Kerlingan patung batu yang melukai sanubarimu di Pulau Padar

Kerlingan patung batu yang melukai sanubarimu di Pulau Padar post thumbnail image

Awal Perjalanan yang Tenang

Pulau Padar di Nusa Tenggara Timur dikenal karena panorama perbukitannya yang menawan. Namun di balik keindahannya, tersembunyi legenda yang jarang diungkap. Bagi para nelayan lokal, Pulau Padar bukan sekadar destinasi wisata, melainkan juga tempat yang dihuni misteri kuno.

Raka, seorang fotografer muda, datang bersama dua temannya untuk mengabadikan keindahan pulau. Ia tak tahu bahwa perjalanan itu akan membawanya bertemu dengan patung batu yang menyimpan kengerian.


Pertemuan Pertama dengan Patung Batu

Saat menelusuri jalur kecil di tepi hutan, mereka menemukan patung batu berukuran manusia, berdiri kaku menghadap laut. Wajahnya tidak jelas, tetapi matanya seolah menyala redup, menatap lurus pada siapa pun yang mendekat.

“Seperti ada yang mengawasi kita,” gumam salah satu temannya. Raka hanya tertawa, namun ia merasa jantungnya berdegup tak biasa. Seolah tatapan patung batu itu menusuk langsung ke sanubarinya.


Malam yang Mengguncang

Mereka mendirikan tenda tak jauh dari lokasi patung. Malam pun tiba, dan angin laut membawa suara-suara ganjil. Raka terbangun ketika mendengar suara berbisik lirih, seperti doa yang diulang-ulang. Ketika ia menoleh keluar tenda, cahaya bulan memperlihatkan bayangan patung itu bergerak sedikit.

Bulu kuduknya berdiri. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya ilusi cahaya. Tetapi saat ia kembali memejamkan mata, bisikan itu berubah menjadi suara keras—suara rintihan panjang yang seakan datang dari batu itu sendiri.


Tatapan yang Menusuk Sanubari

Esok paginya, mereka kembali ke lokasi patung untuk memotret. Namun kali ini, wajah patung itu tampak lebih jelas. Ada guratan menyerupai senyum tipis di bibirnya. Raka terhenti, tubuhnya kaku. Tatapan patung batu itu terasa begitu nyata, seperti menembus ke dalam dirinya.

“Kenapa matanya seperti mengikuti kita?” tanya temannya.
Raka hanya diam, karena ia merasakan sesuatu menusuk ke dalam sanubarinya, membuat dadanya sesak.


Rahasia yang Terungkap

Seorang nelayan tua yang mereka temui di pesisir menceritakan asal usul patung itu. Konon, patung batu di Pulau Padar adalah jelmaan dari seorang pelaut yang dikutuk karena mengkhianati sumpahnya. Tatapannya dipercaya mampu melukai hati siapa pun yang melihatnya terlalu lama.

“Patung itu mencari jiwa,” kata sang nelayan. “Ia menyentuh sanubari manusia, merobeknya perlahan sampai yang tersisa hanyalah ketakutan.”


Ketakutan yang Menjadi Nyata

Malam berikutnya, Raka bermimpi. Ia melihat patung itu berjalan mendekatinya dengan langkah berat. Dari matanya memancar cahaya hijau yang menusuk tajam. Raka berlari, tapi setiap kali ia menoleh, patung itu semakin dekat. Hingga akhirnya, patung itu menyentuh dadanya, tepat di jantung.

Ia terbangun dengan napas tersengal. Dadanya terasa perih, seolah benar-benar ditusuk sesuatu. Saat ia membuka baju, terdapat guratan merah panjang seperti bekas cakar.


Teman yang Hilang

Ketakutan semakin nyata ketika salah satu temannya, Andi, hilang. Mereka mencarinya sepanjang malam, hanya menemukan jejak kaki yang berakhir di depan patung batu. Anehnya, di sekitar patung terdapat noda merah menyerupai darah yang belum kering.

Raka semakin yakin bahwa patung batu itu hidup, dan kerlingan matanya memang melukai sanubari manusia, bahkan merenggut jiwa mereka.


Bayangan Tak Terhindarkan

Hari ketiga, Raka hampir tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Setiap kali ia menutup mata, ia melihat patung itu berkedip, seolah memanggilnya. Bisikan di telinganya semakin jelas: “Sanubarimu milikku.”

Ia mencoba menutup telinga, namun suara itu tetap ada di dalam kepalanya. Bahkan saat ia menatap laut yang tenang, bayangan patung itu selalu muncul di permukaan air, menatap balik dengan senyum dingin.


Teror di Tengah Malam

Malam terakhir menjadi yang paling mengerikan. Raka mendengar langkah berat mendekati tenda. Ketika ia mengintip keluar, patung batu itu sudah berdiri di depan pintu tenda, lebih dekat daripada sebelumnya. Matanya bersinar, dan setiap tatapannya membuat dada Raka semakin sakit.

Ia menjerit, membangunkan temannya yang tersisa. Namun ketika temannya melihat keluar, tidak ada apa-apa. Hanya tanah kosong dan suara angin. Raka tahu ia tidak gila—patung itu benar-benar hidup, hanya saja tidak semua orang bisa melihatnya.


Sanubari yang Terkoyak

Keesokan paginya, mereka bergegas meninggalkan Pulau Padar. Namun bagi Raka, semuanya sudah terlambat. Sejak saat itu, ia terus merasakan tatapan dingin yang membayanginya. Setiap malam, mimpinya selalu sama: patung batu itu datang, menyentuh dadanya, dan merobek sanubarinya sedikit demi sedikit.

Hingga akhirnya, beberapa bulan kemudian, Raka ditemukan tak bernyawa di kamarnya. Wajahnya pucat, matanya membelalak, dan dadanya penuh guratan merah menyerupai cakar batu.


Warisan Kengerian Pulau Padar

Kini, legenda patung batu di Pulau Padar terus diceritakan oleh para nelayan. Mereka percaya bahwa siapa pun yang menatap patung itu terlalu lama akan merasakan sanubarinya terkoyak. Pulau Padar tetap indah, namun di balik keindahan itu, kerlingan patung batu masih berdiri, menunggu mangsa berikutnya.

Food & Traveling : Menjelajahi Rasa di Festival Makanan Nusantara yang Meriah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post