Awal Malam yang Sunyi
Pantai Pink Komodo selalu ramai pada siang hari, namun saat malam tiba, kesunyian menyelimuti pasir merah muda yang memantulkan cahaya bulan. Aku, seorang penulis cerita horor, memutuskan untuk menginap di tepi pantai, berharap menemukan inspirasi. Namun, malam itu jauh dari yang kubayangkan.
Pertemuan dengan Harpa Tua
Di tengah gelap, aku menemukan sebuah harpa tua tergeletak di dekat tepi pantai. Kayu harpa retak, senarnya berkarat, namun saat disentuh angin, terdengar desah harpa rusak yang menusuk telinga. Suara itu bukan musik, tapi jeritan yang menyayat kesadaran.
Bayangan yang Bergerak
Aku menoleh dan melihat bayangan samar bergerak di antara pepohonan bakau. Tidak ada siapa pun di sana, hanya gerakan gelap yang seolah menari mengikuti nada harpa yang merintih. Jantungku berdegup cepat, namun rasa ingin tahu mengalahkan ketakutan.
Kisah Belulang Terkubur
Seorang penduduk lokal, yang tiba-tiba muncul, memperingatkanku. “Harpa itu milik seorang musisi yang meninggal tragis di sini. Belulangnya terkubur di pasir. Desah harpa rusak muncul saat ada yang terlalu dekat.” Suaranya gemetar, dan aku merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Suara dari Dalam Pasir
Tiba-tiba, dari pasir, terdengar suara gemerisik seperti sesuatu merayap ke permukaan. Sebuah tangan keriput muncul, diikuti belulang yang perlahan terlihat jelas di cahaya bulan. Aku mundur, namun suara desah harpa rusak makin keras, seolah menuntut perhatian.
Jeritan Malam
Aku menutup telinga, tetapi jeritan itu menembus kepalaku. Semua belulang tampak bergerak seiring dengan suara harpa. Seolah mereka hidup kembali, menari dalam kegelapan pantai, menatapku dengan kosong, tapi penuh dendam.
Hantu Musisi
Sosok seorang musisi muncul, tubuhnya transparan namun wajahnya penuh kemarahan. “Kenapa kau mengganggu tempatku?” Suaranya serak, dan senar harpa yang rusak bergerak sendiri, menimbulkan desah harpa rusak yang menusuk hati. Aku hampir pingsan.
Pelarian yang Menegangkan
Aku berlari menembus pasir, namun bayangan-bayangan belulang mengikuti langkahku. Setiap kali aku berpaling, pantulan bulan menampilkan bentuk baru: belulang menari, tangan menuntut, dan wajah penuh kesakitan. Desah harpa rusak terus menghantui, menembus kesunyian malam.
Rahasia Pantai Pink
Keesokan harinya, penduduk lokal menceritakan legenda Pantai Pink. Setiap musisi yang gagal memenuhi janji, arwahnya tetap terperangkap dalam harpa rusak. Mereka muncul di malam purnama, menuntut perhatian, dan menghancurkan kedamaian siapapun yang mendekat.
Pelajaran yang Terambil
Aku akhirnya menulis cerita ini dengan tangan gemetar. Pengalaman desah harpa rusak yang menembus kesadaran mengajarkanku: beberapa tempat memang bukan untuk dijamah. Ada batas nyata yang tidak boleh dilampaui oleh manusia.
Flora & Fauna : Pelestarian Harimau Sumatera Masih Butuh Dukungan Nyata