Prolog: Undangan dari Hutan Purwo
Malam itu langit ditutup awan tebal ketika Della dan Rafi menginjakkan kaki di gerbang Alas Purwo. Selama ini mereka hanya memandang dari jauh, namun kali ini nyali mereka terpicu oleh cahaya hijau misterius yang santer terdengar muncul di wilayah “Pohon Serem”. Menurut kabar masyarakat sekitar, cahaya itu menari di antara ranting kering dan memanggil siapa saja yang cukup nekat mengikuti jejaknya.
Tanpa berpikir panjang, keduanya menyalakan senter dan memulai langkah ke dalam hutan lebat. Sepanjang jalan setapak, udara dingin menusuk hingga ke tulang, sementara suara jangkrik teredam oleh desah angin yang berulang kali mengabarkan sesuatu yang tak kasat mata.
Jejak Pertama ke Pohon Raksasa
Setelah berjalan hampir setengah jam, mereka tiba di sebuah lapangan kecil dikelilingi pohon-pohon tinggi. Di tengah lapangan, berdiri satu batang pohon besar—cabangnya menjuntai seperti lengan mayat. Di sanalah terlihat cahaya hijau misterius, berpendar lembut di sela-sela kulit pohon.
Rafi mendekat dan mengusap permukaan kulit pohon yang berkerut. Di titik itu, senter Della memantulkan rona kehijauan seperti minyak bercampur air. Tanpa peringatan, muncul bisikan lembut:
“Tolong… bebaskan aku…”
Della menahan napas dan merasakan bulu kuduk berdiri. Bisikan itu terulang, semakin mendesak. Kata “tolong” bergema seperti hati pohon berderak memanggil.
Kedalaman Akar dan Tanda Gerakan
Kemudian, Rafi tanpa sengaja menginjak akar pohon yang menonjol ke permukaan. Tanah retak, dan lampu senter mereka menyorot gua sempit di pangkal pohon. Dari dalam celah itu terlihat sekilas mata merah menyala.
Della bergidik, namun rasa penasaran makin menggila. Mereka merunduk, menancapkan kamera saku untuk merekam. Seketika, terdengar langkah tertahan—seperti ranting patah di dalam gelap. Tanpa menunggu lama, mereka mundur beberapa langkah, bersiap lari jika situasi memaksa. Namun suara itu justru memanggil kembali, “Jangan pergi…”
Legenda Pohon Serem dan Roh Purba
Menurut penduduk desa sekitar, dulunya sebuah suku kuno memuja hutan Alas Purwo. Pohon besar ini dianggap gerbang ke dunia lain. Mereka menanam sesajen: kerang laut, manik-manik, dan bunga melati. Namun saat penjajah datang, ritual terputus, dan roh pelindung terperangkap di balik kulit kayu. Sejak itu, muncul cahaya hijau misterius—pertanda roh itu berusaha meminta pertolongan.
Lebih lanjut, warga sering mendengar suara kidung kuno pada malam Jumat Kliwon, diselingi rintihan pilu yang terombang-ambing di kegelapan.
Pertemuan pada Malam Jumat Kliwon
Della dan Rafi memutuskan kembali tepat malam Jumat Kliwon berikutnya, membawa sesajen sederhana: sebuket bunga kenanga, telur ayam kampung, dan semangkuk nasi. Pukul dua dini hari, kabut turun, dan pohon tersorot lampu senter memancarkan cahaya kehijauan.
Mereka menaburkan bunga dan menempatkan nasi di pangkal pohon. Lalu, Della membacakan doa singkat untuk roh yang terperangkap. Sekali lagi, terdengar bisikan samar:
“Terima kasih… kini aku bebas…”
Seketika, sekilas bayangan putih menari mengelilingi mereka, lalu menyelimuti pohon raksasa. Aroma melati memenuhi udara, menggantikan bau lembap tanah busuk. Setelah itu, cahaya hijau perlahan meredup, hingga pohon kembali gelap.
Pengungkapan Misteri dan Peringatan
Pada pagi hari, mereka menemukan prasasti batu kecil—seolah muncul dari tanah—terpahat relief sosok perempuan berpakaian tradisional dengan tangan terborgol. Teks kunonya sulit dibaca, namun potongan tulisan menyebutkan:
“Harnika, pelindung hutan, terperangkap karena sumpah terlanggar. Bebaskan dia lewat sesajen dan doa…”
Della dan Rafi menyadari bahwa ritual mereka berhasil memulihkan keseimbangan. Namun, prasasti juga memperingatkan:
“Siapa yang mengganggu lagi, akan menemui akhir kelam di bawah akar pohon ini.”
Epilog: Warisan Cahaya dan Ketakutan
Sejak kejadian itu, cahaya hijau misterius tak pernah muncul lagi. Namun cerita tentang roh Harnika menyebar luas, membuat orang tak berani mendekat. Beberapa petualang yang mencoba kembali hanya menemukan sisa bunga kenanga yang membusuk dan satu telur retak.
Sementara itu, pohon Serem Alas Purwo tetap berdiri—sebuah monumen alam yang menyimpan kisah pilu dan kemenangan roh purba. Bagi Della dan Rafi, pengalaman itu selamanya terpatri sebagai pertemuan antara dunia manusia dan gaib, di bawah sinar hijau yang menolak untuk dilupakan.
Food & Traveling : Kopi dan Budaya: Perjalanan Menyusuri Warung Nusantara