Gending Sunyi Mengiringi Arwah Malam Di Candi Plaosan Tua

Gending Sunyi Mengiringi Arwah Malam Di Candi Plaosan Tua post thumbnail image

Malam Sunyi di Antara Candi Kembar

Angin malam menyusup di celah batu Candi Plaosan ketika Dara menutup buku catatan lapangannya. Sebagai mahasiswa arkeologi tingkat akhir, ia datang untuk meneliti relief dan struktur candi kembar itu, bukan untuk memeriksa gosip tentang gending arwah yang sering diceritakan warga. Namun, sejak senja tadi, suasana halaman candi terasa terlalu sunyi bahkan untuk situs bersejarah yang sudah lama tidak dipakai beribadah.

Di kejauhan, lampu-lampu dari rumah warga hanya tampak sebagai titik kuning kecil, sementara kompleks candi tenggelam dalam abu-abu malam. Meskipun temannya sudah turun kembali ke penginapan, Dara memutuskan bertahan sedikit lebih lama karena ingin merapikan sketsa. Sementara itu, di sudut telinganya, ia seperti mendengar sesuatu yang sangat pelan, mirip nada gamelan yang tertiup jauh oleh angin.

Awalnya ia mengira itu suara dari desa, tetapi nadanya terlalu halus, terlalu teratur, dan terlalu… tua. Setiap ketukan seolah mengisi ruang kosong di antara stupa dan arca. Perlahan, sebaris melodi muncul, mengalun turun naik seperti langkah penari yang bergerak di atas lantai batu. Walaupun ia mencoba mengabaikannya, dada Dara bergetar seirama, seakan tubuhnya secara naluriah mengenali gending arwah yang belum pernah ia dengar secara sadar.


Peringatan dari Juru Kunci Tua

Beberapa jam sebelumnya, Dara dan temannya sempat berbincang dengan Pak Sastro, juru kunci candi yang sudah puluhan tahun tinggal di sekitar Plaosan. Lelaki tua itu bertubuh kurus, namun matanya tajam ketika membahas aturan tak tertulis di kompleks candi. Menurutnya, ada area tertentu yang sebaiknya tidak didatangi setelah matahari benar-benar hilang, terutama lorong sempit di antara candi utama dan deretan candi perwara di sisi timur.

Saat itu, Dara menganggapnya sebagai bagian dari cerita lokal yang biasanya mewarnai situs-situs kuno. Walaupun begitu, nada suara Pak Sastro cukup berat ketika ia menyebut tentang gending arwah yang konon hanya terdengar oleh orang tertentu. Katanya, gending itu akan mengiringi arwah penari istana yang terbunuh di masa lalu, ketika keraton sedang goyah dan intrik saling menelan korban.

“Kalau sampai dengar, jangan ikuti sumber suaranya,” kata Pak Sastro sambil menatap lurus. “Karena gending itu tidak dimainkan untuk orang hidup. Itu untuk yang masih menari di antara batu, menunggu giliran dipanggil kembali.”

Dara tersenyum waktu itu, mencoba menghormati tanpa mempercayai sepenuhnya. Namun, sekarang ketika malam menebal dan nada-nada halus merambat di antara patung-patung, peringatan itu kembali utuh di benaknya, seperti baru saja diucapkan.


Nada yang Muncul dari Lorong Gelap

Ketika jam di ponselnya menunjukkan hampir pukul sebelas, Dara menutup tas dan bersiap turun. Akan tetapi, nada gamelan itu justru semakin jelas. Sementara itu, udara yang tadinya hangat berubah sedikit lebih dingin, membuat kulit lengannya merinding. Di sela suara jangkrik, bunyi saron dan demung samar terdengar saling menjawab.

Ia berdiri pelan, memandang ke arah yang menurut telinganya menjadi sumber suara. Lorong antara candi utama dan deretan candi kecil tampak lebih gelap daripada bagian lain kompleks. Meskipun bulan berada cukup tinggi, cahaya seolah enggan masuk ke celah itu. Di dalam hati, ada bagian yang memerintahnya kembali ke penginapan. Namun, sisi penasaran sebagai peneliti justru menguat, mendorongnya mengambil langkah kecil ke depan.

“Paling cuma speaker dari rumah warga,” ia berbisik pada diri sendiri. “Atau mungkin latihan karawitan.”

Namun, semakin ia mendekat ke lorong, semakin jelas terasa bahwa suara itu tidak datang dari kejauhan. Nada-nada gending arwah justru terdengar seolah dipukul di ruang sempit di hadapannya. Bahkan, getaran halusnya menyentuh dada dan tulangnya, seperti bunyi yang keluar dari batu itu sendiri, bukan dari alat musik.


Relief yang Terlihat Bergerak

Dinding lorong dipenuhi relief yang selama ini Dara pelajari dengan hati-hati. Adegan penari, pengiring raja, dan para dewa tertatah rapi, membeku dalam gerak yang setengah selesai. Biasanya, ia akan mengamati detail ini dengan senang hati. Namun, malam itu, setiap wajah batu tampak berbeda.

Sementara gending terus mengalun, mata relief penari seolah berkilat lembap. Kedua tangan batu yang semula diam kini tampak bergeser sedikit, seolah baru saja menyelesaikan mudra. Walaupun akalnya menolak, matanya terus menangkap ilusi gerak itu. Bahkan, tekstur kain batu yang dipahat halus tampak berkibar, seperti mengikuti alunan gending arwah yang menghentak pelan.

Dara berhenti di tengah lorong. Di depan, ruang kecil terbuka di persimpangan, biasanya ia jadikan titik foto. Namun, kini tempat itu seperti panggung kecil yang menunggu pemain. Di sudut penglihatan, sekelebat bayangan putih lewat, menempel pada dinding seperti pantulan, bukan tubuh. Ketika ia menoleh, bayangan itu menghilang, menyisakan hanya relief penari yang kembali diam.


Sosok Penari Tanpa Bayangan

Tak lama kemudian, gending berubah tempo. Ketukan gong tak terdengar, namun nada lain menjadi lebih cepat, seolah bagian dari tarian yang lebih intens. Di saat yang sama, udara di depannya beriak halus, seperti panas di atas aspal siang hari. Dari riak itu, sebuah bentuk perlahan muncul: perempuan berkemben dengan kain panjang, rambut disanggul tinggi, dan hiasan kepala halus yang berkilat redup.

Perempuan itu melangkah ke arah Dara tanpa suara. Kakinya tidak sepenuhnya menyentuh tanah, namun gerakannya sangat anggun. Setiap kali tangan halusnya diangkat, gending menguat seolah menjawab. Yang membuat Dara semakin takut adalah fakta bahwa sosok itu tidak memiliki bayangan di lantai batu. Sementara relief di dinding memantulkan bentuk samar, lantai tetap kosong, seolah menolak kehadirannya.

Dara hendak mundur, tetapi kakinya seperti tertanam. Penari itu berhenti hanya beberapa langkah di depannya. Wajahnya cantik, namun pucat dengan mata yang terlalu gelap. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi yang keluar hanya hembusan dingin yang membawa aroma kemenyan basi. Saat penari itu kembali mengangkat tangan, nada gending arwah menghantam lorong begitu kuat hingga dada Dara terasa sesak.


Rahasia Luka Cinta dari Masa Silam

Suara lain lalu menyusup di sela gending: bisikan lirih yang terdengar seperti doa sekaligus ratapan. Kata-katanya terputus-putus, tetapi Dara menangkap beberapa nama dan istilah: raja, permaisuri, pengiring, pengkhianatan. Semakin ia fokus, semakin jelas terbentuk gambaran cerita dalam pikirannya, seolah ada yang menyalurkan kenangan tua langsung ke dalam kepalanya.

Dalam kilasan itu, ia melihat seorang penari istana yang jatuh cinta pada pangeran muda. Perasaan mereka tak pernah diizinkan tumbuh karena perbedaan derajat. Namun, keduanya tetap bertemu diam-diam di dekat bangunan yang kelak menjadi Candi Plaosan. Ketika hubungan mereka terbongkar, murka istana datang cepat. Pangeran dikawinkan dengan putri kerajaan lain demi politik, sedangkan sang penari dijatuhi hukuman yang tidak tercatat dalam prasasti mana pun.

Menurut bayangan samar itu, penari tersebut dipaksa menari terakhir kalinya di antara bangunan batu yang belum rampung, diiringi gending arwah yang khusus diciptakan untuk mengantar jiwanya. Setelah tarian berakhir, tubuhnya hilang tanpa makam, sementara gending tersebut dilarang dimainkan lagi. Walaupun begitu, melodi itu tampaknya tetap menggantung di udara Candi Plaosan, menunggu telinga yang cukup peka untuk mendengarnya.


Tanda di Kulit dan Bunyi Lingsir

Dara tersentak ketika merasakan dingin menusuk di pergelangan tangannya. Ketika ia menunduk, jari-jari penari tanpa bayangan itu telah menyentuh kulitnya. Sentuhan itu tidak mirip tangan manusia; lebih menyerupai air yang sangat dingin namun padat. Seketika, gending yang tadi hanya terdengar di kepala kini menggelegar di seluruh tubuhnya.

Pada saat yang sama, di tempat lain di kompleks candi, lonceng kecil di dekat pintu masuk berdentang sekali, padahal tidak ada angin. Suara jangkrik mendadak berhenti, menyisakan hanya melodi gending arwah yang mengembang dan menyelimuti. Kulit di sekitar pergelangan tangan Dara berubah pucat, lalu perlahan muncul pola samar seperti gelang dari garis-garis tipis, mirip ukiran di relief-relief candi.

Penari itu menundukkan kepala, seolah mengakui Dara sebagai sesuatu. Meskipun tidak ada kata yang terucap, Dara mengerti bahwa ia baru saja menerima semacam tanda, entah sebagai saksi atau sebagai pengganti. Ketika ia mencoba menarik tangannya, penari itu tersenyum tipis, senyum yang tidak hangat, tetapi lega, seperti orang yang akhirnya menemukan orang lain untuk berbagi beban.


Pagi Hari dan Jejak yang Tertinggal

Subuh datang dengan cepat. Azan dari kejauhan memecah sisa kegelapan. Seketika, gending menghilang, penari lenyap, dan lorong kembali menjadi batu mati. Dara berdiri terhuyung, lalu pingsan di tengah lantai lorong. Beberapa jam kemudian, Pak Sastro menemukannya terbaring dingin namun masih bernapas, dengan ransel dan buku catatan tercecer di sekitar.

Ketika Dara siuman di rumah Pak Sastro, cahaya matahari sudah memenuhi ruangan. Lelaki tua itu duduk di sampingnya dengan wajah cemas. Ia bercerita menemukan Dara sendirian ketika hendak membuka gerbang pagi-pagi. Namun, yang membuatnya semakin khawatir adalah pola di pergelangan tangan Dara yang tampak seperti bekas gelang ukiran, padahal semalam gadis itu tidak memakai apa pun.

Dara mencoba menjelaskan tentang penari dan gending arwah, tetapi suaranya bergetar. Pak Sastro mendengarkan tanpa memotong, lalu menghela napas panjang. Menurutnya, beberapa puluh tahun lalu, seorang pemusik tradisional juga pernah mendengar gending yang sama. Orang itu kemudian menjadi obsesif, terus mencoba menuliskan kembali nada-nadanya sampai akhirnya ditemukan meninggal di dekat candi, dengan jari-jari membeku dalam posisi memukul gamelan.


Naskah Gending yang Tak Pernah Selesai

Beberapa hari setelah kejadian itu, Dara memutuskan menelusuri arsip lama di perpustakaan kecil desa. Di sana, ia menemukan map kusam yang berisi kertas-kertas berbau lembap. Tulisan tangan di lembaran itu tidak rapi, tetapi jelas berasal dari orang yang sangat mengerti notasi Jawa. Di bagian atas setiap lembar, tertulis judul yang sama: “gending arwah”.

Namun, not-not itu selalu berhenti di tengah komposisi. Bahkan, garis nada tampak tergesa, seperti penulisnya dihentikan mendadak. Di halaman terakhir, coretan menjadi tidak beraturan, lalu berhenti di satu titik hitam besar di ujung kertas, seolah pena menekan terlalu kuat sebelum patah. Dara merasakan pusing hanya dengan membaca notasi itu, seakan matanya tak sanggup menelusuri melodi sampai selesai.

Pak Sastro menyarankan agar naskah itu dikembalikan ke tempatnya dan tidak dibawa pulang. Meskipun begitu, Dara diam-diam menyalin beberapa baris pertama ke buku catatannya. Ia beralasan hanya ingin merekamnya sebagai data penelitian budaya takbenda. Namun, jauh di dalam hati, ia tahu ada dorongan lain: gending itu meminta untuk dikenang, dan tanda di pergelangan tangannya terus berdenyut setiap kali ia mendengar kata “arwah”.


Malam Terakhir dan Panggilan untuk Menari

Menjelang hari terakhir di Candi Plaosan, Dara bermaksud pulang lebih cepat. Namun, langit sore dipenuhi awan merah keunguan yang berat, seolah menahan matahari agar tidak turun terlalu cepat. Ketika senja menebal, tanda di pergelangan tangannya mulai berdenyut lagi, kali ini seirama dengan detak jantungnya.

Saat malam jatuh, musik itu kembali. Meskipun Dara berada di rumah Pak Sastro, alunan gending arwah menembus dinding kayu dengan jelas. Nada-nada yang kemarin hanya terdengar di lorong kini memenuhi seluruh ruangan. Bahkan, lampu gantung bergoyang pelan tanpa angin. Di sudut ruangan, bayangan panjang di lantai perlahan membentuk siluet penari yang sama, walaupun tidak ada sosok fisik di sana.

Dara berdiri tanpa sadar dan melangkah ke luar rumah. Sementara itu, Pak Sastro berteriak memanggilnya, namun suaranya terasa jauh. Kakinya bergerak mengikuti pola yang tidak ia pelajari, mengulang gerakan yang pernah dilakukan penari istana ratusan tahun lalu. Setiap kali ia mengangkat tangan, gending menguat. Setiap kali ia memutar tubuh, relief-relief candi di kejauhan seolah menoleh, memperhatikan.


Antara Hidup, Batu, dan Nada yang Menggantung

Keesokan paginya, warga menemukan Dara berdiri di tengah pelataran Candi Plaosan, tepat di antara dua candi utama. Ia tidak pingsan, tetapi matanya kosong menatap ke depan. Tanda di pergelangan tangannya kini tampak lebih jelas, berubah menjadi pola gelang lengkap seperti yang dipakai penari di relief. Ketika mereka membawanya turun, Dara hanya mengucapkan satu kalimat berulang-ulang:

“Belum selesai… gendingnya belum selesai…”

Sejak saat itu, Dara hidup, tetapi seakan sebagian dirinya tertinggal di antara batu candi. Sesekali, ia masih menulis tentang arsitektur Plaosan dan sejarahnya, namun setiap tulisan berakhir sama: dengan menyebut gending yang tak ada dalam katalog resmi mana pun. Sementara itu, beberapa pengunjung mengaku pernah mendengar gamelan samar ketika senja, padahal tidak ada pertunjukan di sekitar kompleks.

Pak Sastro akhirnya memutuskan menutup lorong tertentu setiap malam dan membatasi jam kunjungan. Ia tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi, namun ia berharap tidak ada lagi yang dipilih oleh gending arwah. Walaupun begitu, selama ada orang yang berdiri terlalu lama di antara dua candi, memandangi relief penari dan membayangkan gerakan mereka, melodi itu akan terus menggantung di udara, menunggu telinga lain untuk kembali mendengarnya.

Food & Traveling : Tips Aman Backpacking Solo ke Negara-Negara Asia Tenggara

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post