Dendam Santet Membawa Celaka di Desa Cijulang Pandeglang

Dendam Santet Membawa Celaka di Desa Cijulang Pandeglang post thumbnail image

Awal Malapetaka di Desa Cijulang

Desa Cijulang di Kabupaten Pandeglang terkenal dengan suasananya yang tenang dan asri. Sawah-sawah terbentang, angin sore berhembus lembut, dan masyarakat hidup rukun. Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan kisah kelam tentang dendam santet yang membawa petaka besar bagi warga desa.

Semua berawal dari perselisihan kecil antara dua keluarga: keluarga Wiryo dan keluarga Samin. Awalnya, pertikaian hanya soal batas tanah, tapi semakin lama, kebencian tumbuh menjadi amarah yang tak terbendung. Dalam amarahnya, Wiryo menuduh Samin menggunakan ilmu hitam untuk merusak panennya. Tuduhan itu membuat Samin murka dan bersumpah akan membuktikan bahwa keluarganya tidak bersalah.

Sayangnya, desas-desus yang menyebar di kalangan warga justru memperkeruh suasana. Setiap kali ada kematian mendadak atau panen gagal, warga selalu mengaitkan dengan ilmu hitam. Hingga suatu malam, tragedi mengerikan benar-benar terjadi.


Tragedi di Malam Kelam

Malam itu, langit Cijulang mendung pekat. Kilat sesekali menyambar, dan hujan turun deras membasahi atap rumah. Wiryo, yang baru pulang dari sawah, mendapati anak gadisnya, Lestari, jatuh pingsan di depan pintu rumah dengan mata melotot dan tubuh kaku.

Warga segera berdatangan, membantu sebisanya. Namun, ketika seorang dukun tua datang memeriksa, wajahnya berubah pucat. Ia berbisik pelan, “Anak ini kena dendam santet. Ada ilmu hitam kuat yang dikirimkan padanya.”

Dalam hitungan jam, Lestari meninggal dengan cara mengerikan. Tubuhnya membiru, lidahnya terjulur, dan matanya menatap kosong. Suara tangisan pecah di rumah Wiryo malam itu. Sejak kematian itu, suasana desa berubah mencekam. Angin yang berhembus terasa berat, dan bayangan hitam kerap terlihat melintas di antara kebun jeruk yang tak jauh dari rumah keluarga Wiryo.


Misteri Kebun Jeruk yang Angker

Beberapa hari setelah pemakaman Lestari, warga mulai melaporkan hal-hal ganjil. Di kebun jeruk, tempat gadis itu sering bermain, sering terdengar suara tangisan di malam hari. Tak jarang, warga yang melintas malam-malam melihat sosok perempuan berpakaian putih duduk di bawah pohon, menunduk dengan rambut panjang menutupi wajah.

Suatu malam, seorang pemuda bernama Darto yang nekat melintasi kebun itu untuk jalan pintas, mendengar suara lirih memanggil namanya.
“Darto… tolong aku…”
Suaranya begitu pelan namun menggema di telinga. Darto berhenti, menoleh ke arah suara, dan melihat sosok Lestari berdiri di antara pohon jeruk. Wajahnya pucat, darah menetes dari bibirnya, dan matanya memandang kosong.

Ketakutan membuat Darto berlari sekencang-kencangnya. Tapi semakin ia berlari, semakin terasa langkah-langkah di belakangnya. Begitu sampai di rumah, ia jatuh pingsan. Keesokan harinya, Darto ditemukan demam tinggi dan hanya menggumam satu kata: “Lestari…”


Dukun dan Rahasia Lama

Kematian Lestari dan munculnya arwah gentayangan membuat warga meminta bantuan pada Ki Mulyo, seorang dukun sepuh yang dikenal bijak. Ki Mulyo mengumpulkan warga dan berkata, “Ini bukan sekadar arwah penasaran. Ini kutukan dari dendam santet yang belum terselesaikan.”

Ki Mulyo kemudian memeriksa lokasi kebun jeruk dan menemukan benda aneh di bawah salah satu pohon tua: boneka jerami berlumur darah kering dan potongan rambut manusia. Ia yakin itu adalah media santet yang dikubur oleh seseorang.

Setelah melakukan ritual pembersihan, Ki Mulyo berkata, “Seseorang telah mengirim santet balasan pada keluarga Wiryo. Dendam lama ini harus dihentikan, atau seluruh desa akan terkena imbasnya.”

Namun, meski ritual dilakukan, kejadian mistis tak berhenti. Bahkan, arwah Lestari mulai menampakkan diri di rumah warga lain. Bayangannya terlihat di kaca jendela, suaranya terdengar di kamar anak-anak, dan kadang pintu rumah terbuka sendiri tanpa sebab.


Teror Menyebar di Setiap Malam

Seiring waktu, rasa takut menyelimuti desa. Warga enggan keluar malam, hewan ternak mati mendadak, dan tanaman layu tanpa alasan. Setiap malam Jumat, suara tangisan terdengar di antara kebun jeruk, disertai aroma bunga melati yang menusuk hidung.

Beberapa warga mencoba melawan dengan membaca doa dan memasang pagar gaib. Namun, tak ada yang benar-benar terbebas dari gangguan. Bahkan, keluarga Samin pun ikut merasakan hal aneh. Anaknya mengalami mimpi buruk berulang kali, melihat sosok Lestari meminta pertolongan.

Dendam itu seolah tidak memilih korban, menebar celaka pada siapa pun yang terlibat atau bahkan sekadar tahu tentang konflik tersebut.


Pengakuan yang Tersembunyi

Suatu malam, Samin datang ke rumah Ki Mulyo dengan wajah penuh penyesalan. Ia mengaku bahwa dahulu, karena terdesak amarah dan fitnah, ia memang pernah meminta bantuan seorang dukun jahat untuk mengirim santet pada keluarga Wiryo. Namun, niatnya hanya untuk menakut-nakuti, bukan membunuh.

Namun, santet itu berbalik arah, menyerang Lestari yang hatinya bersih. Akibatnya, arwah gadis itu kini terjebak di antara dunia, tak bisa tenang karena kematiannya bukan kehendak Tuhan, melainkan akibat ilmu hitam.

Ki Mulyo mendengarkan dengan tenang, lalu berkata, “Penyesalanmu datang terlambat, tapi masih ada cara. Kau harus meminta maaf secara spiritual pada arwah Lestari dan keluarganya.”


Ritual Permohonan Maaf dan Arwah yang Tenang

Malam purnama berikutnya, warga berkumpul di kebun jeruk. Ki Mulyo memimpin ritual panjang dengan dupa, air suci, dan doa-doa pemanggil arwah. Samin berlutut, menangis, dan memohon ampun di hadapan foto Lestari.

Udara terasa berat. Angin berputar kencang, dedaunan bergetar, dan dari kegelapan, muncul sosok Lestari. Ia berdiri di antara kabut, matanya masih sayu, namun kali ini tak lagi penuh amarah. Perlahan, ia mendekat pada Samin, menyentuh pundaknya, lalu berbisik lirih, “Aku memaafkanmu…”

Setelah kata itu terucap, sosok Lestari lenyap dalam cahaya lembut. Angin berhenti, suasana kembali tenang, dan aroma melati berganti harum dupa. Warga menatap langit malam dengan lega, karena untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, tak ada lagi suara tangisan di kebun jeruk.


Akhir yang Penuh Pelajaran

Sejak malam itu, Desa Cijulang kembali damai. Kebun jeruk tumbuh subur, panen melimpah, dan warga kembali hidup rukun. Kisah dendam santet yang membawa celaka kini menjadi peringatan bagi semua: bahwa amarah dan ilmu hitam hanya akan menimbulkan penderitaan.

Samin dan keluarga Wiryo akhirnya berdamai, bahkan menanam pohon jeruk bersama sebagai tanda persahabatan baru. Meski begitu, setiap malam purnama, warga tetap menyalakan dupa dan berdoa di kebun jeruk—sebagai penghormatan bagi arwah Lestari yang pernah menjadi korban dendam manusia.

Flora & Fauna : Ancaman Sampah Plastik Terhadap Ikan dan Biota Laut

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post