Kelam Bendungan Tua Mengais Hidup di Candi Borobudur

Kelam Bendungan Tua Mengais Hidup di Candi Borobudur post thumbnail image

Awal Perjalanan ke Borobudur

Senja turun di Magelang. Kabut tipis merayap di sela pepohonan, mengelilingi Candi Borobudur yang berdiri megah. Seorang peneliti bernama Ratna datang bersama timnya untuk mendokumentasikan legenda kuno. Ia mendengar bisikan warga lokal tentang sebuah bendungan tua di dekat situs bersejarah itu. Orang-orang menyebutnya tempat terlarang, pusat dari kelam bendungan yang menelan banyak nyawa.

Meski diperingatkan, rasa penasaran mereka jauh lebih besar. Ratna memutuskan untuk menyelidikinya malam itu juga.


Bisikan dari Bendungan Tua

Jalan setapak menuju bendungan dipenuhi ilalang tinggi. Suara jangkrik terputus-putus, seolah menyadari kehadiran tamu asing. Air di bendungan tampak tenang di permukaan, namun dari dasar terdengar gemuruh samar, menyerupai dengung doa yang dipatahkan.

Ratna menyalakan alat perekam. Baru beberapa menit berjalan di tepian, mikrofon menangkap suara aneh. Bukan sekadar angin, melainkan erangan pelan seperti seseorang yang tenggelam. Ia memejamkan mata, dan kata itu kembali terdengar jelas: “kelam bendungan…”


Bayangan di Permukaan Air

Tim Ratna memasang tenda kecil untuk observasi. Namun sejak malam turun, bendungan seolah hidup. Permukaan air memantulkan cahaya bulan, memperlihatkan bayangan orang-orang yang seharusnya tak ada. Sosok-sosok itu berjalan perlahan, lalu berhenti dan menatap ke arah Ratna dengan mata kosong.

Salah seorang anggota tim mencoba melempar batu ke air. Seketika, riak membesar menjadi pusaran. Dari pusaran itu muncul tangan pucat yang meraih udara, menjerit tanpa suara. Ratna mundur ketakutan, namun tanah di belakangnya seperti menolak pijakan.


Jejak yang Terkunci di Bawah

Malam semakin dingin. Di balik kabut, terdengar suara-suara langkah yang tidak berasal dari mereka. Tim Ratna panik ketika salah satu rekannya menghilang begitu saja. Hanya jejak kaki basah yang tertinggal, menuju ke arah bendungan.

Ratna menelusuri jejak itu, hingga berhenti di tepian air. Di sana ia melihat wajah rekannya muncul di permukaan, namun tanpa mata dan mulut. Air menutupnya perlahan, meninggalkan lingkaran hitam di permukaan—sebuah noktah yang menjadi tanda korban baru dari kelam bendungan.


Pusaran di Tengah Malam

Ratna berlari kembali ke tenda, namun semua peralatan mereka telah basah kuyup. Rekaman yang tadi disimpan di laptop berubah menjadi suara-suara asing. Bukan lagi penelitian, melainkan ratapan orang-orang yang pernah mati di bendungan itu.

Pusaran semakin membesar, menelan perahu tua yang terikat di pinggir. Ratna melihat sosok hitam tinggi menjulang di tengah air. Tidak memiliki wajah, hanya tubuh besar dengan rongga di dada, berisi cahaya merah berputar. Sosok itu berbisik lirih, Kelam bendungan tak pernah kenyang…”


Rahasia yang Terkubur

Keesokan paginya, warga menemukan tenda Ratna berdiri kosong. Hanya buku catatan yang tertinggal. Di dalamnya terdapat tulisan terburu-buru:

“Air ini bukan sekadar bendungan. Ia adalah penjara jiwa, tempat cerita berakhir. Siapa pun yang mendekat, akan menjadi bagian dari kelam bendungan.”

Sejak saat itu, orang-orang menjauhi area tersebut. Namun pada malam tertentu, jika bulan purnama menggantung di atas Borobudur, terdengar jeritan samar dari arah bendungan. Suara itu memanggil, mengais-ngais sisa hidup siapa pun yang berani mendengar.


Akhir yang Tak Pernah Usai

Legenda itu kini hidup dalam bisikan warga. Mereka percaya, bendungan itu dibangun di atas aliran arwah para budak yang mati saat pembangunan candi. Roh-roh itu menuntut balas, dan bendungan menjadi pintu gelap mereka.

Ratna dan timnya tidak pernah kembali. Namun di lautan kabut sekitar Borobudur, sesekali tampak sosok wanita dengan rambut panjang berjalan tanpa arah. Banyak yang bersumpah, wajahnya adalah Ratna, kini menjadi bagian dari kelam bendungan.

Flora & Fauna : Hutan Mangrove dan Perannya dalam Cegah Abrasi Pantai

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post