Awal Malam Sunyi di Desa Dieng
Gemerincing rantai besi meneror di malam sunyi Dieng telah menjadi cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi sebagian warga, itu hanyalah mitos yang menghibur anak-anak. Namun bagi mereka yang pernah mengalaminya, suara itu adalah peringatan bahwa batas dunia manusia dan dunia gaib sedang tipis.
Malam di Dieng selalu sunyi, hanya ditemani desiran angin dingin yang menyusup ke tulang. Rumah-rumah panggung berdiri berjajar, lampu minyak berkelip di balik tirai jendela. Namun, sejak tiga malam terakhir, suasana berubah. Suara gemerincing rantai besi terdengar jelas dari arah ladang kentang, lalu bergerak perlahan mendekati perkampungan.
Bima, seorang pemuda yang baru kembali dari perantauan, menganggap semua itu hanyalah ulah anak-anak nakal. Tetapi, malam itu ia memutuskan untuk membuktikan sendiri, bahwa suara itu tidak lebih dari sekadar angin yang bermain-main di telinga.
Langkah Pertama Menuju Kegelapan
Bima membawa senter tua dan jaket tebal. Udara di luar menusuk, seolah malam itu lebih dingin dari biasanya. Setiap langkah yang ia ambil di jalan tanah membuat suara kerikil berderik.
Semakin ia mendekati ladang, suara gemerincing rantai besi terdengar jelas, ritmis, seperti seseorang menyeret beban berat. Namun, tidak ada sosok yang terlihat.
Tiba-tiba, senter berkedip dan mati. Dalam kegelapan, Bima mendengar napas berat bercampur hembusan angin. Ia meraba tanah, mencoba mencari sumber suara. Lalu, sesuatu menyentuh kakinya. Bukan tangan, bukan hewan—tetapi ujung rantai dingin yang basah oleh embun.
Pertemuan dengan Sosok Berantai
Ketika Bima mencoba mundur, suara rantai semakin keras, diikuti langkah kaki berat yang datang dari arah kabut. Dari balik putihnya embun, muncul sosok tinggi dengan rantai melilit seluruh tubuhnya. Wajahnya tertutup kain hitam, hanya matanya yang tampak merah menyala.
“Pergi… sebelum kau ikut terikat…” suara berat itu terdengar seperti gema dari dalam sumur.
Bima terpaku, tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Rantai itu merayap seperti ular, melingkari pergelangan kakinya. Dalam sekejap, ia merasa tubuhnya menjadi berat, seolah ditarik ke dalam tanah.
Rahasia Lama yang Terungkap
Keesokan paginya, Bima ditemukan tergeletak di dekat ladang oleh warga desa. Ia tidak sadarkan diri, namun di kakinya terdapat bekas merah seperti lilitan besi.
Seorang tetua desa, Mbah Warto, akhirnya menceritakan rahasia lama. Puluhan tahun lalu, ada seorang penjaga penjara di Dieng yang dihukum mati karena membebaskan tahanan penting. Sebagai hukuman, jasadnya diikat dengan rantai besi dan dikubur di ladang yang kini digunakan warga. Konon, arwahnya masih berkeliaran, menyeret rantai itu untuk mencari pengganti yang akan terikat selamanya.
Malam Teror yang Memuncak
Malam berikutnya, warga mengadakan doa bersama. Namun, tepat tengah malam, suara gemerincing rantai besi kembali terdengar, kali ini dari tiga arah sekaligus. Lampu minyak berkedip, dan anjing-anjing menggonggong ke arah kabut.
Bima, yang masih lemah, bersikeras ikut keluar. Ia merasa suara itu memanggil namanya. Saat ia menatap kabut, sosok berantai muncul kembali—kali ini lebih dekat. Rantai- rantainya bergerak seperti hidup, melingkari pohon, pagar, bahkan menggantung di udara.
“Gantikan aku…” bisikan itu bergema di kepalanya.
Bima mencoba berlari, namun rantai menghantam tanah di depannya, memercikkan lumpur. Warga yang melihat berusaha menariknya masuk, tetapi rantai itu menempel di bahunya, meninggalkan bekas luka bakar yang dalam.
Akhir yang Tak Pernah Benar-Benar Usai
Sejak malam itu, suara gemerincing rantai besi di malam sunyi Dieng tidak pernah hilang. Bima akhirnya meninggalkan desa, tetapi kabar mengatakan ia sering terbangun tengah malam di perantauan, mendengar suara yang sama di luar jendelanya.
Warga desa pun hidup dengan aturan tak tertulis: tidak keluar rumah setelah suara rantai terdengar, dan tidak menatap kabut terlalu lama. Karena di balik kabut itu, sosok berantai masih mencari pengganti, dan malam di Dieng akan selalu menjadi panggung bagi gemerincing kematian.
Berita & Politik : Reformasi Birokrasi Indonesia Diuji di Era Digitalisasi