Kain Putih Melayang di Tepi Sungai Musi Berkabut

Kain Putih Melayang di Tepi Sungai Musi Berkabut post thumbnail image

Kabut Datang Lebih Cepat dari Jadwal

Malam itu aku turun di tepian Sungai Musi untuk merekam suasana, sementara kain putih belum kupikirkan sebagai sesuatu yang nyata. Karena proyek dokumenter kecilku butuh suara sungai dan bunyi ketek, aku menyiapkan perekam, baterai cadangan, serta senter yang cahayanya pas-pasan. Sementara itu, kabut turun pelan dari arah air, lalu menutup lampu-lampu jauh seperti kain tipis yang diusap ke lensa.

Di sisi dermaga, beberapa orang masih duduk, meskipun obrolan mereka terdengar dipelankan. Selain itu, pedagang kopi yang biasanya cerewet justru tampak irit kata, seakan mulutnya ikut menyimpan dingin. Namun demikian, aku tetap berjalan mendekat, sebab rasa penasaran sering menang atas rasa aman, apalagi ketika pekerjaan menuntut “bukti”.

Kemudian seorang bapak tua yang duduk dekat tali tambat memandangku lama. “Nak, jangan lama-lama dekat air kalau kabut begini,” katanya. Aku tersenyum sopan, tetapi tanganku tetap memegang perekam seperti pegangan terakhir. Lantas ia menambahkan, “Kalau kau lihat kain putih, jangan kau panggil.”


Perahu Ketek dan Suara yang Berubah Jarak

Pertama-tama aku menguji perekam, lalu menepuk mikrofon pelan untuk memastikan indikator bergerak. Setelah itu aku menunggu ketek lewat, karena bunyi mesinnya memberi tekstur khas malam Musi. Selanjutnya, ketika satu ketek melintas, aku menekan tombol rekam dan membiarkan bunyi sungai menelan sisanya.

Anehnya, suara mesin ketek terdengar lebih dekat daripada seharusnya. Di sisi lain, air tampak lebih tenang, padahal arus Musi biasanya “bernapas” dan bergeser. Akibatnya, telingaku jadi terlalu peka, sehingga bunyi kecil pun terasa besar.

Lalu ada suara lain, jauh lebih halus daripada mesin.

“Di… sini….”

Refleks membuatku menoleh, sementara kabut menebal seperti dinding yang tumbuh cepat. Namun, di depan hanya ada garis air hitam, lampu redup, dan pancang dermaga yang basah. Karena tidak ingin terlihat penakut, aku menggeser langkah, berpura-pura mengecek setting perekam.

Kemudian suara itu muncul lagi—bukan dari kiri, bukan dari kanan—melainkan seperti dari tengah kabut.

“Di… sini….”

Pada saat itu aku teringat peringatan bapak tadi. Karena itu, mulutku terkunci, meskipun napas terasa makin pendek.


Titik Putih yang Tidak Memantul Seperti Cahaya

Dari kejauhan muncul sesuatu yang putih. Pada awalnya, aku mengira itu plastik sampah yang tersangkut, sebab sungai sering membawa apa pun yang lupa dijaga. Namun begitu aku menatap lebih lama, bentuknya seperti kain panjang—lebih lebar dari kresek—dan bergerak tanpa arah angin.

Selain itu, kain itu tidak mengapung seperti benda biasa. Sebaliknya, ia melayang beberapa jengkal di atas permukaan air, lalu bergerak perlahan mendekati dermaga, seakan mengikuti pijakan yang tidak terlihat. Akibatnya, kulitku meremang, karena mata tahu itu tidak wajar, sementara kepala berusaha mencari alasan wajar.

Lantas lampu dermaga berkedip sekali. Sesudah itu, kabut terasa lebih dingin, dan bunyi sungai mendadak seperti dipelankan. Bahkan suara ketek yang barusan lewat terdengar seperti rekaman lama, bukan suara yang hidup.

Di tengah perubahan itu, kain tersebut berhenti. Sekilas ia seperti menggantung, lalu ujungnya bergerak naik turun, menyerupai dada yang sedang bernapas. Karena terlalu terpaku, aku lupa berkedip.

Kemudian bisikan yang sama kembali, kali ini lebih dekat.

“Panggil….”

Aku menggenggam perekam kuat-kuat. Walaupun ingin kabur, kakiku terasa berat, seolah papan dermaga punya tangan licin yang menahan.


Bapak Tua dan Aturan yang Kedengarannya Sepele

Tiba-tiba langkah pelan terdengar dari belakang. Bapak tua tadi mendekat, lalu berdiri di sampingku tanpa menyentuh. “Jangan jawab,” katanya cepat. Aku menelan ludah, lalu mengangguk kaku.

Selanjutnya, bapak itu menatap ke arah air, bukan ke arahku. “Kau datang bawa alat rekam, ya?” tanyanya. Karena bingung, aku mengangkat perekam sedikit, seperti memperlihatkan barang bukti. Lantas ia menghela napas, “Kalau begitu, suaramu bisa jadi jembatan.”

Aku tidak paham. Namun demikian, ketika kain itu bergerak sedikit, bapak itu langsung mengangkat tangan, seolah menahan sesuatu yang tidak terlihat. “Di sini banyak yang hilang,” ucapnya. “Sungai itu menyimpan. Kabut itu menutup. Kain putih itu memancing.”

Aku menatapnya, berharap ada penjelasan yang masuk akal. Akan tetapi, bapak itu hanya berbisik, “Kalau kau dipanggil dengan suara orang dekatmu, jangan tertipu.”

Kalimat itu membuat tengkuk dingin dua kali lipat, sebab aku baru sadar: bisikan tadi seperti meniru nada adikku.


Rekaman yang Menangkap Nama

Karena penasaran, aku menurunkan perekam dan memeriksa gelombang audio. Anehnya, indikator bergerak meski tidak ada orang bicara keras. Di sisi lain, telingaku hanya mendengar kabut, tetapi layar perekam seolah merekam bisikan yang lebih “padat” daripada bunyi angin.

Lantas aku memutar ulang beberapa detik. Suara mesin sungai terdengar, lalu tiba-tiba muncul satu kata jelas: namaku. Bahkan, cara pengucapannya mirip suara ibuku.

Akibatnya, tangan kiriku gemetar. Namun aku menahan diri, sebab bapak tua tadi sudah melarang menjawab. Sementara itu, kain putih di atas air bergeser pelan, seperti ingin sejajar dengan posisi kami.

Kemudian bapak itu meraih perekamku, bukan untuk merampas, melainkan untuk menutup tombol play. “Dengar itu bisa mengikat,” katanya. Aku ingin bertanya, tetapi suaraku tertahan di tenggorokan.

Selanjutnya, ia menunjuk ujung dermaga yang lebih gelap. “Kalau kau mau pulang selamat, jangan jalan sendirian,” ucapnya. “Kau ikut saya sampai warung sana.”

Aku mengangguk cepat, karena naluri bertahan lebih kuat daripada rasa malu.


Jejak Basah dan Bau Kain yang Baru Dicuci

Kami berjalan menjauh. Anehnya, papan dermaga yang tadi terasa lengket mendadak ringan. Selain itu, suara alun air kembali normal, meskipun kabut masih menempel di bahu malam.

Namun, tepat saat aku merasa aman, ada bau aneh menyeruak: bau kain yang baru dicuci, wangi sabun, tetapi bercampur lumpur. Akibatnya, perutku mual, karena bau itu terlalu “rumah” untuk muncul di tengah sungai tua.

Lantas aku menoleh sedikit—hanya sedikit—dan kulihat sesuatu membuat darahku turun: jejak basah di papan dermaga, rapi seperti tapak kaki, menuju arah kami. Jejak itu bukan jejak sepatu; bentuk jari-jari kakinya jelas, seolah yang berjalan tidak memakai alas.

Bapak tua menghentikan langkah. “Jangan lihat lama-lama,” katanya. Walaupun begitu, aku terlanjur melihat: di ujung jejak, ada tetes air yang tidak jatuh, melainkan menggantung sebentar di udara, lalu naik lagi ke kabut seperti ditarik tali.

Di saat yang sama, bisikan muncul dekat telingaku.

“Kembali….”

Aku menahan diri untuk tidak menoleh penuh. Karena itu, aku menatap lurus ke depan, seperti orang yang pura-pura tidak tahu ada sesuatu mengejar.


Warung Kopi dan Doa yang Dipelankan

Warung kopi kecil tampak seperti titik terang. Sementara lampunya redup, kehadirannya saja sudah membuat dadaku sedikit longgar. Kemudian bapak tua mengajakku duduk, lalu menyuruhku minum air hangat.

“Jangan tanya macam-macam dulu,” katanya. “Minum.”

Aku menuruti. Air hangat menurunkan gemetar, meskipun rasa takut masih menempel di tulang. Setelah itu, bapak tua menatap perekamku lagi. “Kau rekam lebih dari suara,” ujarnya. “Kau rekam panggilan.”

Aku menelan ludah. “Apa sebenarnya kain putih itu, Pak?”

Ia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia memandang sungai yang tertutup kabut, seolah membaca sesuatu dari gelap. Lantas ia berkata, “Orang di sini percaya, ada kain kafan yang tidak mau kering. Katanya, itu milik seseorang yang janji pulang, tapi tidak pernah pulang. Sungai menahan tubuhnya, kabut menahan namanya, lalu kainnya mencari mulut baru untuk dipakai memanggil.”

Kata-kata itu terdengar seperti legenda. Namun demikian, jejak basah tadi terlalu nyata untuk sekadar cerita.


Nama yang Hampir Keluar dari Mulut

Warung itu sepi. Selain itu, pemilik warung hanya menatap dari jauh, seolah tidak ingin ikut menjadi saksi. Di tengah diam, aku merasakan sesuatu yang lebih menakutkan daripada suara: dorongan dari dalam kepala.

Nama seseorang muncul di pikiranku. Bukan namaku. Nama orang yang pernah menyakitiku, yang sudah lama kugenggam dalam diam.

Akibatnya, aku sadar pola terornya: kain putih tidak hanya memancing jawaban; ia memancing dendam. Karena dendam membuat mulut gampang terpeleset, sementara lidah yang terpeleset bisa menjadi jembatan.

Lantas bisikan itu datang lagi, sangat halus, seperti pikiran sendiri.

“Sebut… saja….”

Aku menggigit ujung lidah. Kemudian aku menelan napas panjang dan menolak di dalam hati. Walaupun bergetar, aku memilih diam, karena diam terasa seperti satu-satunya pagar.

Bapak tua mengangguk pelan, seolah ia melihat pergulatan itu tanpa perlu aku bicara. “Bagus,” katanya singkat.


Kembali ke Dermaga: Membuka, Bukan Menjawab

Bapak tua berdiri. “Kita harus tutup jalannya,” ucapnya. Karena mengira itu ide gila, aku hampir membantah. Namun, rasa takut membuatku mengikuti, sebab ia satu-satunya orang yang tampak paham.

Kami berjalan kembali ke dermaga, tetapi tidak ke titik pertama. Sebaliknya, ia memilih jalur sempit menuju pohon tua di tepi air, tempat orang menambatkan perahu kecil. Di sana, ia mengeluarkan segenggam garam dari saku kain, lalu menaburkannya pelan.

“Garam ini buat batas,” katanya.

Aku ingin bertanya, tetapi menahan diri. Sementara itu, kabut bergerak, lalu membuka celah kecil. Di celah itulah kain putih terlihat lagi, lebih dekat, melayang seperti menunggu.

Bapak tua menatap kain itu tanpa berkedip. Kemudian ia meletakkan sepotong kain merah kecil—seperti pita—pada batang pohon, lalu mengikatnya satu simpul. “Ini penanda,” ucapnya. “Biar yang di air tahu, yang di darat tidak menerima.”

Akibatnya, bulu kudukku berdiri, sebab kalimat itu terdengar seperti bicara pada makhluk yang benar-benar ada.


Tetes Air yang Menjadi Mata

Kabut tiba-tiba menebal lagi. Namun, di bawahnya muncul suara percikan kecil, seperti air menetes dari kain. Lantas aku melihat sesuatu yang membuat jantung menghantam tulang rusuk: tetes air menggantung di udara, membesar, lalu memantulkan cahaya lampu seperti bola mata.

Mata itu menatapku.

Atau lebih tepatnya, pantulan itu membuatku merasa sedang dilihat. Selain itu, suara halus masuk ke kepala, sekarang memakai suara ayahku yang sudah lama meninggal.

“Pulang… Nak…”

Akibatnya, dadaku sesak. Namun demikian, aku tahu ini jebakan, sebab bapak tua sudah bilang: suara orang terdekat sering dipakai sebagai umpan.

Aku menutup mulut dengan tangan. Kemudian aku menggeleng pelan, bukan kepada ayah, melainkan kepada peniruannya. Walaupun air mata keluar tanpa izin, aku tetap tidak menjawab.

Bapak tua mengangkat garam lagi, lalu menabur ke arah air. “Kau tidak punya hak atas mulut anak ini,” katanya tegas.

Sesudah itu, kain putih bergetar pelan, seolah marah, lalu mundur sedikit ke kabut.


Rekaman Terakhir dan Bunyi yang Berubah Menjadi Kosong

Aku membuka perekam sekali lagi. Karena ingin memastikan, aku menekan tombol rekam, lalu membiarkan mikrofon menghadap sungai. Sementara itu, bapak tua menyuruhku berdiri di belakangnya, seolah tubuhnya bisa jadi dinding.

Beberapa detik berlalu. Lalu indikator audio bergerak liar, seakan ada teriakan besar, padahal telingaku hanya mendengar sunyi. Akibatnya, dingin merambat ke jari.

Kemudian, tanpa ada angin kencang, kain putih melayang naik, seperti ditarik ke langit. Sesudah itu, kain tersebut jatuh ke permukaan air, tetapi tidak basah; ia justru menghilang seperti masuk ke cermin.

Lantas kabut menipis setitik. Suara Musi kembali normal, dan lampu dermaga berhenti berkedip. Bahkan, bunyi ketek jauh terdengar lagi, memberi tanda kehidupan kembali berjalan.

Bapak tua menghela napas panjang. “Sudah,” katanya.

Aku menatap perekam. Indikator stabil, tidak lagi liar. Karena itu, aku memutar ulang beberapa detik. Yang terdengar hanya air, angin, dan satu bunyi kecil seperti kain berkibar jauh.

Namun nama itu hilang. Panggilan itu lenyap.


Noda Sabun di Tangan dan Janji yang Tidak Kubuang

Kami berjalan pulang. Walaupun kabut masih ada, rasanya tidak lagi menekan. Selain itu, bau kain baru dicuci perlahan menghilang, meninggalkan bau sungai yang lebih jujur.

Di depan gang, bapak tua berhenti. “Mulai malam ini,” katanya, “kalau kau dengar panggilan dari air, jangan kamu jawab. Kalau kau ingin menolong, menolong itu bukan dengan mulut, tapi dengan batas.”

Aku mengangguk. Lantas aku melihat telapak tanganku sendiri: ada noda tipis seperti busa sabun, padahal aku tidak memegang sabun apa pun. Aku mengucek, noda itu tidak segera hilang.

Akibatnya, aku sadar ada jejak yang dibawa pulang, walau “benangnya” sudah putus. Namun demikian, jejak itu juga menjadi pengingat: perkara malam Sungai Musi bukan soal berani, melainkan soal tidak memberi jalan.

Ketika pintu rumah kututup, suara sungai masih terdengar di telinga. Sementara itu, satu kalimat bapak tua berulang di kepala: kain putih itu tidak mengejar tubuh; ia mengejar jawaban. Karena itulah, aku memilih diam—bukan karena kalah, melainkan karena tidak mau menjadi jembatan bagi kabut yang selalu ingin punya suara.

Food & Traveling : Menjelajah Pantai Tersembunyi Indah di Selatan Indonesia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post