Boneka Jenglot Menari di Tengah Jalan Malioboro Ini

Boneka Jenglot Menari di Tengah Jalan Malioboro Ini post thumbnail image

Awal Keanehan di Malioboro

Malioboro, pusat keramaian Yogyakarta yang tak pernah tidur, malam itu terasa berbeda. Lampu-lampu jalan berkelap-kelip redup, seperti kelelahan. Pedagang kaki lima satu per satu menutup lapaknya lebih awal karena hujan tipis mulai turun. Namun di antara sisa langkah pejalan kaki, seorang pemuda bernama Arga, mahasiswa seni rupa, masih duduk di trotoar sambil menggambar.

Ia baru saja menyelesaikan sketsa penari tradisional ketika matanya menangkap sesuatu di seberang jalan—sebuah boneka kecil berambut panjang dan kering, dengan mata merah berkilat, duduk diam di tengah aspal yang basah.
Awalnya ia mengira itu mainan yang terjatuh. Tapi saat lampu jalanan redup sesaat, boneka itu bergerak.

Tubuh mungilnya mulai bergetar pelan, lalu tangannya terangkat perlahan—seolah menari mengikuti irama yang tak terdengar. Arga terpaku. Ia baru sadar bahwa apa yang ia lihat bukanlah mainan biasa, melainkan boneka jenglot, benda mistik yang menurut legenda meminum darah manusia sebagai penebus hidupnya.


Kisah Lama dari Penjual Dupa

Keesokan harinya, rasa penasaran membuat Arga kembali ke lokasi. Boneka itu sudah tidak ada. Namun ketika ia membeli kopi di warung kecil dekat titik tersebut, penjual dupa tua di sebelah warung memandangnya tajam.

“Kau melihatnya, ya?”
“Melihat apa, Pak?”
“Boneka jenglot yang menari di tengah jalan itu.”

Arga tercekat. “Bapak tahu?”

Si penjual dupa, yang memperkenalkan diri sebagai Pak Darmo, menatap jalan kosong dengan wajah muram.

“Jenglot itu bukan sembarang benda. Itu jelmaan arwah dukun yang gagal mencapai keabadian. Setiap tahun, pada malam tertentu, ia menari mencari tubuh baru untuk ditinggali.”

Menurut Pak Darmo, jenglot itu dulu ditemukan di pasar loak oleh seorang pedagang yang mencoba menjualnya kepada turis asing. Namun sejak malam itu, pedagang tersebut hilang tanpa jejak, dan boneka jenglot sering terlihat menari di tengah Malioboro menjelang dini hari.

Arga menelan ludah. Ia tak percaya sepenuhnya, tapi hatinya gelisah. Dalam pikirannya, wajah jenglot itu masih jelas—kecil, berambut hitam panjang, dengan gigi tajam mengintip dari bibir yang membatu.


Malam yang Kedua: Langkah yang Mengikuti

Tiga hari kemudian, Arga kembali ke Malioboro, kali ini membawa kamera. Ia ingin membuktikan bahwa semua itu hanya ilusi.
Sekitar pukul dua dini hari, jalanan benar-benar sepi. Hanya ada sisa lampu toko dan suara angin. Arga menyiapkan tripod dan menunggu.

Setelah beberapa menit, suhu udara tiba-tiba turun drastis. Ia melihat kabut tipis muncul dari arah utara. Dari dalam kabut itu, muncul sosok kecil yang berjalan perlahan—jenglot yang sama, rambutnya basah, matanya memantulkan cahaya lampu jalan.

Jenglot itu berhenti di tengah jalan, lalu mulai menari.

Gerakannya aneh dan tak beraturan, seperti tubuh boneka yang digerakkan tali halus. Arga menekan tombol rekam dengan tangan gemetar. Namun tiba-tiba layar kameranya berkedip, menampilkan gangguan.
Ketika ia melihat langsung, jenglot itu tidak ada.
Hanya ada bayangan kecil yang menatap dari pantulan kaca toko di belakangnya—bayangan dirinya sendiri… tapi sedang menari.

Arga panik. Ia menutup kamera dan berlari. Tapi langkah kakinya bergema dua kali lebih cepat, seolah ada seseorang—atau sesuatu—yang menirukan gerakannya dari belakang.


Penari Tanpa Wajah di Dalam Cermin

Keesokan paginya, Arga memeriksa rekaman di laptopnya. Semua video normal—kecuali satu file berdurasi 13 detik.
Dalam video itu, terlihat dirinya sedang menatap kamera, tapi di belakangnya ada sosok penari kecil tanpa wajah yang bergerak lambat, mengikuti irama gamelan samar yang tidak pernah ia dengar malam itu.

Ia mencoba memutar ulang, tapi file itu tiba-tiba terhapus sendiri. Lalu layar laptopnya menjadi gelap, dan suara perempuan berbisik terdengar:

“Aku belum selesai menari, Arga…”

Arga terpaku. Ia membanting laptopnya dan segera pergi ke rumah Pak Darmo.


Rahasia Darah dan Persembahan

Pak Darmo terkejut mendengar cerita Arga. Ia berkata dengan serius,

“Kau sudah terikat dengan roh jenglot itu. Ia menandai orang yang melihat tariannya tiga kali. Setelah tanda terakhir, ia akan mengambil darahmu.”

Arga menatap tangannya. Ada bekas goresan kecil di pergelangan—bekas yang tak ia sadari sebelumnya. “Lalu apa yang harus saya lakukan?”

Pak Darmo mengambil seikat dupa dan sebuah botol kecil berisi air hitam.

“Kau harus kembali ke sana malam ini, dan biarkan aku ikut. Kita harus menyelesaikan tariannya sebelum ia menyelesaikanmu.”


Malam Terakhir di Malioboro

Malam itu, Malioboro benar-benar sunyi. Tidak ada turis, tidak ada pedagang. Hujan gerimis turun pelan, menambah kesan mencekam. Pak Darmo menyalakan dupa dan menggambar lingkaran di tengah jalan, lalu berbisik dalam bahasa Jawa kuno. Arga berdiri di tengah lingkaran, menggenggam air hitam itu.

Tepat pukul tiga dini hari, dari arah selatan, terdengar langkah kecil—berulang dan cepat. Kabut tebal muncul lagi, dan dari dalamnya tampak boneka jenglot berjalan perlahan menuju mereka.

Matanya menyala merah, rambutnya bergerak seperti ular, dan tubuhnya mulai menari. Tapi kali ini, di antara gerakannya, terdengar bisikan ratusan suara:

“Darah… persembahan… tubuh baru…”

Jenglot itu berputar cepat, lalu berhenti tepat di depan Arga. Ia menatapnya dengan tatapan kosong, lalu tertawa kecil—suara yang terdengar seperti logam bergesekan.
Pak Darmo berteriak, “Sekarang! Tuangkan airnya!”

Arga mengguyurkan air hitam itu ke arah jenglot. Untuk sesaat, semuanya berhenti. Tapi tiba-tiba, jenglot menjerit, tubuhnya meregang, dan ratusan wajah kecil muncul dari kulitnya, menangis dan menjerit minta dilepaskan.


Kutukan yang Tak Selesai

Lingkaran dupa padam. Angin bertiup kencang, meniupkan abu ke arah mereka. Ketika asap menghilang, jenglot itu lenyap. Namun di tanah, Arga melihat patung kecil dirinya sendiri, terbuat dari tanah hitam dan rambut—menatapnya dengan ekspresi yang sama.

Pak Darmo gemetar.

“Ia telah memilih tubuh barunya… Kau tidak akan bisa pergi dari tempat ini.”

Arga berusaha menolak, tapi tubuhnya mulai kaku. Matanya kabur, telinganya berdengung. Ia melihat bayangan dirinya di etalase toko—dan dalam pantulan itu, dirinya sedang menari, sementara tubuh aslinya berdiri diam.

Perlahan, ia sadar: yang menari itu bukan lagi bayangan.


Penemuan di Pagi Hari

Pagi hari, polisi menemukan tubuh seorang pemuda di tengah jalan Malioboro, berdiri kaku dengan posisi tangan terangkat seperti penari wayang. Di dekatnya, ada boneka kecil dengan wajah serupa dirinya.
Saksi mata mengatakan mereka mendengar suara gamelan pelan di sekitar lokasi, padahal tidak ada pertunjukan di mana pun.

Setelah kejadian itu, warga sekitar menghindari berjalan di Malioboro selepas tengah malam. Mereka mengatakan terkadang terlihat bayangan kecil menari di tengah jalan, dan suara tawa lirih terdengar di antara hembusan angin.

“Kalau kau dengar gamelan tanpa pemain, jangan menoleh,” kata salah satu pedagang kaki lima.
“Karena jenglot itu sedang mencari penari barunya.”


Epilog: Catatan dari Perekam Jalan

Sebulan kemudian, seorang fotografer jalanan bernama Revi tanpa sengaja merekam sesuatu di kamera CCTV toko miliknya. Dalam rekaman malam itu, terlihat sosok Arga berjalan di trotoar, berhenti di tengah jalan, lalu mulai menari pelan di bawah lampu jalan yang berkedip.

Beberapa detik kemudian, dari bawah tubuhnya muncul boneka kecil berambut panjang yang ikut menari bersamanya. Lalu keduanya hilang bersamaan dalam kilatan cahaya merah.

Revi tak pernah membuka tokonya lagi. Kamera itu kini disimpan di gudang, dan setiap kali dinyalakan, terdengar suara gamelan samar—mengiringi bayangan kecil yang menari di layar.

Sejarah & Budaya : Warisan Lisan Nenek Moyang yang Perlu Didokumentasikan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post