telinga, terdengar suara langkah pelan di lorong depan kamar. Langkah itu tidak seperti langkah penghuni kos yang biasanya tergesa, melainkan lambat, berat, dan menyeret. Karena lorong gelap, bayangan apa pun tak tampak dari celah bawah pintu. Namun, suara itu makin lama makin jelas, seakan berhenti tepat di depan kamarnya.

Saat itu, Rani menahan napas. Di satu sisi, ia ingin berteriak memanggil ibu kos. Akan tetapi, di sisi lain, lidahnya seperti kelu dan tubuhnya terasa kaku. Kemudian, gagang pintu kamar bergetar pelan, seperti ada yang menyentuhnya dari luar. Bukan diputar, hanya digoyang lembut, seirama dengan langkah yang berhenti.

“Bu…?” Rani memberanikan diri memanggil lirih. Tidak ada jawaban. Alih-alih, justru terdengar tarikan napas berat di balik pintu, pelan namun jelas, seperti seseorang yang berdiri menempelkan wajahnya ke kayu.

Kamar yang Tiba-Tiba Terasa Asing

Setelah beberapa detik yang terasa seperti menit, getaran di gagang pintu berhenti. Sementara itu, suara langkah kembali terdengar, kali ini menjauh perlahan ke ujung lorong. Namun, suasana kamar sudah berubah. Udara terasa lebih dingin, dan ada aroma lembap bercampur bau kayu lapuk yang entah dari mana datangnya.

Karena masih gelap total, mata Rani mulai beradaptasi, sehingga bentuk-bentuk samar di sekelilingnya mulai terlihat. Bayangan lemari, kasur tipis, dan meja belajar tampak seperti siluet hitam yang berjejal di ruang sempit. Meski demikian, sudut sebelah lemari tampak lebih gelap dari bagian lain, seperti ada lubang hitam yang menelan cahaya.

Perlahan, dari sudut itu, terdengar suara lirih seperti kain yang bergesekan dengan tembok. Rani mengerjap, berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya suara tikus atau kucing di belakang dinding. Namun, suara itu semakin mendekat, diikuti sensasi seolah ada yang mengawasinya dari kegelapan.

Bisikan dari Belakang Telinga

Karena rasa takut semakin menekan, Rani memutuskan meraba lantai untuk mencari ponselnya. Ia ingat bahwa baterainya tinggal sedikit, tetapi setidaknya bisa menjadi sumber cahaya sementara. Tangan kanannya meraba ke tepi kasur, namun saat hampir menyentuh lantai, ia justru menyentuh sesuatu yang dingin dan lembap, seperti kulit yang lama terendam air.

Sekejap, ia menarik tangannya dan menahan teriak. Pada saat yang sama, angin kembali berembus dari ventilasi, tetapi kali ini lebih dingin, hampir seperti udara dari kulkas terbuka. Lalu, di dekat telinganya, terdengar bisikan serak, pelan, namun jelas:

“Kenapa… matikan… lilin kos-nya…?”

Rani terpaku. Bisikan itu begitu dekat, seolah seseorang menunduk dari belakang dan bicara langsung ke daun telinganya. Akan tetapi, ia tahu ia sendirian di kamar. Ia tidak berani menoleh, tidak berani bergerak, bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.

Cahaya Ponsel dan Wajah di Sudut Kamar

Dalam kepanikan, ia akhirnya menemukan ponselnya tepat di samping bantal. Dengan gerakan tergesa, ia menekan tombol daya. Layar ponsel menyala redup, memberikan sedikit cahaya biru yang menyapu ruangan. Saat itu, ia berharap bisa merasa lega. Namun, justru sebaliknya.

Di sudut kamar, tempat yang tadi terasa lebih gelap, kini tampak sesuatu. Di sana, terlihat sosok tubuh seperti perempuan, duduk bersimpuh menghadap tembok. Rambutnya panjang menjuntai menutupi wajah, dan gaunnya tampak basah, meneteskan air yang tak jelas asalnya. Namun yang paling mengerikan, di depannya tampak piring kecil berisi sisa lilin kos yang sudah habis, seperti baru saja dipadamkan.

Cahaya layar berkedip lemah karena baterai sekarat. Sementara itu, sosok itu perlahan menoleh. Rambutnya bergeser, menyingkap wajah pucat dengan mata kosong yang cekung, seolah pernah terbakar atau membusuk. Bibirnya bergerak tanpa suara, seakan mengucapkan sesuatu yang tak mampu ditangkap telinga. Detik berikutnya, layar ponsel mati total, menjerumuskan kamar kembali ke dalam kegelapan.

Kisah Tragis Penghuni Sebelumnya

Di tengah ketakutan, Rani tiba-tiba teringat obrolan samar para penghuni kos lain beberapa minggu lalu. Katanya, kamar yang ia tempati dulu pernah dihuni seorang mahasiswi perantau. Gadis itu dikenal pendiam, sering belajar sampai malam ditemani lilin kos karena ia takut gelap jika listrik padam. Suatu malam, menurut cerita, kebakaran kecil terjadi di salah satu kamar. Namun, api tidak menyebar karena lilin padam mendadak sebelum menyentuh gorden.

Akan tetapi, justru setelah kejadian itu, sang penghuni lama ditemukan tewas di kamar mandi lantai dua. Tidak ada luka bakar, tidak ada tanda kekerasan. Hanya tubuh pucat seperti baru diangkat dari sumur, dengan rambut basah menempel di wajah. Sebagian penghuni yakin, sebelum meninggal, gadis itu sering mengeluh melihat bayangan yang meniup lilinnya setiap malam.

Mengingat hal itu, Rani gemetar hebat. Karena cerita itu dulu ia anggap gosip berlebihan, kini ia merasa menyesal sudah menertawakannya.

Suara Dari Lorong dan Lilin yang Menyala Sendiri

Beberapa menit berlalu tanpa cahaya dan tanpa gerakan. Rani memejamkan mata, berharap ketika dibuka lagi, semua hanya mimpi. Namun, dari luar kamar, tepat di lorong, terdengar suara langkah berlari kecil-kecil, disusul tawa cekikikan pelan. Tawa itu tidak seperti tawa ibu kos atau teman-teman. Tawa itu terdengar jauh, bergema, dan menggantung di udara seperti suara yang diputar ulang dari rekaman lama.

Tiba-tiba, kamar kembali diterangi cahaya. Bukan dari ponsel, melainkan dari lilin kos di atas meja yang kini menyala kembali, padahal sumbu dan lelehannya jelas sudah habis. Api lilin tinggi, berwarna kekuningan dengan sedikit semburat biru di ujungnya. Bayangan di dinding kembali menari, tetapi kali ini lebih liar, membentuk siluet seolah seseorang berdiri tepat di belakang Rani.

Perlahan, ia membuka mata. Di depan meja, di balik nyala lilin kos, ia melihat pantulan dirinya di kaca kecil yang biasa ia gunakan berdandan. Namun, ada sesuatu yang salah. Di pantulan itu, di belakang bahunya, tampak sosok perempuan bergaun basah berdiri sangat dekat, dengan kepala miring dan mata kosong menatap lurus ke arah cermin.

Peringatan dari Dunia Lain

Rani tersentak dan berdiri sempoyongan, hampir jatuh menabrak meja. Api lilin kos bergoyang hebat, tetapi tidak padam. Sebaliknya, nyalanya justru makin tinggi, seolah marah karena terusik. Di tengah kepanikan, tiba-tiba suara pesan masuk terdengar dari ponselnya yang tadi mati. Layar ponsel menyala lemah, menampilkan satu notifikasi tak dikenal.

Nomornya berupa deretan angka aneh, dan pesan yang tertulis pendek saja:
“Jangan tinggalkan kamar ini gelap… atau aku yang akan menyalakan lilinnya.”

Tangan Rani bergetar membaca pesan itu. Sementara itu, dari arah sudut kamar, terdengar lagi suara gesekan kain, kali ini diikuti langkah pelan mendekat. Aroma anyir seperti air rembesan kamar mandi tua ikut memenuhi ruangan, membuatnya hampir muntah.

Pagi yang Tidak Pernah Terasa Sama

Tak lama kemudian, azan subuh berkumandang dari kejauhan. Cahaya tipis dari luar jendela mulai menyusup masuk, mengikis kegelapan kamar secara perlahan. Seiring bertambahnya terang, nyala lilin kos mengecil dan akhirnya padam begitu saja. Saat itu, suara langkah, tawa, dan bisikan serak menghilang, seolah hanya ikut hidup bersama gelap.

Ketika ibu kos mengetuk pintu untuk membangunkan penghuni, Rani membuka pintu dengan wajah pucat dan mata merah. Ia tidak tidur sepanjang malam. Meski mencoba menyangkal, dalam benaknya masih terbayang sosok bergaun basah dan pesan aneh di ponsel.

Saat siang hari, ia memberanikan diri mengecek riwayat pesan. Namun, tidak ada jejak notifikasi tadi. Tidak ada nomor asing, tidak ada pesan misterius. Hanya percakapan biasa dengan teman-teman kampusnya. Akan tetapi, di meja belajar, piring kecil bekas lilin kos tampak bersih, seolah tidak pernah digunakan semalam.

Sejak malam itu, Rani selalu memastikan kamar tidak pernah benar-benar gelap. Ia membeli lampu kecil darurat dan menolak menggunakan lilin lagi. Walaupun begitu, setiap angin malam berembus dari ventilasi dan membuat gorden bergoyang, ia selalu merasa ada yang duduk diam di sudut kamar, menunggu lilin lain untuk dinyalakan… lalu dipadamkan lagi.

Sejarah & Budaya : Tradisi Gotong Royong sebagai Cermin Persatuan Masyarakat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post