Tikungan Pinus dan Tiga Penumpang Malam
Kabut menggulung dari lereng Merapi saat kami—Aku, Tyo, dan Intan—mengejar waktu. Sejak warung terakhir, warga menasihati satu hal: jauhi sisi kanan jalan, sebab jebakan pocong gemar memancing pandang. Aku mengangguk, namun ambisi memotret kubah pijar di fajar mendorong gasku tetap stabil. Sementara itu, pinus menjulang seperti tiang altar; angin menahan napasnya; jangkrik berhenti di tengah nyanyian.
“Reza, jangan pelankan,” kata Intan dari jok belakang. Tyo, yang menunggang motor kedua, membalas dengan klakson pendek. Kami menukik ke tikungan pertama. Seketika, sesuatu menampar dedaunan di kanan—ritmis, berat, dan terus berulang: duk… duk… duk…. Bukannya tertiup, kabut justru merapat. Aku menatap garis putih aspal, menolak godaan menoleh.
Warung Terakhir dan Aturan yang Mengikat
Tak lama sebelumnya, penjaga warung menatap kami dengan mata cekung. “Bungkus cahaya biru kalian,” katanya, menunjuk ponsel. “Jangan menatap ke kanan, apa pun yang memanggil.” Tyo tertawa tipis untuk menepis tegang. Namun, bapak itu menambahkan, “Jebakan menahan pandang dulu, langkah kemudian.”
Kini, nasihat itu menguntit di bawah helm. Peta offline membeku. Sinyal mati. Meski begitu, kami terus bergerak. Di spionku, kabut membelah bentuk kain putih yang melambai pelan di antara dahan. Tanpa angin, kain itu berputar seperti lengan yang mengikuti. Intan meremas pinggangku. Aku menambah gas, memilih fokus ke marka jalan.
Batu Basah, Tawa Retak
Di tikungan panjang menuju jembatan kayu, sebuah batu basah menutup separuh aspal. Rem kucekam; ban menggesek dedaunan. Di hadapan batu, tawa anak kecil pecah—lirih, patah, dan salah nada: kheh… kheh… kheh…. Sumbernya samar, seolah muncul dari dalam batu. Tyo menepi di belakang kami. “Ini nggak ada siang tadi,” ucapnya, pendek.
Aku memberi kode putar balik. Namun peta tetap berputar di satu titik. Jalan di belakang seperti memanjang tanpa ujung. Saat itu, sesuatu melompat ke lampu motor: tubuh terbungkus kain kotor, kepala terikat, wajah hanya rongga hitam. Ia mengangguk sekali, meloncat lagi, mendekat, dan berhenti tepat di pusat sorot. Kainnya berbau tanah busuk bercampur melati. Detik berikutnya, ia padam seperti lampu dicabut.
“Gas!” Tyo berteriak. Kami menggeser motor menepi batu. Deretan kain putih mendadak muncul di sela pinus sisi kanan—berdiri diam, kepala miring mengikuti gerak kami. Aku menatap lurus, rahang mengeras. Intan bergumam doa pendek, kata-katanya berdesis melalui gigi.
Jembatan yang Memanjang Tanpa Akhir
Jembatan kayu akhirnya tampak, namun terlalu panjang untuk jurang sekecil itu. Air di bawahnya hitam dan tenang, memantulkan kami dengan wajah yang tidak persis sama. Di tengah bentang, mesin motorku mati. Lampu padam. Gelap menelan suara. Hanya duk… duk… duk… yang bertambah dekat dari dua arah.
“Matikan semua cahaya,” desis Tyo. Intan memadamkan ponsel. Aku memutar kunci; mesin batuk; nyala; padam lagi. Ketika kucoba kedua kali, motor hidup cukup lama. Kami merayap sampai ujung. Sesaat sebelum ban mendarat, suara dari kanan memanggil pelan—tipis, akrab: “Mas…”
Aku menggigit bibir, menolak menoleh. Panggilan itu menurun jadi serak, lalu menggembur menjadi bunyi kain diseret. Begitu kami menjejak tanah, jembatan kembali “masuk akal”—pendek, ringkih, dan tak ramah.
Lapangan Sunyi dan Kamera yang Menghitung Mundur
Beberapa ratus meter kemudian, sebuah lapangan kecil menyambut kami. Di tengahnya berdiri meja batu dengan sesajen kering—bunga layu, dupa beku. Di atasnya, kamera diletakkan menghadap jalan. Layar berkedip: 00:59… 00:58… seakan ada hitung-mundur menuju sesuatu yang tak bernama.
“Jangan berhenti,” bisik Intan. Namun, kaki kiriku justru menumpu tanah. Tarikan halus—seperti benang—mengait dari kamera ke dadaku. Tyo menepuk helmku. “Reza, jangan lihat kanan.” Ia paham gelagatku.
Sayangnya, dorongan memverifikasi sering menang. Aku menoleh.
Di antara pinus sisi kanan, puluhan pocong berjejer. Masing-masing memegang benda: helm retak, topi, ponsel, hingga tas kamera. Di ujung barisan, satu sosok lebih tinggi berdiri paling depan. Kainnya gelap, simpul kepalanya rumit, dan telapaknya menggenggam gelang merah—identik dengan milik Lila, adikku yang lenyap di jalur Selo dua tahun lalu. Dunia berayun. Lutut mengosong. Aku melangkah setapak tanpa sadar.
Intan memeluk pinggangku, menyeretku kembali ke pelana. Tyo menghentak gas. Roda belakang memuntahkan kerikil. Dari belakang, lompatan mengikuti, rapat, nyaris seirama detak jantungku. Kami menembus tikungan tepat saat truk pasir muncul dari kabut. Klaksonnya mengiris malam. Aku membanting setang ke bahu jalan. Truk lewat, dan di atapnya, sesuatu bergulir—kain putih tanpa kaki, merunduk pada arah yang kami tuju.
Pos Warga dan Pagar Doa
Tak jauh setelah itu, lampu kuning redup bersinar dari pos panggung warga. Pintu terbuka. Tiga lelaki tua duduk membelakangi kami, menghadap dinding penuh jelaga dupa. “Masuk,” kata salah satunya tanpa menoleh. “Jalan kalian sudah dibuka, tapi belum ditutup.”
Kami duduk. Lelaki itu merendam sobekan kain putih ke air bunga, lalu mengikatnya pada gagang kunci motor. “Jangan lepas sampai pulang. Bila sesuatu memanggil dari kanan, diam saja.”
“Kenapa mereka memanggil?” tanya Intan, suara menurun setengah oktaf.
“Karena kalian bawa cahaya,” jawabnya tenang. “Dulu obor, sekarang layar. Jebakan pocong adalah pola. Ia mengulang tikungan, menyusun jembatan, memperpanjang kabut, sampai orang lupa arah pulang.”
Aku memegang kain di kunci. “Adik saya hilang di sini. Mereka memegang gelangnya.”
“Kalau ia sudah menjadi penanda,” ucap lelaki itu pelan, “doa lebih tepat daripada pencarian. Para penanda berdiri untuk mengantar, bukan memanggil. Kadang kalian mendengar tawa agar tidak takut. Tawa itu bukan milik anak kecil; itu pinjaman suara.”
Kami mengangguk. Dupa habis. Angin menepi. Pintu terbuka sendiri, seolah pos itu menghembuskan kami kembali ke jalan.
Pagar Halimun dan Ujian Final
Kain putih kecil bergetar di kunci—seperti jarum kompas yang menemukan utara. Kami melaju lagi. Kali ini, kabut bergerak mundur. Batu besar lenyap; jembatan menyusut ke proporsi wajar. Meski demikian, godaan tak berhenti. Di tikungan yang sama, panggilan kembali datang—lebih lembut, lebih privat. “Mas, lihat aku…”
Aku menahan napas tiga hitungan. Alih-alih menoleh, aku menyebut nama Lila dalam hati, lalu membisikkan: “Antarkan, jangan panggil.” Panggilan itu retak, kemudian larut ke dalam bunyi duk… duk… yang kian menjauh.
Gardu Pandang yang Tidak Membutuhkan Bukti
Plang kecil ke gardu pandang muncul di kiri. Kami naik sebentar. Udara dingin murni menggigit, namun tidak berbahaya. Puncak Merapi berpendar redup; pijar menyelinap dan padam. Kami duduk tanpa dialog panjang. Saat garis perak menggriani horizon, burung kembali bersuara. Kabut menipis. Jalan turun terlihat masuk akal.
Bar sinyal ponsel bangkit dari mati suri. Notifikasi muncul. Satu pesan singkat mengisi layar dari kontak yang sudah lama tak aktif: Lila. Hanya satu kata: Pulang. Pesan itu hilang sesaat kemudian, seperti malu ketahuan. Aku tidak mengejar penjelasan. Intan menggenggam tanganku. “Kita sudah cukup,” katanya. Aku setuju.
Warung Yang Tidak Pernah Menutup Mata
Dalam perjalanan turun, warung terakhir sudah buka. Bapak bermata cekung menyodorkan kopi tanpa menunggu pesanan. “Kalian menutup jalan sendiri,” ujarnya, melirik kain kecil di kunci. “Itu penanda yang baik.”
Aku bertanya tentang gelang merah. “Beberapa nama menempel di jalan ini,” jawabnya. “Sebagian kembali lewat angin, sebagian pulang melalui mimpi. Kalau suatu malam kau mendengar tawa yang sangat kau kenal, ingatkan: tugasnya mengantar. Memanggil hanya membuat garis kanan semakin ramai.”
Kami menghabiskan kopi pelan-pelan. Matahari menorehkan emas di tepi gelas. Di luar, pinus berdesir normal. Namun jika seseorang menajamkan pancaindra, ia akan menemukan bekas pijakan kecil-kecil di tanah—ritmis, konstan—seperti kaligrafi sunyi yang ditulis oleh kaki yang diikat.
Jalan yang Diubah oleh Nama
Beberapa pekan kemudian, warga memasang papan kayu di tikungan sebelum jembatan: Jalan Jebakan Pocong. Hurufnya miring, catnya mudah larut hujan. Orang tertawa waktu baca siang-siang; orang berdoa ketika melewatinya di malam. Sesekali, sebatang rokok menyala ditinggalkan di batu pinggir—persembahan bagi kawan lama yang sudah tak punya mulut untuk mengisap.
Aku kembali siang hari. Di bawah pinus, gelang merah tergeletak rapi, seakan seseorang sengaja menaruhnya. Aku membawanya pulang, menyimpannya di kotak kayu bersama foto lama. Malamnya, Lila mampir di mimpi—berdiri di sisi kiri, bukan kanan. Ia mengacungkan jempol, tertawa mata sipit. Ia tidak memanggil; ia menunjuk arah pulang.
Sejak itu, ketika harus menembus Merapi selepas senja, aku memilih disiplin: ponsel dibungkus, lampu seperlunya, mata lurus, tangan tenang. Bila duk… duk… duk… terdengar, aku menghitung sampai tiga, lalu bernafas. Bila tawa lirih muncul, aku membalas dengan diam. Sementara itu, kain kecil di kunci mengingatkan: jebakan bekerja lewat keinginan menoleh. Tanpa keinginan itu, pola kehilangan giginya.
Kesaksian yang Mengikat Malam
Bulan berikutnya, berita lokal menulis tentang pendaki yang mengunggah vlog malam di rute sama. Di menit ketujuh, sesosok putih melompat di belakang motor. Dua hari setelah video itu viral, ia hilang di jalur Selo. Tim menemukan helmnya di dekat jembatan; kameranya merekam kabut yang bergerak melawan angin. Warga mengangguk pelan. Bukan sensasi—hanya malam yang menagih hutang.
Tak berselang lama, seorang sopir truk pasir bersaksi: setiap Jumat Kliwon, lampu depannya meredup mendadak di tikungan batu, lalu pulih setelah melewati pos. Ia memasang cermin kecil ekstra di dashboard, bukan untuk melihat kanan, tetapi untuk memastikan pandangannya tetap lurus. “Kalau kabut menyaring suara,” katanya, “aku menyaring rasa penasaran.”
Kini, orang menyebut rute itu dengan nama barunya tanpa bercanda. Nama memberi pagar pada hal yang tak terlihat. Dan pagar, pada akhirnya, menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada keberanian.
Merapi: Antara Hidup dan Hilang
Merapi mengajar dengan cara kuno: tanpa kuliah, tanpa papan tulis. Malam menjadi ruang kelas; jalan bertindak sebagai guru; kabut menulis kurikulum; dan jebakan pocong menjadi evaluasi yang tak perlu nilai. Kau lulus ketika berhasil tidak menoleh. Kau gagal saat rasa ingin tahu mengambil alih kemudi.
Aku menutup cerita ini sambil memegang gelang merah. Lila mungkin berdiri di sisi kiri jalan setiap kali aku melintas, mengangkat tangan, memberi kode aman. Bila suatu saat ia tertawa, aku paham itu cara alam mengecilkan ketakutan, bukan undangan untuk berpaling. Dengan begitu, garis kanan tetap sunyi, dan jalan menuju Merapi kembali menjadi garis pulang, bukan simpul yang menjerat.
Inspirasi & Motivasi : Aktivis Sosial yang Membangun Perpustakaan Gratis