Rumah yang Tak Pernah Sepi
Di pusat Palu Tengah, berdiri sebuah rumah dinas tua peninggalan masa 1970-an. Catnya yang mengelupas, jendela kayu berdebu, dan taman yang ditumbuhi ilalang menjadikannya pemandangan yang asing di antara bangunan modern di sekitarnya. Warga sekitar menyebut tempat itu sebagai “rumah jerit sunyi”—karena tiap malam, suara tangisan samar terdengar dari dalam, seperti seseorang memohon tolong dalam kegelapan.
Tak ada yang berani tinggal di sana lagi sejak tragedi dua puluh tahun silam, ketika seorang pejabat muda ditemukan tewas tergantung di ruang tamu rumah itu. Polisi kala itu menyebutnya bunuh diri, tapi warga yakin ada yang lebih gelap dari sekadar keputusasaan manusia.
Kini, rumah itu akan direnovasi menjadi kantor pemerintahan baru. Namun sebelum pekerjaan dimulai, dinas setempat mengutus seorang arsitek muda bernama Raka untuk melakukan survei. Ia tak tahu, langkahnya malam itu akan membangunkan kembali jerit sunyi yang telah lama terkubur di dinding rumah itu.
Awal Survei: Aura yang Membeku
Raka tiba di Palu menjelang senja. Udara lembap, aroma tanah dan laut berpadu kuat. Saat ia pertama kali melihat rumah dinas itu, bulu kuduknya langsung berdiri. Pintu utamanya tergantung miring, seperti baru saja diterjang angin besar.
Ia menyalakan senter dan melangkah masuk. Debu tebal menutupi lantai, dan setiap langkahnya memunculkan gema panjang. Di ruang tamu, ia menemukan lukisan keluarga lama tergantung miring di dinding—gambar seorang pria berpakaian dinas, wanita bergaun putih, dan anak kecil di antara mereka. Tapi wajah sang ibu nyaris terhapus, seperti tergores benda tajam.
“Perasaan, catnya baru luntur di bagian itu saja…” gumam Raka.
Saat ia menatap lebih lama, terdengar suara kursi bergeser dari ruangan belakang. Ia berpikir itu mungkin hewan liar. Namun ketika ia mendekat, ruangan itu kosong, hanya sebuah kursi kayu tua di tengah ruangan, dan di lantai, tampak bekas tali melingkar berdebu.
Di bawah cahaya senter, Raka melihat bekas goresan di langit-langit, seolah ada sesuatu yang pernah digantung di sana. Ia menelan ludah. Udara di sekitarnya mendadak dingin.
Dan dari arah koridor, terdengar jerit sunyi—lirih, memanjang, dan nyaris seperti napas terakhir manusia.
Catatan Lama: Tragedi di Tahun 2003
Keesokan harinya, Raka bertemu dengan Pak Darman, penjaga arsip lama dinas. Ia sudah sepuh, rambutnya putih dan matanya sayu. Ketika mendengar Raka akan merenovasi rumah itu, wajahnya langsung pucat.
“Nak, kalau kau ingin bekerja di sana, sebaiknya jangan sendirian. Rumah itu bukan kosong… ia masih diisi sesuatu yang tidak pernah pergi.”
Raka menatapnya dengan bingung.
Pak Darman kemudian mengeluarkan map coklat berdebu, berisi laporan lama dari tahun 2003.
Tertulis nama: Arif Nugraha – Kepala Dinas Perhubungan Palu Tengah.
Ia ditemukan tergantung di ruang belakang rumah dinas, sementara istri dan anaknya menghilang tanpa jejak.
“Orang-orang bilang, setiap malam sebelum dia mati, Pak Arif sering berteriak sendiri dari ruang kerjanya. Ia mengaku mendengar jerit perempuan dan langkah kaki anak kecil dari arah dapur,” ujar Pak Darman lirih.
Yang lebih aneh, setelah kematiannya, banyak pegawai yang melapor mendengar suara sama—jeritan halus, seperti tangisan teredam di antara tembok. Karena itulah rumah itu dikosongkan hingga kini.
Malam Pertama: Bisikan dari Koridor
Malam itu, Raka memutuskan menginap di rumah dinas untuk menyelesaikan sketsa renovasi. Ia membawa sleeping bag, lampu portabel, dan kopi panas untuk berjaga.
Pukul sebelas malam, angin tiba-tiba berhenti. Sunyi begitu pekat hingga suara detak jam terdengar seperti langkah.
Saat sedang menggambar denah, lampu portabelnya berkedip dua kali, lalu mati total.
Raka menyalakan senter, tapi baterainya juga mulai melemah.
Ia bangkit, berjalan ke arah dapur untuk mengecek kabel listrik—namun saat ia melewati koridor sempit, suara langkah kecil terdengar mengikutinya.
Tap… tap… tap…
Langkah itu berhenti tiap kali ia berhenti.
Raka menoleh cepat, namun tak ada siapa-siapa. Saat menyorotkan senter ke lantai, ia melihat bekas jejak kaki kecil di debu. Jejak itu menuju ke ruang belakang—ke tempat di mana tali gantung ditemukan.
“…Ada orang?” panggilnya dengan suara gemetar.
Tak ada jawaban, hanya suara ketukan pelan dari balik dinding.
Tiga kali. Pelan. Teratur.
Lalu disusul suara anak kecil berbisik dari arah yang sama:
“Ayah… jangan tinggalkan Ibu di sini…”
Raka tersentak dan mundur. Jantungnya berdegup kencang. Ia berlari ke ruang tamu dan menutup pintu, tapi dari arah belakang terdengar jerit sunyi yang panjang, menembus malam seperti suara dari dasar bumi.
Kebenaran yang Tersembunyi: Surat di Balik Lukisan
Keesokan harinya, Raka bertekad mencari tahu kebenarannya. Ia menelusuri setiap sudut rumah dan menemukan bahwa lukisan keluarga di ruang tamu itu ternyata bisa dilepas dari dinding.
Di baliknya, tersembunyi sebuah amplop lusuh berisi surat tulisan tangan.
Tulisan itu berasal dari istri almarhum, Dewi Nugraha.
Isinya:
“Mereka datang malam ini. Arif bilang kami harus diam, tapi aku tak bisa mendengar lagi. Suara itu memanggil dari bawah tanah… katanya anak kami tertinggal di sana. Jika seseorang membaca surat ini, tolong… jangan biarkan rumah ini dibuka kembali. Aku dengar mereka masih berjalan di malam hari…”
Raka menggenggam surat itu erat. Ada satu kalimat terakhir di bagian bawah, ditulis tergesa:
“Jerit sunyi bukan dari kami. Itu dari yang dikubur bersama.”
Kata-kata itu membuat darahnya membeku.
Ia segera menggali di sekitar ruang belakang, tepat di bawah lantai papan yang tampak lebih baru dari bagian lain. Setelah membuka sebagian papan, ia menemukan lubang sempit menyerupai lorong tua, dengan udara dingin dan bau tanah busuk.
Dan di sana, tergenggam di lumpur, sebuah mainan boneka rusak dan tulang kecil manusia.
Jerit Sunyi: Kembalinya Arwah Lama
Malam ketiga, Raka memutuskan untuk merekam aktivitas di rumah itu menggunakan kamera. Ia ingin membuktikan fenomena ini secara ilmiah. Namun begitu jam menunjuk pukul dua belas, kamera yang ia pasang mulai bergetar sendiri.
Dari layar kecilnya, terlihat bayangan perempuan bergaun putih berdiri di ruang tamu, wajahnya kabur, rambutnya menutupi sebagian wajah. Di belakangnya, anak kecil menggenggam boneka yang sama seperti yang Raka temukan di tanah.
Jerit sunyi kembali terdengar, kali ini lebih jelas, seperti suara dua orang menangis bersamaan.
“Kau… menggali kubur kami…”
Raka menoleh cepat. Sosok itu kini sudah berdiri di depannya. Udara membeku, napasnya membentuk kabut. Ia mencoba berlari, tapi tubuhnya terasa berat. Lantai di bawahnya retak, menganga, dan mengeluarkan suara menyerupai napas panjang.
Ia jatuh ke dalam lorong gelap, dan di dinding lorong, terukir simbol-simbol aneh bercampur noda darah tua. Suara jerit itu semakin dekat—kadang terdengar seperti rintihan, kadang seperti tawa.
Raka menjerit, namun suaranya tak terdengar. Di tengah kegelapan, tangan pucat mencengkeram lengannya, dingin seperti es.
Akhir yang Membeku: Rumah Itu Kembali Sunyi
Tiga hari kemudian, tim proyek datang ke lokasi. Mereka menemukan mobil Raka terparkir di depan rumah, namun ia sendiri menghilang tanpa jejak.
Kameranya ditemukan di ruang tamu, dengan rekaman terakhir menunjukkan lantai yang terbuka dan suara jeritan samar sebelum semuanya gelap.
Polisi menyatakan Raka hilang karena kecelakaan di lokasi yang rapuh. Namun warga setempat tahu—jerit sunyi telah mengambil korban baru.
Kini, setiap malam Jumat, beberapa warga mengaku mendengar suara langkah dan tangisan dari rumah itu lagi.
Dan jika seseorang lewat terlalu dekat, mereka kadang melihat bayangan pria muda dengan helm arsitek berdiri di jendela, menatap keluar dengan mata kosong, seolah ingin memperingatkan:
“Jangan dengarkan jerit sunyi itu… karena begitu kau mendengarnya, ia takkan berhenti memanggilmu.”
Inspirasi & Motivasi : Mahasiswa Wirausaha yang Jadi Inspirasi Satu Kampus