Awal Mula Pasar yang Sunyi
Pasar tradisional Sumedang selalu menjadi pusat kegiatan masyarakat sejak pagi buta. Namun, di balik hiruk-pikuk para pedagang dan pembeli, ada satu sudut pasar yang jarang disentuh. Sudut itu dikenal dingin, lembap, dan penuh aura gelap. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai tempat bersemayam kisah santet yang tak pernah pudar.
Konon, bertahun-tahun lalu seorang pedagang sayur perempuan meninggal secara misterius setelah konflik panjang dengan pedagang lain. Tubuhnya membiru, wajahnya membengkak, dan matanya terbuka seolah menatap dengan penuh dendam. Sejak saat itu, gosip tentang santet mulai menghantui pasar.
Bayangan di Sudut Gelap
Pada suatu malam, seorang pemuda bernama Adi yang bekerja sebagai penjaga malam di pasar mencoba melintasi area terlarang itu. Lampu-lampu redup menyoroti lorong sempit di antara kios kosong. Saat ia menyalakan senter, tiba-tiba bayangan hitam melintas cepat di dinding.
Jantung Adi berdegup kencang. Ia yakin hanya ada dirinya seorang di sana. Namun, suara cekikikan samar terdengar, seolah berasal dari arah sudut gelap itu. Tubuhnya mendadak kaku. Dalam kepanikan, ia teringat akan kisah santet yang selalu diceritakan orang-orang tua di kampung.
Teror Pedagang Baru
Keesokan harinya, seorang pedagang baru bernama Ratna menempati kios dekat sudut angker tersebut. Ratna tidak percaya dengan cerita mistis dan menganggap semua hanyalah takhayul. Ia tetap berjualan tanpa rasa takut. Namun, dalam beberapa hari, barang dagangannya membusuk lebih cepat dari biasanya.
Bahkan, para pembeli mengaku merasa pusing setelah singgah di kiosnya. Ratna mulai resah. Malam itu, ia bermimpi melihat seorang perempuan tua membawa boneka jerami dengan jarum tertancap di kepala boneka itu. Perempuan tua itu menatapnya sambil tersenyum jahat.
Penemuan Pusaka Terkutuk
Suatu pagi, seorang kuli angkut pasar menemukan sebuah bungkusan kain hitam di dekat kios Ratna. Saat dibuka, isinya adalah tanah kuburan, rambut manusia, dan serpihan kaca. Masyarakat geger, mereka yakin itu adalah media santet yang ditanam untuk mencelakai Ratna.
Ratna ketakutan. Ia mendatangi seorang dukun kampung untuk meminta pertolongan. Sang dukun mengatakan bahwa roh dendam masih berkeliaran di pasar, mencari korban baru. Santet bukan hanya menyerang tubuh, tetapi juga menyelimuti tempat itu dengan kegelapan.
Malam Puncak Teror
Suasana pasar semakin mencekam. Banyak pedagang enggan berjualan di malam hari. Namun Adi yang masih bertugas sebagai penjaga malam kembali menghadapi teror. Ia melihat bayangan hitam berlari cepat di lorong pasar, lalu lenyap di balik kios kosong.
Ketika didekati, udara di sekeliling terasa dingin menusuk. Dari sudut gelap terdengar suara lirih: “Kau juga akan merasakannya…” Adi terjatuh dan hampir pingsan. Saat membuka mata, ia melihat boneka jerami berdiri tegak di depan kios Ratna, meski tak ada seorang pun di sekitarnya.
Kejatuhan Ratna
Santet itu akhirnya benar-benar memakan korban. Ratna jatuh sakit secara mendadak. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, dan matanya tampak kosong. Meski sudah berobat ke berbagai tempat, kondisinya tak kunjung membaik.
Orang-orang mulai berbisik bahwa roh pedagang lama yang mati penuh dendam masih menuntut balas. Ratna dianggap sebagai pengganti target dendam tersebut karena menempati kios yang salah.
Ritual Penanggulangan
Untuk menghentikan teror, para tetua pasar memutuskan mengadakan ritual di sudut angker. Mereka menyalakan dupa, menaburkan bunga tujuh rupa, dan membaca doa sepanjang malam. Saat ritual berlangsung, banyak orang mengaku melihat bayangan perempuan melintas, lalu hilang dalam kepulan asap dupa.
Namun, tak lama setelah ritual selesai, terdengar jeritan Ratna dari rumahnya. Ia meninggal dengan kondisi tubuh kaku dan mata melotot, persis seperti pedagang sayur yang dulu.
Kembali ke Sunyi
Sejak kematian Ratna, kios di sudut pasar itu dibiarkan kosong. Tak ada pedagang yang berani menempatinya lagi. Setiap kali malam tiba, lorong pasar tetap sepi, diselimuti aura mencekam.
Kisah santet mengerikan itu terus diceritakan dari mulut ke mulut. Hingga kini, orang-orang percaya bahwa roh dendam masih bergentayangan, menunggu korban berikutnya yang berani mengganggu ketenangannya.
Kisah santet di pasar tradisional Sumedang bukan hanya sekadar cerita rakyat, melainkan peringatan akan kekuatan dendam yang tak bisa dianggap remeh. Sudut pasar itu menjadi saksi bahwa keangkeran bisa hadir di tengah keramaian, menciptakan teror yang abadi.
Berita & Politik : Dinasti Politik Masih Mengakar di Banyak Wilayah RI